• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Kemilau Mimpi PKL dalam Rangkulan Tangan Ajaib PT Pegadaian

29 April
18:58 2019
0 Votes (0)

KBRN, Padang :Lembayung menepis senja, menyapa  lembut  semilir angin yang berhembus di  pesisir Pantai Padang  kala itu. Pedagang kaki lima berjejer menjajakan aneka hidangan khas pantai seperti langkitang, pisang dan jagung bakar yang menjadi makanan favorit pengunjung kala bersantai,  sembari  menikmati suasana petang di hentakan riak dan gelombang.

Tidaklah bisa dipungkiri,  sinergi BUMN   mengembangkan pariwisata  Sumatera Barat dalam setahun belakangan ini telah menunjukkan capaian  nyata bagi kehidupan masyarakat di daerah, terutama  pedagang yang setiap sore beraktifitas di  kawasan wisata Pantai Padang.

Animah, salah seorang pedagang langkitang  yang berjualan persis di pesisir  Pantai Muaro Lasak  ketika itu  asik menyusun dagangannya. Setiap sore, ibu tiga angk  ini  bersandar  hidup dari penghasilan yang diperoleh dari  jual beli langkitang  yang dimasaknya sendiri. Siapa mengira, profesi  sebagai pedagang kaki lima yang dilakoninya  setahun ini telah memberinya harapan baru.

Ketiga anaknya  yang  tertunda bersekolah  lantaran ketiadaaan biaya,  kini bisa mengecap pendidikan yang layak di bangku sekolah. Dari hasil jual beli itu, ibu muda ini juga bisa menyewa hunian yang layak  untuk tempat berteduh putra-putrinya.  Sungguh perubahan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh Animah.

Ditanya soal kehidupan masa lalu, kepada RRI wanita berusia 42 tahun ini berkisah tentang  alur kehidupan  pahit yang  pernah dijalani sebelumnya. Kehilangan  suami  tercinta  dua tahun silam sempat membuatnya frustasi dan kehilangan semangat hidup. Demi menghidupi anak tercinta,  berbagai profesi   pun dilakoni, mulai dari menerima jasa cucian, memulung barang-barang bekas hingga mengemis di jalanan.

“Saya sudah jalani semua dan pada akhirnya terpikir untuk berusaha dengan cara aman dan halal. Saya ingin, jerih payah saya selama ini membawa berkah bagi kehidupan  anak-anak,” ungkapnya menahan haru, Senin, (29/4/2019).  

Hingga akhirnya perjalanan nasib menunjukkan keberpihakan pada wanita kelahiran Pekanbaru itu. Program pengembangan pariwisata yang dicanangkan Menteri BUMN,  Rini M. Soemarno di Pantai Muaro Lasak, Kota Padang setahun yang lalu telah   memberi keleluasaan bagi  masyarakat kurang mampu untuk bisa bertumbuh secara ekonomi.

Pembangunan infrastruktur  dan sarana prasarana  lainnya   di kawasan wisata    Pantai Padang memberi ruang hidup bagi orang-orang yang kehilangan mata pencaharian hidup.  Dalam hitungan waktu yang tidak begitu lama, Pantai Padang  disulap menjadi destinasi favorit yang tampilannya jauh lebih memukau dari sebelumnya.

“Keindahan alam semesta memberi saya kesempatan berusaha, menafkahi keluarga. Semua ini tidak akan terwujud tanpa upaya dari orang-orang, katakanlah  BUMN yang sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat kecil seperti saya,” ungkapnya kepada RRI.

Benar adanya, sinergi BUMN yang diprakarsai PT Pegadaian membangun pariwisata daerah  bukan sekedar cerita. Dirut PT Pegadaian,  Sunarso  sebelumnya pernah menuturkan, pengembangan dunia kepariwisataan tidak hanya terfokus pada  satu daerah, namun juga diterapkan di provindi lainnya.

 Khusus wilayah Sumatera Barat, implementasi program pengembangan pariwisata dibagi dalam beberapa tahap. Tahap awal  program mengarah pada pembangunan infrastruktur pariwisata Pantai Padang,  Bukit Tinggi dan Kelok Sembilan. Program lainnya mencakup revitalisasi koridor di Padang, pembuatan papan informasi  dan welcome gate di bandara serta pengembangan  kawasan wisata Danau Cimpago yang keseluruhannya menelan anggaran senilai Rp 769 juta.

Tidak percuma, perhatian BUMN terhadap lingkungan dan dunia kepariwisataan daerah telah menunjukkan capaian luar biasa. Destinasi Pantai Padang kini ibarat gula yang dikerubuti semut. Pada momen tertentu katakanlah musim liburan, boleh dikatakan hampir semua sudut terisi penuh oleh kendaraan dan wisatawan yang datang untuk keperluan berliburan.

Pedagang kaki lima  pun merasakan kenyamanan dalam beraktifitas. Penataan objek wisata pantai diyakini telah memberi keluangan rezeki bagi  para pedagang yang selama ini dibayang-bayangi ketakutan  dan ketidaknyamanan dikarenakan sempitnya ruang untuk berusaha.

“Penataan kawasan  yang dilakukan  PT Pegadaian telah menghidupkan api tungku di  dapur rumah kami. Sarana prasarana yang disediakan betul-betul memberi rasa nyaman sehingga kami bisa lebih leluasa berjualan, menghidupi anak istri,” ungkap Sidi, pedagang minuman di kawasan wisata Danau Cimpago.

Seperti halnya pedagang lain, Sidi  termasuk salah satu pedagang yang merasa cukup diuntungkan oleh program  BUMN tersebut. Sejak pencanangan program sinergi BUMN mendukung pariwisata Sumatera Barat, lingkungan makin tertata. Pedagang diberi keleluasaan berdagang pada waktu yang telah ditentukan.

Lingkungan yang tertata rapi,  otomatis menarik orang untuk datang berkunjung. Layaknya destinasi wisata lain, banyak pedagang yang menggantungkan hidup dari kawasan sekitar, termasuk bapak 4 putra ini.

Animah, Sidi dan pedagang lainnya hanya sedikit contoh orang-orang yang telah merasakan manfaat program implementasi pengembangan pariwisata yang diprakarsai BUMN seperti PT Pedagaian. Di lain sisi, banyak hal yang telah diperbuat BUMN yang tahun ini merayakan ulang tahunnya yang ke-118. Slogan Pedagaian, Mangatasi Masalah Tanpa Masalah agaknya memang bukan hal yang diragukan lagi. Kesungguhan  yang ditunjukkan perusahaan milik pemerintah itu betul-betul nyata dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di sekitarnya. Betapa tidak, anak-anak yang sebelumnya terlantar tidak bersekolah, kini optimis menapak hari depannya. Seorang ibu yang frustasi lantaran kemiskinan yang mendera kehidupannya, kini telah menemukan kembali harapannya, bisa berusaha di tempat yang layak dengan nilai penghasilan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00