• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Menyongsong Masa Depan di Lingkaran Maut

9 December
17:39 2018
1 Votes (1)

KBRN, Padang : Tidak ada yang berubah dari wajahnya. Nagari Garabak Data di Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok provinsi Sumatra Barat masih seperti 4 tahun yang lalu, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di kampung terisolir ini. Sawahnya, sungainya, masih seperti dulu. Begitu juga dengan jalan yang menghubungkan antar kampung di daerah ini, nyaris tidak ada yang berubah. Dibutuhkan waktu sekitar enam jam perjalanan untuk sampai ke Garabak Data dari ibu kota kabupaten Solok Arosuka, dengan jarak tempuh lebih  kurang 100 kilometer.

Untuk sampai ke Nagari Garabak Data, butuh perjuangan, apalagi bagi yang baru pertama kali berkunjung ke kampung ini. Sampai-sampai ada pepatah Minang yang agak hiperbolik, “untuak sampai ka Garabak Data, tigo kali bacakak jo harimau”, artinya “untuk sampai ke Kampung Garabak Data tiga kali bertemu dan berkelahi dengan harimau”. Penuh tantangan dan risiko, mengingat di sepanjang jalan yang lebarnya sekitar 3 meter itu,  kanan kirinya  menganga jurang yang cukup dalam. Jalanan dari tanah merah  itu dipenuhi bebatuan dan lubang-lubang besar yang menyulitkan kendaraan untuk bisa sampai ke nagari berpenduduk sekitar 600 KK itu. Akses masuk ke nagari kian sulit jika suasana berubah gelap. Nagari yang dilingkari bukit dan lembah hijau itu belum dimasuki jaringan  penerangan. Kalau pun pada malam hari, sekilas dari kejauhan terlihat  bayangan cahaya lampu, tidak lain berasal dari rumah-rumah penduduk yang untuk kebutuhan penerangan terpaksa  menggunakan sumber energi lain seperti genset.

Keterbatasan sarana prasarana tidak lantas membuat warga di Nagari Garabak Data kehilangan semangat hidup. Hari – hari tetap dijalani sebagaimana biasa, warga yang sehari-hari menggantungkan hidup dari kegiatan bertani tetap optimis menyekolahkan anak.Tidak satu atau pun dua putra-putri daerah yang telah mengecap bangku pendidikan perguruan tinggi. Berbekal semangat dan impian ingin membangun kampung tercinta, sebagian anak rela berpisah dengan keluarga,  meninggalkan kampung  dan berangkat ke kota dengan harapan melanjutkan pendidikan demi secercah harapan  yang ingin diwujudkan kelak. Mimpi itulah yang awal mula mendorong langkah Yurnita, tenaga pengajar yang kini tercatat mengabdi pada salah satu SD di  Nagari Garabak Data untuk menyongsong cita-cita mulia, menjadi seorang guru.

Tamat dari bangku SMA, Yurnita yang masih belia mengutarakan niatnya kepada  sang ibu,  memohan agar direstui keberangkatannya ke kota. Tidaklah mudah meyakinkan ibunya yang ketika itu beranggapan Yurnita  masih kecil  dan belum mampu hidup mandiri. Namun berbekal semangat dan cita-cita luhur kelak ingin memajukan kampung, Yurnita akhirnya berhasil meluluhkan hati sang ibu. Pada hari yang ditentukan, sulung dari tiga bersaudara ini meninggalkan kampungnya  untuk sementara waktu.

Dalam perjalanannya menelusuri setapak berbatu dan berliku, dalam hati ia bertekad,  pulang ke kampung beberapa tahun kemudian membawa segudang ilmu untuk merubah keadaan menjadi lebih baik.

Yah begitulah, tidak banyak yang tahu keadaan sesungguhnya kampung yang ia pijaki selama bertahun-tahun. Karena sulitnya akses,  berbagai kebutuhan seringkali terpinggirkan, termasuk akses mengecap pendidikan yang layak. Tidak heran, jika masa depan pendidikan anak-anak kampung menjadi buah pemikiran seorang Yurnita ketika itu. Ia tidak ingin keterbelakangan  terus  mendera  kehidupan  warga hingga ujung-ujungnya  pendidikan  harus berada diurutan paling bawah.

“ Niat bersekolah hanya bagi mereka yang  betul-betul punya keinginan saja,” ujarnya kepada RRI, Sabtu, (8/12/2018).

 Tidak heran jika tamat bangku sekolah dasar, anak-anak di kampung  lebih memilih bertahan di rumah atau membantu orang tua bertani di sawah dan ladang. Bagi yang perempuan, lebih memilih fokus di dapur, mengurus rumah  untuk persiapan kelak berumah tangga. 

Yurnita sejenak menghela nafas, terbayang seketika suka-duka dan perjuangan hidup menamatkan bangku sekolah dasar. Jarak rumah ke sekolah menempuh perjalanan puluhan kilometer. Dengan bertelanjang kaki, Yurnita kecil tertatih-tatih menuju sekolah yang ketika  itu kondisi bangunannya jauh dari kata layak.

Jika hujan mengguyur kampung, akses ke sekolah kian bertambah sulit. Tidak hanya menyeberangi sungai, untuk sampai ke sekolah anak-anak juga harus berjuang melewati lumpur yang berasal dari tanah merah yang bercampur genangan air hujan di setapak licin dan terjal. Sebelum sampai ke gerbang sekolah, seragam merah putih yang dikenakan siswa  sudah dipenuhi bercak-bercak lumpur. Apesnya,  tidak sedikit yang tergelincir dan terpaksa membawa seragam kotor ke sekolah. 

Ujian belum berakhir, kelas yang digunakan untuk tempat belajar pun kondisinya tidak seperti bangunan  sekolah pada umumnya. Hanya semangat yang membuat siswa bertahan, belajar di dalam ruangan yang atap sengnya sudah dipenuh lubang. Jika hujan deras, ruangan dimasuki air yang merembes deras  dari lubang-lubang yang menganga tersebut. Satu hal yang tidak bisa dilupakan seorang Yurnita kecil, ketulusan yang terpancar dari seraut wajah guru yang mengajarnya ketika itu. Meski hanya bersiswakan 3 hingga 5 orang per kelas, sang guru tidak pernah mengeluh dan menyerah.

“ Beliau selalu menyemangati kami rajin belajar, sepaya kelak bisa menjadi orang besar, mambangkiek batang tarandam, begitu peribahasanya,” papar Yurnita.

Dengan kesabarannya, ia mewariskan ilmu-ilmu yang dimiliki kepada para muridnya yang suatu ketika diharapkan dapat melakukan hal yang sama, mengabdi tanpa harus mengejar pamrih. Sejak saat itu, tergores keinginan mengikuti jejak sang guru. Ia tidak ingin, anak-anak seusianya  di kampung pasrah menerima nasib. Ia pun tidak menginginkan, ke depan masih ada orang tua yang melarang anaknya bersekolah dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Hanya karena kemiskinan, masa depan anak terbaikan. Dalam pikirannya, sungguh mengerikan jika keadaan demikian terus dibiarkan. Harus ada generasi yang  mau berkorban, setidaknya berani meninggalkan kampung untuk menjemput sebuah impian.

Yurnita pada akhirnya memantapkan niat, meneruskan pendidikan pada salah satu perguruan tinggi terkemuka di Kota Padang. Empat tahun berjuang keras di rantau orang dan kerindunan yang begitu besar pada orang tua ia tepis jauh. Komunikasi diakui tidak selancar sekarang ini  karena dahulu peralatan masih sangat terbatas. Untuk mengusir rasa rindu pada keluarga tercinta, Yurnita hanya bisa menumpahkan perasaaannya pada sepucuk surat yang ia kirim lewat pos.

Setelah sekian lama berjuang, masa yang ditunggu akhirnya tiba. Yurnita yang telah meraih gelar sarjana kembali ke kampung halaman. Dalam perjalanan pulang ke kampung, matanya tidak henti menatapi satapak demi setapak yang dilewati beberapa tahun silam. Tidak ada yang berubah, masih seperti dulu. Hatinya kian terenyuh manakala pandangannya tertuju pada segerombolan anak berseragam merah putih tanpa sepatu, tertatih-tatih menuruni bukit.

Hatinya menjerit, ingin segera merubah keadaan. Setelah menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan kuda beban,  Yurnita  sampai di depan rumah. Orang tua dan saudara-saudara di kampung menyambutnya dengan perasaan bahagia. Yurnita bukan tipikal perempuan yang mau berlarut-larut menerima keadaan. Berbekal doa restu orang tua, Yurnita memantapkan hati mengabdi di kampung halaman.

Hari berikutnya, Yurnita mengayuhkan langkah dan terhenti pada salah satu sekolah yang bangunannya tersembunyi di ketinggian bukit, SD Negeri 07 Garabak Data. Hatinya menangis menyaksikan realita yang tidak kunjung berubah. Perjalanan waktu  yang sudah cukup panjang nyatanya  tidak juga merubah keadaan menjadi lebih baik.

Padahal di luar sana, orang-orang sudah hidup dengan kematangan. Bangunan sekolah yang menyerupai gedung-gedung mewah dengan para muridnya yang sudah didukung fasilitas belajar yang lengkap. Bertolak belakang dengan kenyataan yang dihadapinya sekarang ini. Jangankan fasilitas mewah, untuk sampai ke sekolah saja anak-anak ini harus bertaruh maut, katakanlah menempuh  ruas jalan dengan kanan kiri jurang yang harus dilalui setiap harinya.

Tiba-tiba ia tersentak, ketika suara kecil menyapa kehadirannya. Suara itu ternyata berasal dari bocah perempuan yang umurnya diperkirakan 7 tahunan. Yurnita tersenyum pada sang bocah yang tidak lama setelah itu memasuki sebuah kelas tanpa alas kaki, menjinjing kantong plastik yang berisikan beberapa buku tulis.

Tanpa menunggu lagi, Yurnita menuju salah satu ruangan yaang tidak lain ruang kepala sekolah. Dihadapan kepala sekolah,  ia langsung mengutarakan niat tulusnya mengabdi sebagai guru di sekolah itu. Gayung bersambut, Yurnita diterima dengan senang hati di sekolah itu.

Bertahun- tahun ia mengabdi sebagai tenaga sukarela dengan honor yang diterima per bulan Rp50 hingga 80 ribu. Bukan soal besar kecil  uang  yang diterima yang membuatnya bisa bertahan, namun impian masa kecilnyalah yang menjadikan Yurnita kian tegar dan mantap menentukan pilihan.

Tidak ada sesal atau pikiran untuk berpaling dari langkah semula. Justeru ia merasa telah menemukan kehidupan yang sesuangguhnya.

“ Di kampung kelahiran ini, saya bisa lebih fokus mengabdi untuk orang-orang yang dicintai. Saya lebih leluasa memberikan pencerahan kepada warga kampung, tidak hanya anak-anak yang diajar, namun juga orang tua yang selama ini acuh dengan dunia pendidikan,” ungkapnya tulus.

Alhasil,  keadaan sedikit demi sedikit mulai berubah. Para orang tua yang sebelumnya ngotot untuk tidak menyekolahkan anak, satu-satu per satu mulai membuka hati. Contoh kecil perubahan dapat dilihat dalam keseharian, jika sebelumnya orang tua melepas begitu saja anaknya ke sekolah, sekarang satu atau dua dari mereka dengan kesadarannya mengantar anaknya hingga gerbang sekolah.

Yurnita bahagia dengan perubahan kecil itu. Ia berharap untuk seterusnya warga optimis menyekolahkan putra-putrinya. Dalam berbagai kesempatan, ia tidak hentinya memberikan pemahaman kepada warga terutama generasi muda agar tidak patah semangat menimba pengetahuan. Pendidikan menurutnya hal yang sangat penting dan luar biasa karena sejatinya, pendidikan kunci bagi  setiap orang untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Dari pendidikanlah, orang bisa merubah hidup. Kualitas pendidikanlah yang bisa merubah keterbelakangan menjadi sebuah kemajuan yang luar biasa.

Hal demikian bukan sekedar cerita atau isapan jempol belaka. Yurnita mencontohkan beberapa desa yang keadaan sebelumnya tidak jauh beda dengan Nagari Garabak Data. Berbekal keinginan kuat putra-putri daerah, mereka yang telah mengecap pendidikan layak berjuang mengusir ketertinggalan.

Godaan dan bujukan rupiah bukan tidak pernah mendatangi Yurnita dan generasi lain yang fokus membangun kampung halaman. Namun sebagai orang yang pernah merasakan susahnya kehidupan di kampung, Yurnita tidak lupa diri. Menurutnya, siapa lagi yang peduli  dengan masa depan kampungnya jika bukan mereka yang terlahir dari sana dan punya keinginan tulus membangun kampung.   

Cita-cita luhur tersebut juga terpatri dalam diri seorang Wiza, gadis kelahiran 25 tahun silam yang saat ini tercatat sebagai anggota PPK di Kecamatan Tigo Lurah. Keterbatasan sarana prasarana kehidupan di kampung  tidak menjadikan perempuan yang hobi menulis ini  apatis terhadap kelangsungan proses demokrasi di daerah. Sulitnya medan di kampung, tidak menyurutkan niatnya mengabdi untuk kampung halaman.

Berbekal keinginan untuk segera beranjak dari keterpurukan, Wiza dan rekan-rekannya rela  naik bukit, turun bukit, menyeberangi sungai dan melewati ketinggian tebing hanya bermodalkan tumpangan kuda beban. Sosialisasi yang dilakukan ke berbagaai pelosok diharapkan Wiza  dapat merubah pandangan masyarakat bisa lebih maju. Kehidupan ekonomi yang terbatas toh menurutnya  tidak mesti menjadikan warga apatis dan mengacuhkan kelangsungan proses demokrasi di daerah.

Upaya Wiza dan teman-teman berbuah manis. Terbukti dalam beberapa periode pemilihan umum,  partisipasi warga di  Nagari Garabak Data terbilang cukup tinggi, mencapai 80 persen. Ini juga menjadi penyemangat baginya untuk bekerja lebih giat lagi.

‘’Partisipasi pemilih di Kecamatan Tigo Lurah khususnya Garabak boleh dikatakan cukup tinggilah,   rata-rata delapan puluh persen, artinyakan cukup tinggi,’’ ujarnya.

Capaian tersebut bukan semata karena kerja keras yang diperbuat seorang Wiza. Warga setempat pun jelasnya telah berjuang keras merubah keadaan menjadi lebih baik. Teringat seketika olehnya, satu keluarga yang terdiri dari ibu, bapak dan dua anak rela menempuh perjalanan yang melelahkan selama berjam-jam, menyeberangi sungai dengan membawa serta dua anak yang masih kecil untuk memberikan suaranya di TPS. Begitulah kenyataannya,  kedua bocah didudukkan di atas kuda beban, sementara ibu bapaknya berjalan mengiringi kuda beban yang ditunggangi kedua anaknya. Tingginya  antusias warga, membuat mereka tidak mempedulikan jarak puluhan kilo yang ditempuh.

Hal inilah yang menyemangati Wiza untuk terus bertahan, mengabdi dengan segala  daya dan upaya. Kondisi medan tidak lagi dihiraukan karena apa pun niat baik,  menuntut kerja keras dan pengorbanan.

Dari sekian banyak ujian, hal yang paling mendebarkan baginya adalah  jelang penyaluran logistik. Jika penyaluran logistik di daerah lain diperkirakan  hanya memakan waktu satu atau dua jam, khusus Garabak Data, toleransi yang  diberikan cukup panjang, apalagi jika musim penghujan,  bisa mencapai tujuh jam perjalanan. Perjalanan terasa makin mendebarkan jika melihat ketinggian tebing dengan jurang dalam yang menganga lebar.

Tidak satu pun pekerjaan atau pun profesi yang tidak memiliki risiko. Profesi adalah tanggungjawab yang dalam realitanya tidak semua orang mampu melewatinya dengan mulus dan tulus.  Beruntung mereka yang dengan ketulusan mampu melewatinya karena nilai sebuah pengabdian tidak  bisa ditakar dengan  berlian dan rupiah senilai apa pun.

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00