• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Wujudkan Kemandirian Pesantren dan Entrepreneurship Kalangan Santri” Program Kemandirian Ekonomi Pesantren Dayah Darun Nizham, Teunom, Aceh Jaya

17 October
16:08 2019
0 Votes (0)

KBRN Aceh : Dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi pesantren dan mendukung pengembangan kewirausahaan di kalangan santri, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh bekerja sama dengan Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dan Pesantren Darun Nizham menggelar acara seremonial panen singkong bersama di lahan seluas 20 hektar pada hari Kamis, (17/10/2019).

Tujuan umum program kemandirian ekonomi pesantren diantaranya adalah mendukung pengembangan kapasitas ekonomi pesantren. Apabila program dimaksud dapat mengoptimalkan aset produktif yang dimiliki oleh pesantren, maka diharapkan keuntungan usaha dapat mendukung sumber dana pendidikan yang pada gilirannya dapat mendukung kualitas santri.

Pimpinan Dayah Darun Nizham menyampaikan, Program pertanian singkong ini telah diinisasi sejak akhir tahun 2018 oleh Bank Indonesia bersama dengan Pemkab Aceh Jaya. 

"Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Bank Indonesia dan Pemkab Aceh Jaya yang telah memberikan kepercayaan dan membantu kami untuk menumbuhkan usaha pertanian singkong" 

Program pertanian singkong yang dilaksanakan di Ponpes Darun Nizham ini seluas 20 Hektar. Alhamdulillah, sebagian besar tanaman tumbuh dengan baik dan hanya sedikit yang mengalami kerusakan. Salah satu bukti keberhasilan ditunjukkan dengan hasil panen singkong yang diperoleh dapat mencapai 14 kg/batang. Keberhasilan ini tentu merupakan hasil kerja keras dari seluruh pihak. 

"Kami juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang telah memfasilitasi penjualan panen singkong dengan Sdr. Zubir selaku off-taker yang akan membeli hasil produksi singkong kami, dengan harga yang telah disepakati" ucapnya.

Pesantren Darun Nizham akan terus mengupayakan keberlangsungan unit usaha pertanian, dan mengembangkan variasi komoditas yang dianggap relevan dengan permintaan pasar.


Sementara itu  Plt Gubernur Aceh memberikan beberapa poin, yang intinya Pemerintah Aceh mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang telah mengimplementasikan program pemberdayaan ekonomi berbasis dayah di Aceh, yang telah ditunjukkan pada seremonial panen singkong bersama hari ini.

"Pemilihan komoditas singkong dinilai sudah tepat sebagai variasi dari tanaman lain yang sudah sangat banyak dikembangkan oleh masyarakat seperti padi dan jagung." Ucapnya. 

Pengembangan singkong juga diarahkan pada sisi hilir, mengingat saat ini ada semangat untuk memberikan nilai tambah dari suatu bahan mentah menjadi -minimal- barang setengah jadi sebelum dikirim keluar Aceh.

"Apabila hasil panen memuaskan, dapat dipertimbangkan penunjukkan Dayah Darun Nizham sebagai pilot project awal. Dan apabila mampu memberikan hasil yang positif, maka kemudian dipertimbangkan untuk mereplikasi di wilayah lainnya." Ucapnya.

Untuk mendukung kesuksesan pelaksanaan program pengembangan ekonomi di pesantren, diperlukan kolaborasi antara berbagai dinas. Di sisi pemasaran, Dinas Perindustrian dan Perdagangan perlu untuk memberikan perannya untuk mengupayakan adanya kepastian pasar pasca budidaya singkong dilakukan.

Selain itu  Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, Z. Arifin Lubis menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Agama, Aceh memiliki kurang lebih 1.573 dayah, yang terdiri dari 1.055 dayah salafi dan 518 dayah terpadu. Meski dengan jumlah yang cukup banyak, masih banyak dayah yang belum diimbangi oleh kualitas sarana dan pra-sarana, gedung yang layak pakai, ketersediaan ruang belajar yang memadai, serta kurikulum yang teratur. Apabila dihitung secara proporsional (dibandingkan data BPS tahun 2014), jumlah santri dengan keberadaan 1.573 dayah dimaksud dapat mencapai sekitar 247.563 santri dan 20.815 tengku.

"Dengan mempertimbangkan potensi ini, sejak 2017 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh telah memulai melaksanakan program kemandirian ekonomi pesantren, dan sampai dengan saat ini tercatat 10 pesantren existing dan 5 pesantren baru yang telah menjadi mitra Bank Indonesia." Jelasnya.

Jenis program ekonomi yang dijalankan sangat beragam, mulai dari sektor perdagangan, pertanian, perikanan, percetakan, pengolahan air minum, hingga pendirian lembaga keuangan mikro syariah. Keragaman program ekonomi di berbagai sektor ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi pesantren di Aceh, dan bahkan dapat dikembangkan lebih lanjut dalam program-program pengembangan bisnis lainnya.

"Khusus di Aceh Jaya, kami beserta Pimpinan Pesantren Darun Nizham dan Pemkab Aceh Jaya memutuskan untuk melakukan pengembangan komoditas singkong dengan tujuan mendukung perbaikan defisit neraca perdagangan (current account deficit) mengingat tingginya angka impor tepung tapioka. Selain itu, kami melihat peluang pengembangan usaha tepung di provinsi Aceh masih cukup terbuka, dengan mempertimbangkan jumlah demand yang masih lebih tinggi dari supply. Sebagian besar produk tepung yang digunakan di Aceh merupakan produk luar daerah." Tuturnya.

Namun demikian, sebagaimana di sisi hiilir, sisi hulu komoditas singkong nampaknya belum menjadi komoditas yang menarik perhatian para petani di Aceh. Hal ini disebabkan masih terjadi fluktuasi harga jual ubi di level petani. Harga dapat menyentuh Rp400/kg hingga Rp1.600/kg. Selain itu, keterbatasan modal juga masih menjadi masalah yang menghambat para petani. Dengan kondisi ini, tidak mengherankan adanya impor tepung tapioka dari luar negeri.

Oleh karena itu, kami sadar bahwa pengembangan komoditas singkong harus didukung dengan implementasi konsep yang terintegrasi dari sisi hulu hingga hilir (Integrated Downstream Upstream Business). Untuk merealisasikan konsep ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh menggandeng Sdr. Marzuki Zubir (Direktur Tepung Tapioka “Gunung Seulawah”) yang dapat berperan sebagai off-taker sekaligus pelaku industri hilir singkong. 

"Untuk mencegah fluktuasi harga, telah disepakati pembelian singkong dengan harga Rp1.050/kg. Melalui kerja sama ini, maka pihak dayah cukup berfokus pada penanaman singkong secara optimal." Paparnya. 

Untuk mendukung pengembangan kapasitas dan pengelolaan unit usaha di pesantren, kami juga telah menempatkan tim konsultan dari Pesantren Nurul Iman – Bogor. Dukungan ini tidak hanya diberikan kepada Dayah Darun Nizham, tetapi juga kepada Dayah BUDI Lamno (yang berlokasi di Aceh Jaya), serta dua pesantren lainnya.

"Salah satu kunci keberhasilan program kemandirian ekonomi pesantren adalah keberlanjutan unit usaha. Usaha yang telah dibentuk dan diinisiasi kami harapkan dapat dilanjutkan dengan metode budidaya yang lebih baik, sehingga menghasilkan tingkat produksi yang lebih tinggi."

Setelah penyampaian laporan dan sambutan, acara dilanjutkan dengan penandatanganan kerja sama jual-beli singkong antara Sdr. Zubir Marzuki dan pimpinan Dayah Darun Nizham.
? Acara dimaksud diakhiri dengan seremonial panen bersama oleh Plt. Gubernur Aceh, Kepala Perwakilan BI Provinsi Aceh, Bupati Aceh Jaya, dan perwakilan pimpinan SKPA/SKPK terkait. Selanjutntya, rombongan Gubernur Aceh, dan Kepala Perwakilan BI Provinsi Aceh melanjutkan acara di Calang dalam rangka pelepasan/launching ekspor CPO perdana ke India.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00