• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Sampah Terpilah Wujudkan Sejuta Mimpi Nasabah

5 April
19:51 2019
0 Votes (0)

KBRN, Padang :Fajar menyingsing, bersenandung damai menebar aroma pagi. Di kejauhan, becak tua melaju menyisir kawasan elit perkotaan yang tampak sepi ketika itu. Angin berhembus sepoi, membelai rerumputan di lingkaran taman Kota Wisata. Seorang wanita menggunakan jaket tebal berbahan dasar kaos lusuh, gesit berburu barang-barang bekas. Tangan-tangannya begitu cekatan menggali  tumpukan  sampah yang menebar bau menyengat. Hal demikian agaknya tidak dihiraukan wanita itu. Tanpa menggunakan sarung, kedua tangannya merengkuh  benda-benda dari tumpukan sampah  yang berbau dan dihinggapi lalat yang beterbangan. Pemandangan demikian bukan hal  baru lagi untuk  Kota  Bukittinggi yang setiap harinya menghasilkan ratusan ton sampah yang betumput diberbagai lokasi pembuangan sampah.

Di saat pintu rumah warga masih terkunci rapat,   orang-orang masih terlelap dalam mimpi, Mursini mengayuh becak tuanya menuju  muara pembuangan sampah warga. Sengaja ia bangun pagi-pagi, berjuang mengusir dingin, demi harapan bisa membawa pulang sampah dalam jumlah yang banyak. Jika diuangkan, tentu nilai rupiahnya pun lumayan banyak. Begitulah keseharian Mursini, ibu dua anak yang mengaku telah bertahun-tahun menikmati berkah,  dari sampah-sampah selama ini sering menjadi bahan  sorotan. 

''Dari pekerjaan inilah saya bisa menghidupi keluarga, memberi makan dan membiayai sekolah anak," ujar warga Aur Tajungkang Tangah Sawah ini kepada RRI.

Beranjak ke tempat lain, tidak hanya Mursini yang bertopang hidup dari tempat-tempat penumpukan sampah. Masih banyak Mursini lainnya yang setiap hari berburu plastik-plastik bekas, kaleng bekas minuman, bekas plastik shampoo  kardus  dan  kertas yang kemudian dipilah  sesuai jenisnya.

Tarmizi, warga Kelurahan Benteng Pasar Atas ini pun tidak pernah merasa malu jika harus menafkahi keluarganya dari hasil memulung.  Kepada RRI, bapak empat anak ini bercerita tentang perjuangannya, membesarkan anak dan menyekolahkannya  hingga ke jenjang perguruan tinggi. Dibantu istri tercinta, Tarmizi membanting tulang,  setiap pagi menyisir ruas jalan, bahkan rela  masuk got keluar got demi mendapatkan rezeki lebih untuk ditabung.

“Saya ikhlas menjalani pekerjaan ini, dari sampah ini saya bisa menabung untuk masa depan putra-putri kami,” ujarnya penuh harap, Kamis, (4/4/2019).

Sekilas mungkin orang tidak akan percaya, lelaki dengan penampilan yang sederhana ini ternyata sudah memiliki tabungan emas untuk hari depan. Siapa mengira, tabungan emas yang diimpikannya itu berasal dari barang-barang bekas yang dikumpulkannya setiap pagi.

Hal itu dibenarkan Direktur Bank Sampah Mutiara Indah, Suryadi. Menurutnya, penawaran  harga di bank sampah  yang berlokasi di Kelurahan Aur Tajungkang Tangah Sawah itu tidak merugikan nasabah karena  sampah yang ditabung,  sewaktu-waktu berbuah emas. Kerjasama  pihak pegadaian  dengan bank sampah percontohan itu ternyata  menarik bagi para nasabah. Masyarakat yang menjadi nasabah Bank Sampah Mutiara Indah berpacu mengumpulkan hasil sebanyak-banyaknya. Dari hasil tersebut mereka bisa menabung, mengumpukan emas batangan untuk berbagai keperluan hidup.

Bukan sekedar janji manis, hal  demikian betul-betul diterapkan dalam keseharian. Bank sampah tidak hanya fokus pada kegiatan ekonomi dan lingkungan, namun juga berkontribusi terhadap dunia pendidikan anak, sebagaimana diungkap Direktur Bank Sampah Sakinah, Asri Astianinggsih. Bank sampah yang berdiri tahun 2012 ini beralamat di Kelurahan Batu Gadang dengan jumlah nasabah awal sekitar 40 orang.

Untuk membantu pendidikan anak dari nasabah yang kurang mampu, Bank Sampah Sakinah memberikan kemudahan kepada nasabahnya. Koperasi memberikan pinjaman uang kepada anggotanya dengan sistem pembayaran  dicicil dari hasil setoran sampah nasabah. Hal lain yang tidak kalah menarik  adalah,  kepedulian pengelola bank sampah terhadap dunia pendidikan anak di lingkungan sekitarnya.

Bank Sampah Sakinah yang kebetulan satu atap dengan bangunan  TK dan PAUD, memberikan keringanan luar biasa kepada orang tua murid. Pembayaran SPP anak per bulannya dibayarkan  dari nilai sampah yang disetorkan ke bank sampah.

''Meski kekurangan biaya sekolah  bisa dibayarkan dengan nilai  sejumlah uang, tetap saja pembayaran dengan sampah yang menjadi prioritas,'' papar Asri.

Ratna, warga Kelurahan Batu Gadang, Kota Padang ini mengaku sangat terbantu dengan adanya sistem penyicilan SPP sekolah dari hasil setoran sampah nasabah.  Hal ini sangat membantu anak-anak nasabah, khususnya  mereka  yang berasal dari keluarga ekonomi lemah. Bermodal keyakinan dan kegigihan orang tua,  anak-anak tetap bisa bersekolah, mendapatkan pendidikan layak sebagaimana hak setiap warga negara.

Sisi lain yang menggambarkan besarnya dukungan pihak pegadaian  terhadap tumbuh kembang ekonomi daerah adalah sektor UMKM. Tidak sedikit usaha kecil menengah yang tumbang alias gulung tikar lantaran  kekurangan asupan dana untuk modal usaha. Berangkat dari persoalan klasik tersebut, perlu suntikan modal untuk memacu pergerakan UMKM, seperti halnya upaya seminar kewirausahaan yang belum lama ini dilaksanakan Pegadaian Persero Area Padang.

Asisten Manager Pegadaian Persero Area Padang, Edo Pratama menegaskan,  melalui penawaran modal usaha, pegadaian berupaya memperkuat basis perekonomian UMKM. Program Kreasi UMI dan Kreasi Flexi merupakan  wujud nyata kepedulian pegadaian terhadap dunia usaha.Program dengan prosedur   yang mudah ini  terbukti telah banyak membantu UMKM di daerah.

Kerjasama pegadaian dengan bank sampah telah berintegrasi terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Bermodal sampah-sampah terpilah, nasabah bisa mewujudkan sejuta mimpi. Siapa mengira, serpihan sampah bisa mengantar  anak pemulang sampai pada jenjang cita – cita. Dari botol bekas minuman, nasabah kurang mampu bisa merealisasikan mimpinya,  memiliki emas batangan untuk bekal meraih hari depan yang lebih baik.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00