• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Ketika Surau dan Rumah Gadang Tidak Lagi Bersuara

30 November
17:31 2019
0 Votes (0)

KBRN, Padang :Negeri yang cantik dengan pesona alamnya  yang menawan senantiasa menggiring mata, tidak pernah jemu  menatap indahnya.  Saat menapakkan kaki ke Ranah Minang,  rasa penasaran berkecamuk hebat dalam pikiran. Terbayang seketika  rendangnya nan  gurih, terbayang pula rumah gadang yang memukau, serta Jam Gadang yang dipajang di Kota Wisata,  Bukittinggi. Kesemua  membaur dalam kenangan, menciptakan rasa rindu yang sewaktu-waktu menggelitik angan untuk sering  bertandang ke Ranah Minang.

Namun beberapa waktu terakhir ini, kenangan manis akan Ranah Minang mulai terusik. Penangkapan  4 terduga teroris  pada tiga daerah yakni Sumatera Utara,  Sumatera Barat dan Jawa Barat  bulan  Oktober lalu,  ibarat cambuk bagi  ketiga daerah khususnya  Sumatera Barat  agar  setiap waktu berbenah,   meningkatkan kewaspadaan terhadap aksi teror yang meresahkan masyarakat.

Gambaran orang-orang tentang Sumatera Barat yang dikenal  sebagai  negeri yang  aman, masyarakatnya hidup sejahtera, seakan mengaburkan opini yang telah terbentuk sebelumnya.

Terkait hal itu, Kepala  Bidang  Media Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme – FKPT Sumatera Barat, Eko Yancge Edrie  menegaskan, paham radikal tidak memilih kawan dan lawan. Radikalisme bisa  tumbuh dan bersarang di mana pun, tergantung pemahaman dan daya serap masyarakat  menyikapi pengaruh dan konten-konten yang  kini bergulir pesat  di dunia maya.

Eko Yanche Edrie  menegaskan,  sejauh ini  belum ada bukti yang menyatakan paham radikal disemai di Sumatera Barat.  Radikalisme jelas Eko Yanche  disemai di luar daerah dan setiap waktu mengincar daerah-daerah yang telah dipetakannya. Sumatera Barat telah mempersiapkan diri jauh hari. Senjata andalan Sumatera Barat   dalam    menangkis  pengaruh radikal dan aksi teror tidak berwujud benda atau pun senjata.

Surau dan rumah gadang memiliki peran dominan  dalam menbentuk karakter d anak – anak di Minangkabau. Sedari kecil, anak dibekali pendidikan keagamaan, perilaku bertutur kata yang sopan dan  seni bela diri. Surau di Minangkabau ibarat dapur yang dari awal menggodok anak hingga  bisa  tampil sebagai sosok yang tangguh, tunduk dan patuh kepada Pancasila, mencintai NKRI dan kebhinnekaan dalam tatanan kehidupan berbangsa  dan bernegara.

Dalam  khasanah filosofi budaya Minangkabau  sebagaimana ditegaskan Ketua Bundo Kanduang Sumatera Barat, Prof. Puti Reno Raudhah Thaib, surau memiliki peran penting dalam struktur sosial kehidupan  masyarakat di Minangkabau. Tidak semata dianggap lembaga keagamaan, namun dilengkapi  fungsi surau  sebagai transformasi nilai-nilai budaya dan agama dalam kehidupan masyarakat daerah.

“Pendidikan yang diajarkan di surau sarat dengan nilai karakteristik mencakup tiga bidang keilmuan yakni ilmu agama, adat dan silat,” papar Ketua Bundo Kanduang Sumatera Barat, Puti Reno Raudhah Thaib kepada RRI, Kamis, (28/11/2019).

Di surau, anak diajari pokok-pokok akidah, budi pekerti yang luhur  dan penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat. Selain pembelajaran agama, anak juga dibekali pengetahuan dan wawasan tentang adat istiadat. Sejatinya surau menggembleng anak berakhlak,  bertutur kata sopan, bertingkah laku  baik serta  memelihara nilai kesantunan  dalam pergaulan sehari-hari.

Begitu kuatnya adat   mengikat karakter  anak yang  lahir dan dibesarkan di Minangkabau.  Pendidikan surau mengajarkan anak tentang banyak hal, salah satunya adat berbicara dengan orang lain, baik  dengan orang yang lebih tua, lebih muda atau seumuran.  Intinya, surau mewariskan kepada anak, pembelajaran tentang banyak hal, termasuk seni bela diri, silat. Namun seiring berkembangnya zaman  dengan penerapan  teknologi yang semakin canggih,  surau pun  mulai dilupakan. Peran ninik mamak, alim ulama dan cadiak pandai lagi-lagi menjadi sorotan publik.

“Sudah saatnya  merangkul  anak kembali ke surau, menghidupkan fungsi surau sebagai ruang beraktifitas, menggali wawasan dengan ragam kreatifitas yang  ditonjolkan,” ungkapnya.

Senjata andalan lainnya  yang Sumatera Barat tonjolkan untuk meredam gempuran pengaruh radikalisme adalah memaksimalkan  peran kaum perempuan.  Perempuan di Minangkabau memiliki prean strategis dan mengedepan dalam berbagai hal.

Bertolak darti realita tersebut, peran ibu di lingkup rumah tangga memegang kendali strategis. Didikan seorang ibu umumnya  tercermin dalam perilaku keseharian anak.

Dalam perumpamaannya, ibu penunjuk jalan bagi anak sehingga tidak berlebihan jika pendidikan anak di Sumatera Barat didominasi nilai-nilai pembelajaran yang diperoleh dari seorang ibu. Sejatinya, tidak seorang pun  ibu di muka bumi ini yang rela melihat anaknya terluka,  apalagi  melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan hukum yang pada akhirnya menghancurkan masa depan anak.

Sangatlah bijaksana jika  pemerintah Republik Indonesia dewasa ini mengikutsertakan kaum perempuan di Minangkabau dalam pencegahan  paham radikal dan aksi teror yang  meresahkan masyarakat di berbagai daerah.

Hal senada diungkapkan Komandan Lanud Sutan Sjahrir, Kolonel Penerbang Purwanto Adi Nugroho. Laju perkembangan teknologi dengan berbagai pengaruh yang mengincar generasi muda diibaratkan pedang bermata dua.

Generasi muda harus bijak menyikapi perkembangan teknologi dewasa ini sekaligus membentengi diri dengan ragam pengetahuan dan wawasan kebangsaan yang berisikan semangat nasionalisme dan jiwa patriotisme. Kecintaaan terhadap negeri harus selalu ditanamkan  melalui kekuatan dan  pertahanan benteng budaya lokal.

Pembekalan wawasan kebangsaan gencar dilakukan  di berbagai lini, mulai dari lingkungan sekolah hingga  perguruan tinggi. Pemerintah tidak boleh lengah karena sedikit saja kelalaian,  berdampak vatal terhadap keselamatan negeri ini ke depan.

Sumatera Barat sebagaimana diakui Purwanto Adi Nugroho memiliki beragam strategi dalam  menyiasati perkembangan zaman. Terbukti, nilai-nilai budaya lokal yang dijunjung tinggi masyarakat daerah  mampu meredam  berbagai gejolak. Filosofi  adat dan budaya yang mengedepankan fungsi surau dan rumah gadang dalam pembentukan krakter anak bukan sekedar cerita tanpa makna.  Kedua wadah tersebut mampu mencetak orang-orang hebat dengan penekanan nilai-nilai taat kepada Pancasila, cinta NKRI dan menjunjung tinggi kebhinnekaan.  

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00