• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Petambak Ikan Air Tawar Lebih Tertarik Gunakan Pakan Tradisional

16 January
15:09 2020
1 Votes (1)

KBRN Meulaboh: Petani budidaya perikanan air tawar di kolam tambak Desa Pasie Pinang, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, lebih tertarik menggunakan pakan dari bahan tradisional untuk penghematan biaya produksi.

Zulkifli MD (68), salah seorang petani kepada RRI, Kamis (16/1/2020) mengatakan, selain menghemat biaya, penggunaan pakan tradisional membuat pertumbuhan ikan-ikan lebih cepat untuk usia panen, terutama untuk jenis ikan air payau.

"Saya sudah mencoba pakan tradisional ini sejak tiga tahun lalu, kalau sebelumnya pakan ikan dari toko seperti pelet, biaya mahal sementara pertumbuhan ikan sama saja seperti biasa," katanya ditemui di lokasi.

Biasanya untuk membeli pakan ia membutuhkan biaya minimal Rp400 ribu per bulan untuk empat karung pakan di pasar, sementara untuk pembelian pakan tradisional dari berbagai limbah yang diolah menjadi pakan hanya butuh sekitar Rp200 ribu per bulan.

Pensiunan PNS ini menyampaikan, di kolam tambak budidaya miliknya dengan luas 1,5 hektare tersebut memiliki banyak jenis ikan air tawar bernilai ekonomis, seperti ikan patin, ikan nila merah, ikan nila hitam, ikan bawal, dan ikan gurami.

"Saya juga melakukan pembibitan walau pun tidak ada bantuan dari pemerintah, kami di sini bisa mandiri dengan cara - cara manual. Tidak bergantung pada bantuan, proses produksi hanya saat ada permintaan," sebutnya lagi.

Di kawasan itu terdapat 2,5 hektare lebih kolam tambak yang dikelola oleh tiga pemiliknya, per kolam atau pemilik bisa memproduksi ikan rata - rata 5 ton - 6 ton per kali panen atau hitungan enam bulan satu kali.

Harga ditawarkan untuk ikan budidayanya itu relatif murah, seperti untuk bibit ikan hanya seharga Rp1000/ ekor - Rp2.500/ ekor untuk jenis ikan nila merah, kemudian untuk harga ikan  nila dan bawal Rp35.000/ kg, sementara ikan gurami Rp60.000/kg.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00