• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Merangkul Nestapa Masyarakat Pulau Terluar

3 June
11:45 2019
0 Votes (0)

KBRN, Padang :Petang merona, mengibaskan sayap senja pada sesudut dermaga di Pantai Barat Pulau Sumatera. Ya, Dermaga Bungus Teluk  Kabung,  demikian orang-orang menamainya. Sore itu, si raja laut yang telah berisi muatan penuh,  ratusan  paket Ramadhan bersiap-siap melepas sauh, mengepak sayap,  membelah terjangan gelombang  di pusaran riak Samudera Hindia.

Gema sirene kapal  memecah hening,  seakan mengingatkan orang-orang akan  masuknya tanda waktu memulai pelayaran panjang,  berjarak tempuh sekitar sepuluh jam perjalanan. KMP Ambu-Ambu yang kala itu bermuatan sekitar 600 paket Ramadhan,  berlayar gagah perkasa  mengusung bendera bertemakan Bangkitnya Filantropi Islam. 

Nama salah satu pulau terluar di Kabupaten Kepulauan Mentawai  pun  tidak luput dari target petualangan kapal yang mengangkut berbagai keperluan masyarakat di bulan penuh berkah itu. Pulau Siberut yang berjarak tempuh sekitar 155 kilometer dari Kota Padang menjadi target pendistribusian bantuan kemanusiaan  ketika itu.

Pulau cantik  yang berada di seberang lautan itu sepanjang putaran waktu,  menabuh  derita dan nestapa anak manusia  yang dalam keseharian hidup seadanya. Sagu menjadi makanan pokok warga,  boleh dikatakan teramat sulit mendapatkan pangan lain untuk beralih selera. Namun agaknya,  anak-anak di pulau sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Beda dengan anak lainnya yang  seusia mereka, hidup berkecukupan dengan limpahan  fasilitas yang  menjanjikan masa depan  yang lebih baik.

Berangkat dari kenyataan pahit tersebut, ACT Sumatera Barat di bawah koordinator Aan Saputra, Jumat, (24/5/2019)  bertolak mengantar  bantuan makanan untuk santap sahur dan buka puasa masyarakat di Pulau Siberut. Sebagai lembaga kemanusiaan yang sudah lama berpetualang menyisir ragam kehidupan anak manusia di pelosok negeri,  ACT Sumatera Barat, sesuai nama dan tema kegiatan yang diusung pada momen ini, lagi-lagi melirik kehidupan umat manusia di pedalaman pulau terluar.

Sikap peduli yang senantiasa ditebar dan disemai,  ibarat ladang pahala yang semakin  memperkokoh ikatan silahturrahmi antar umat,  tanpa harus membedakan ras, adat istiadat dan suku bangsa.

Hanya menempuh perjalanan sekitar sepuluh jam, kapal yang berisi ratusan paket pangan sampai di dermaga yang dituju. Program Aksi Cepat Tanggap Sumatera Barat telah menapaki bumi yang dituju yakni,   Desa Saibi Samukop, Siberut Tengah.

“Bermacam kebutuhan pangan  kami salurkan sebagai hadiah Ramadhan bagi saudara-saudara  yang selama ini luput dari  jangkauan dan perhatian,” ungkapnya kepada RRI, Jumat, (24/5/2019).

Tidaklah  sia-sia  jarak ratusan kilometer yang ditempuh  Kapal Ramadhan Peduli Mentawai  karena sesampainya di negeri yang masih berselimut 3 T itu, warga  terlihat begitu antusias menyambut kedatangan rombongan.

Anak-anak bersorak menyambut kedatangan kapal yang penuh muatan, rasa ingin tahu dan penasaran tergambar di  raut wajah para bocah yang  menggunakan pakaian lusuh. Satu per satu paket bantuan yang berisi sembako mulai diturunkan dari kapal pengangkut barang. Tanpa menunggu lama, paket bantuan berisi barang kebutuhan harian dibagikan secara merata. Kebahagian terpancar di rona wajah warga Desa Saibi Samukop saat menerima bantuan paket pangan ACT Sumatera Barat yang beisikan bermacam kebutuhan pokok harian.

Sehari-harinya warga Desa Saibi Samukop bertumpu hidup pada fasilitas hidup yang serba minim. Kedatangan Tim  ACT Sumatera Barat bersama rombongan menapaki pulau cantik di garis laut terluar  nyatanya mengundang sejuta harapan dan angan  masyarakat pedalaman setempat.

Rasa senang dan bahagia tidak bisa disembunyikan, hal itu terpancar jelas di raut wajah warga Desa Saibi Samukop, Siberut Tengah. Paket Ramadhan yang baru saja mereka terima ibarat pengobat dahaga. Keterbatasan akses transportasi dan komunikasi menyebabkan masyarakat di pedalaman cenderung terpinggirkan dalam berbagai hal dan rasa ingin mengecap kehidupan yang lebih baik, ibarat  sebuah mimpi.

“Begitu melihat kapal dari luar datang ke pulau, kami merasa senang  karena jarang-jarang ada kyang mau berkunjung. Bantuan pangan ini sangat berarti bagi masyarakat di pulau yang sehari-harinya dikurung kepungan ombak,” ujar Satoko, warga desa setempat.

Jika menelusuri Kabupaten Kepulauan Mentawai, masih banyak tempat yang  perlu menjadi perhatian insan-insan penyalur bantuan kemanusiaan, salah satunya terdapat di Siberut Barat. Tiga desa yang masuk  daerah kecamatan Siberut Barat masih  memikul beban 3 T.

Camat Siberut Barat, Job Sirirui ketika dikonfirmasi RRI mengatakan,  Kecamatan Siberut Barat dihuni lebih kurang delapan ribu jiwa dan  tersebar pada tiga desa. Pada umumnya masyarakat di Siberut Barat bermata pencaharian sebagai petani dan bergantung hidup dari hasil pertanian yang dikelola secara mandiri  seperti talas, sagu dan ubi-ubian.

Dari segi produksi, masyarakat di pedalaman Siberut Barat tidak kekurangan pangan. Hal yang paling krusial yang menyebabkan ekonomi sulit berkembang, anak-anak atau generasi muda tumpul prestasi adalah akses pendukung  kehidupan yang cenderung terbatas.  Untuk menempuh perjalanan dari Siberut Utara ke Siberut Barat dibutuhkan biaya transpotasi yang tidak sedikit, paling sedikit  sekitar empat juta rupiah.

Dari Siberut Barat ke Siberut Utara, masyarakat harus menyewa kapal dengan bahan bakar yang lumayan besar. Oleh karena itu, dalam beberapa waktu terakhir ini, pemerintah setempat berinisiatif membuka jalur darat untuk akses penghubung antar desa dan kecamatan.

“Melalui jalur penghubung antar desa itu, secara perlahan masyarakat di daerah-daerah pedalaman bisa beraktifitas, anak-anak bisa mengecap pendidikan layak dan tidak mesti buta aksara seumur hidup,” ungkapnya tegas.

Dengan dibukanya akses transportasi  jalur darat yang nantinya menjadi  penghubung antar desa dan kecamatan, warga jadi lebih leluasa mengembangkan aktifitas  bidang pertanian dan perdagangan. Hasil kebun dan hasil tani bisa langsung di pasarkan ke desa-desa. Ubi, pisang dan talas tidak lagi membusuk lantaran tertumpuk lama di kebun atau pun ladang.

Dalam kenyataannya, kedatangan Kapal Ramadhan ACT Sumatera Barat dengan muatan 600 paket Ramadhan ibarat rangkulan kasih yang tidak akan pernah terputus waktu dan jarak. Meski hanya sejenak, jalinan silahturrahmi yang tergores di pulau terpencil itu, tidak akan lekang oleh terjangan gelombang samudera.

Ibarat jembatan, ACT Sumatera Barat telah membuka jalan bagi masyarakat daeah untuk optimis menatap hari depan. Tidak ada kusut yang tidak bisa diselesaikan. Kemiskinan hanya sebuah keadaan, bukan hukuman atau pun karma yang mesti disesali. Kesempatan masih panjang, idealnya  untuk merubah keadaan menjadi lebih baik, dibutuhkan kebersamaan dalam ikatan kasih dan persaudaraan. ACT Sumatera Barat sejatinya adalah  perpanjangan tangan pemerintah untuk  penyaluran bantuan dan aksi kemanusiaan di berbagai pelosok negeri. Hadirmu menawarkan keteduhan bagi semua orang tanpa memandang warna kulit, agama, ras, adat istiadat dan suku bangsa.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00