• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

TMMD 104, Menyibak Sisi Gelap Kehidupan Masyarakat di Bumi Sikerei

26 March
17:28 2019
0 Votes (0)

KBRN, Padang :Terik matahari membakar ubun - ubun kepala, sekelompok  pria berseragam hijau loreng dari kejauhan  tampak asik menyusun kayu-kayu panjang untuk dijadikan badan jembatan. Keringat mengucur di sekujur tubuh, menyatu dengan tekad dan semangat membara satgas TNI AD yang selama satu bulan ini  bepacu dengan waktu,  berjuang melewati hari-hari penuh tantangan,  demi bhakti kepada ibu pertiwi dan kesetiaan  terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia – NKRI.

Hanya beberapa meter dari jembatan kayu tersebut, satu unit alat berat yang didatangkan dari seberang lautan,  merangkak, memecah  gumpalan batu dan tanah merah yang sebelumnya belantara  tidak terjamah. Yah, Bukit Pamewa yang berlokasi di kilometer 9 Tuapejat ini termasuk kawasan 3 T yang  selama ini tidak tersentuh program pembangunan  daerah.

Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga ke Pulau Rote, TNI berjibaku membangun kemanunggalan  dengan rakyat. Tak diduga,  program TMMD ke-104  akhirnya menyinggahi  masyarakat di pedalaman Mentawai yang  lama merindukan sentuhan dan pembangunan fisik lainnya seperti  pembangunan jalan, jembatan penghubung antar desa, jamban sehat dan perbaikan hunian warga serta  akses pendukung kepentingan umum lainnya.

Harapan senada dilontarkan Waaster Kasad, Brigjen TNI Gathut Setyo Utomo saat  tatap muka dan silahturrahmi dengan warga Desa Bukit Pamewa, Senin, (18/3/2019). Jalan merupakan urat nadi pendorong laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Selain mendongkrak sektor perekonomian,  pembangunan infrastruktur jalan sejatinya adalah  sarana vital pertahanan negara.  Tanpa keberadaan jalan, mustahil kegiatan bela negara bisa dioptimalkan guna menangkis serangan  dan ancaman musuh. Wajar sekiranya  menurut Gathut Setyo Utomo,  jika dalam  setiap  kegiatan kemanunggalan TNI bersama rakyat,   pembangunan jalan selalu menjadi prioritas.

“Apalagi untuk pedalaman Mentawai yang termasuk daerah rawan,  musuh sewaktu-waktu bisa  menyusup dari jalur laut,” ujar Gathut.

Pembukaan lahan sepanjang 5 kilometer  di  kawasan  Pantai Barat Sumatera  diyakini sebagai langkah strategis TNI dalam mengamankan pelosok negeri. Selain  pertahanan keamanan, pembukaan lahan sepanjang 5 kilometer di Desa Bukit Pamewa juga berkontribusi terhadap sektor perekonomian daerah.

Ekonomi masyarakat menggeliat seiring dibukanya lahan yang menjadi akses penghubung transportasi masyarakat di daerah, sebagaimana dirasakan Khusni, warga  Desa Bukit Pamewa kepada RRI, Rabu, (20/3/2019).

Pemasaran hasil pertanian milik warga bisa lebih dimaksimalkan mengingat angkutan umum sudah bisa menembus jalur yang sebelumnya hutan belantara. Pisang yang bertandan-tandan bisa dipasarkan ke luar daerah, begitu  juga hasil kebun  yang lain seperti durian, kelapa dan talas. Kekhawatiran dan rasa cemas petani, hasil kebun  bakal membusuk sebelum dipasarkan, dapat ditanggulangi dengan kemudahan layanan transportasi ke daerah.

“Pembangunan jalan secara tidak langsung membuka sumber penghidupan baru bagi warga setempat. Ekonomi warga pulih secara perlahan dengan dibukanya akses transportasi umum tersebut,” tutur lelaki 65 tahun asal Tuapejat.

Harapan menikmati suasana kehidupan yang lebih baik diungkapkan Juriyah, warga Pantai Jati, Tuapejat. Dengan adanya jalan tembus menuju Pantai Barat Sumatera ini, kunjungan wisatawan ke pulau yang dijuluki Bali Kedua ini meningkat setiap waktu. Sebutan daerah 3 T untuk Mentawai segera ditinggalkan seiring tumbuh kembang ekonomi dan pembangunan fisik di daerah.

“Pembangunan jalan dan jembatan, memperlancar akses pariwisata ke daerah. Tamu atau pengunjung akan berulang-ulang datang ke Mentawai lantaran perubahan yang terus dilakukan,” papar pelaku usaha UMKM itu.

Demikian pula perubahan yang dirasakan pada  sektor lain seperti pendidikan dan dunia kesehatan. Proses belajar mengajar di sekolah berjalan lancar. Kondisi medan yang ditempuh sudah lebih baik dikarenakan tidak ada lagi setapak terjal,  berbatu dan berlumpur. Jalanan yang dulunya hutan lebat, kini telah rata dan bisa dilewati kendaraan,  baik  roda dua maupun kendaraan roda empat.

Kekhawatiran anak-anak terlambat masuk sekolah,  pupus seketika. Jalan sepanjang 5 kilometer yang dibangun dengan semangat kemanunggalan TNI, telah bisa dimanfaatkan untuk akses transportasi ke sekolah.  Ibu-ibu hamil  yang berdomisili di Desa Bukit Pamewa pun  tidak perlu khawatir dan cemas,  terlambat mendapatkan pertolongan medis saat tiba waktu bersalin.

Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet mengungkapkan  apresiasi setinggi-tingginya kepada prajurit TNI AD, khususnya satgas TMMD 104 Mentawai yang telah mendorong percepatan pembangunan  daerah.  Pembukaan lahan sepanjang 5 kilometer berkontribusi nyata terhadap banyak sektor meliputi, pertahanan, ekonomi, pariwisata, pendidikan dan dunia kesehatan.

Melalui program nasional  ini, pemerintah daerah termotivasi menggerakkan sektor-sektor potensial yang berdampak terhadap peningkatan PAD. Khusus Mentawai jelas Yudas, perlu menerapkan sistem pembangunan yang sifatnya melompat-lompat. Dengan cara ini,  masyarakat  di daerah dapat merasakan perubahan demi perubahan. Jika hanya mengandalkan kemampuan kontraktor dari luar, diyakini pembangunan di daerah berjalan lambat atau jalan di tempat dengan kebutuhan anggaran  jauh lebih besar. 

Tiada terasa,  program kemanunggalan TNI bersama rakyat kini telah sampai di punghujung waktu.  Pengorbanan  dan kerja keras  prajurit TNI AD membangun pelosok pedalaman Mentawai semata-mata demi kepentingan masyarakat, sebagaimana ditegaskan Dandim 0319/Mentawai, Letkol Czi Didid Yusnadi kepada RRI.

Selain  pembangunan infrastruktur jalan, jembatan dan rumah ibadah, TMMD 104 Mentawai di Desa Bukit Pamewa yang berlangsung dari tanggal 26 Februari hingga 27 Maret 2019 juga melirik kebutuhan warga akan ketersediaan jamban sehat. Bukan rahasia umum lagi jika ketersediaan jamban sehat di  daerah pedalaman Mentawai masih relatif terbatas.

“Untuk memenuhi kebutuhan warga, satgas TMMD 104 Mentawai membangun sebanyak 30 unit jamban sehat dengan harapan, jamban tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin,” ungkap Didid Yusnadi.

Idealnya,  keindahan alam Mentawai nan rupawan akan terkenang sepanjang masa. Berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan kemolekan alam sekitar,  salah satunya dengan menjaga kebersihan lingkungan. Pembangunan jamban sehat secara bertahap diharapkan dapat menciptakan suasana kehidupan yang lebih baik. Kesadaran masyarakat menerapkan pola hidup sehat tergugah seketika. Masyarakat sehat dan sejahtera, TNI makin berjaya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00