• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Mentawai, Kerajaan Wisata Eksotis Wisatawan Mancanegara

1 July
11:09 2019
0 Votes (0)

KBRN, Padang : Semilir angin menyibak riak, mengalunkan simponi  yang memecah  hening suasana pantai berpasir indah itu. Alunan musik tradisional Bumi Sikerei seakan  menyatu dalam suasana suka cita orang-orang yang datang berdarmawisata. Ya, Pantai Mapadeggat yang dikenal sebagai Dusun  Kawasan Wisata, Tua Pejat di Sipora Utara selalu menghadirkan nuansa berbeda. Setiap tahun kawasan wisata bahari  ini menampilkan  berbagai atraksi seni budaya yang membuat orang tidak pernah bosan berkunjung ke daerah kepulauan tersebut.

Beragam atraksi seni, budaya dan pariwisata sebut saja Turuk Laggai, Teather Budaya, Miniatur Uma, Jelajah Mangrove hingga Tato Tradisonal Mentawai diperagakan kepada pengunjung dan wisatawan  yang datang dari berbagai daerah.  Kabupaten Kepulauan Mentawai yang terdiri dari sepuluh kecamatan memiliki tradisi adat dan budaya yang unik serta beragam. Sisi keunikan tersebut sebagaimana diungkapkan Bupati Mentawai, Yudas Sabaggalet menjadikan Mentawai berbeda dari daerah lain di Sumatera Barat sehingga tidak mengherankan, jika daerah ini selalu menjadi pusat perhatian wisatawan, tidak hanya domestik namun juga mancanegara.

Salah satu  realita dan fakta unik yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bumi Sikerei adalah tradisi Muanggau. Muanggau berasal dari kata Anggau yang artinya kepiting  yang keluar dari  tempat persembunyiannya ketika ombak besar. Musim Anggau dimulai dari bulan Mei hingga puncaknya bulan Agustus.

“Pada musim ini, masyarakat di pulau-pulau keluar mencari Anggau. Mereka bersampan dari pulau ke pulau untuk merajut kebersamaan dan persaudaraan dikarenakan  tidak ada pembatasan wilayah pada saat tradisi ini berlangsung,” jelas Yudas Sabaggalet kepada RRI, Sabtu, (29/6/2019).

Tradisi mencari Anggau atau lebih dikenal dengan istilah Muanggau  sarat dengan pesan moril diantaranya,  nilai kebersamaan tanpa membedakan dusun, suku dan agama. Mereka berbaur mencari sumber makanan untuk dikosumsi bersama. Nilai lainnya yang terkandung dari tradisi unik ini adalah semangat gotong royong. Mulai dari orang tua hingga anak-anak mencari Anggau  beramai-ramai ke pantai pada waktu-waktu tertentu.

Tradisi ini masih berlangsung hingga sekarang meski dalam kenyataannya  tidak semua pulau yang melaksanakan budaya mencari Anggau ini. Anggau hanya muncul pada pulau-pulau tertentu dari 99 pulau besar dan kecil yang ada di kepulauan ini. Namun demikian, tradisi ini tetap menjadi pusat perhatian  ribuan wisatawan dunia yang dari waktu ke waktu tidak pernah jemu menapakkan kakinya ke pulau yang dijuluki surga dunia.

Bukan hal yang berlebihan jika sekiranya orang-orang yang pernah berkunjung ke Mentawai menamai daerah ini sebagai surga dunia. Alamnya yang memikat dengan sentuhan nuansa bahari yang tidak kalah menawan dibanding Pulau Dewata, menjadikan Mentawai sebagai kerajaan wisata eksotik turis-turis mancanegara.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepuluan Mentawai, Joni Anwar menuturkan, berbagai event wisata dan budaya digelar guna menarik minat orang-orang datang berkunjung ke pulau, salah satunya Festival Pesona Mentawai  2019 yang dibuka sejak tanggal 28 Juni hingga 1 Juli 2019.  Ajang tahunan ini diharapkan dapat merangkul kunjungan wisatawan sesuai target sekaligus jembatan  orang bisa mengenal Mentawai lebih dekat, baik  dari segi kultur budaya maupun adat istiadat masyarakat di pelosok-pelosok.

Festival Pesona Mentawai 2019 tidak hanya mengangkat kegiatan seni budaya lokal, namun juga  merangkul aspek lainnya seperti halnya olahraga tradisional daerah diantaranya,  perahu layar dan selaju sampan.

“Untuk ajang perahu layar, kegiatannya di pusatkan pada salah satu kawasan wisata favorit, yakni Pantai Jati, Tua Pejat,” ujarnya kepada RRI.  

Keindahan alam Pantai Jati, Tua Pejat  memang tidak diragukan lagi. Lautnya yang biru bersih, menuai pesona tersendiri di mata  para wisatawan.

Siang itu, dua perahu layar menebar pesona di hamparan samudera biru. Ribuan mata tertuju pada dua perahu layar  yang perlahan  beranjak ke tengah, menyongsong riak di kejauhan.

Sementara tidak jauh dari bibir pantai,  para pengunjung dimanjakan aneka hiburan yang telah dipersiapkan pemda setempat jauh-jauh hari. Pantai Jati, Tua Pejat menyajikan rindang yang tidak pernah terlupakan. Selain berdarmawisata, menikmati pesona alam yang tiada dua, pengunjung juga larut dalam kegiatan lain seperti berselfi ria bersama teman sebaya, orang-orang terkasih untuk bernostalgia.

Pantai Jati tidak saja kaya pesona, di pantai ini juga terdapat usaha kerajinan rumah tangga yang cukup terkenal, yakni usaha ikan asin. Bagi pengunjung yang ingin membawa buah tangan untuk di bawa pulang ke daerah asal, sudah tersedia bermacam ragam ikan asin yang diproduksi secara mandiri oleh warga sekitar. Berdarmawisata ke Mentawai rasanya  belum lengkap jika tidak menyaksikan  langsung Turuk Laggai,    tarian yang gerakannya adalah perumpamaan gerak binatang-binatang di alam sekitar masyarakat pedalaman Mentawai. Karena kedekatan suku Mentawai dengan alam,  gerakan dan tingkah laku binatang-binatang tersebut dituangkan dalam sebuah tarian tradisional suku pedalaman. Gerakan Turuk Laggai juga menyiratkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan suku Mentawai sebut saja,  nilai  perdamaian  dan  cinta kasih antar suku. Berdarmawisata ke Mentawai adalah sesuatu yang berbeda dan  menuangkan rasa penasaran yang membuat orang tidak akan pernah jemu menapaki pulau-pulau cantik di hamparan Samudera Hindia itu.     

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00