• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Tangan di Atas Lebih Baik dari Tangan di Bawah

27 December
19:13 2018
0 Votes (0)

KBRN, Padang : Ruangan dengan ukuran 10 X 15 meter itu terdengar  riuh oleh  suara tepuk tangan penonton yang hadir. Tiga belas  anak penyandang disabilitas bersiap-siap menuju tempat  bagian depan podium untuk  menerima penghargaan.  Pengabdian yang begitu tulus terhadap  kedua orang tua  telah menjadikan anak-anak tersebut mandiri dan  tidak bergantung lagi pada lingkungan  sekitarnya.

Basirun, pemuda berusia 25 tahun ini salah satu dari 13 kelayan yang dinyatakan lulus terminasi  Panti Sosial Bina Netra – PSBN  Tuah Sakato, Kamis, (27/12/2018).  Tidak sia-sia pengorbanannya meretas impian dalam rentang waktu tiga tahun yang dijalaninya di panti itu. Rasa pesimis kini telah menjelma menjadi sikap optimis.  Kekhawatiran orang tua, kelak anaknya akan menjadi beban lingkungan  agaknya pupus sudah.  Yang ada, Basirun kini telah menjelma menjadi pribadi tangguh, mandiri dan penuh prestasi.

Harapan tersebut senada dengan apa yang disampaikan Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatra Barat, Abdul Gafar. Kepada RRI, ia menuturkan pentingnya sikap optimis dan kesabaran lebih  dalam  menggembleng anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki banyak kelebihan itu.

''PSBN Tuah Sakato  telah banyak menghasilkan kelayan yang matang dan mandiri di tengah masyarakat. Dengan kemampuan yang dimiliki, kelayan yang lulus uji terminasi berjuang keras, menafkahi diri dan keluarga,'' ujar Abdul Gafar.

Bukan hal mudah bisa meyakinkan masyarakat menggunakan jasa para penyandang disabilitas. Persaingan bisnis dan  jasa yang semakin ketat, menjadikan kualitas pelayanan sebagai nilai ukur pelayanan.  Pemerintah berkewajiban membina anak-anak ini agar bisa berkompetisi dengan fasilitas yang telah disediakan. Alhasil, kelayan  yang sudah keluar panti dan membuka usaha pijat banyak dicari pelanggan.  Untuk saat ini pijak bukan lagi sekedar kebutuhan sampingan, orang-orang yang hidup di perkotaan dengan rutinitas yang cukup tinggi malah  membutuhkan layanan jasa pijat ini demi mamanjakan diri.

''Sebagian besar anak berkebutuhan khusus yang dibina PSBN Tuah Sakato memulai pendidikan dari nol. Banyak diantaranya yang menjadi korban keegoisan sikap orang tua dan keluarga,'' ungkapnya.

Rasa malu karena takut menerima caci maki membuat sebagian orang tua menyembunyikan keberadaan sang anak. Hal itulah yang mendorong pihak panti menerapkan sistem jemput bola, mendatangi rumah-rumah penyandang disabilitas. Sebagian penyandang disabilitas yang didatangi pihak panti berdomisili di luar Kota Padang. Dari 19 kabupaten dan kota yang menjadi target penyelenggaraan program Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, hanya Mentawai satu-satunya yang susah dijajaki. Selain akses transportasi yang sulit dan terbatas, Abdul Gafar mengakui, daerah tersebut tidak pernah mengajukan permintaan pembinaan anak-anak disabilitas.

Pada kesempatan yang sama, Kepala UPTD PSBN Tuah Sakato, Kamisar Kamus mengatakan, rasa percaya diri dan kegigihan menekuni profesi telah mengantar anak-anak tersebut sampai pada jenjang kemandirian. Keterampilan praktis yang ditekuni menjadi ujung tombak menopang kerasnya alur kehidupan. Sebagian mereka telah mendirikan usaha pijat yang tersebar pada berbagai daerah seperti Jambi, Pekanbaru, Batam dan kota lainnya.  Tidak sia-sia pengorbanan guru-guru yang dengan kesabarannya menggembleng anak-anak yang awalnya awan dalam segala hal. Cucuran keringat  telah berbayar dengan kepuasan, perasaan haru menyeruak dada para guru  manakala melihat 13 anak didiknya telah menyelesaikan masa pendidikan di panti yang berkapasitas 50 penghuni tersebut.

''Dengan bekal keterampilan tersebut, mereka tidak lagi menjadi buah bibir,  justeru sebaliknya,  mereka kini menjadi mahkota kebanggaan orang tua dan keluarga,'' terang Kamisar Kamus.

Mengapa tidak, dengan kemampuannya, anak-anak itu mampu berdiri dengan kakinya sendiri, berbagi dengan sesama. Pada dasarnya,  tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, kata-kata itulah yang memotivasi mereka untuk selalu tegar dan optimis menjalani kehidupan  yang penuh dengan risiko dan tantangan.  PSBN Tuah Sakato berkapasitas 50 penghuni dan 30 instruktur dari berbagai keilmuan. Dengan keterbatasannya, panti dengan anggaran operasional satu milyar rupiah  per tahun ini tetap  berupaya  maksimal dalam capaian.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00