• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Gaya Hidup

"Sikundo" Riwayatmu Kini

22 August
18:19 2019
2 Votes (1.5)

KBRN Meulaboh: Masih teringat ketika seorang anak berumur sembilan tahun menaiki seutas tali kabel untuk menyeberang sungai dengan panjang tali lebih 120 meter, tanpa pengaman, tanpa dipandu oleh siapa pun di dekatnya.

Kondisi demikian, dapat ditemukan di wilayah pedalaman Desa/ Gampong Jambak dan Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh.

Berjalan menggunakan seutas tali dan berenang sudah menjadi "makanan", anak - anak desa setempat membantu orangtuanya ke sawah untuk bertani dan berkebun serta kebutuhan  untuk ke luar kampung dengan seutas tali.

Dengan dua kaki berpijak di atas tali kabel listrik, kemudian dua tangan sedikit berpegang pada  tali kabel bagian atas, ayunan langkahnya seakan tidak sedikit pun ragu dan takut akan terjatuh ke aliran sungai.

"Tidak takut, kalau pun jatuh ke bawah, dalam sungai". Itu lah sepengal ucapan Zulfajri (9) anak Desa Jambak, Kecamatan Pante Cermen, usai melintasi sungai menggunakan tali kabel, ditemui Reporter RRI, pada Rabu 13 Maret 2019.

Desa Sikundo hanya berjarak sekitar 80 kilometer dengan estimasi 2,5 jam menggunakan motor dari Kota Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, meski medan jalan yang sedikit sulit karena memang belum tersentuh infrastruktur.

Di sepanjang aliran sungai juga masih bisa kita temukan kaum perempuan berkumpul, mereka mendulang emas secara manual yakni "meuindang" atau lebih sederhana menyortir butiran emas dari kumpalan pasir di sungai.

Karena itu, identik nama kawasan setempat terdapat aliran Sungaimas, karena masih cukup besar potensi emas alam yang tersimpan, terutama di sepanjang aliran sungai dan mudah didapatkan warga walau hanya dengan cara manual.

Kegiatan mendulang emas di aliran sungai menjadi salah satu  sumber perekonomian masyarakat setempat, khususnya kaum perempuan sambil berendam di aliran sungai desa mereka.

"Setiap hari begini lah kerjaan, pagi sampai siang, kadang sampai sore mendulang pasir dari aliran sungai sampai ketemu butiran emas, nanti dikumpulkan dan dijual," kata Nurani (60) ditemui di aliran sungai, di bawah jembatan penghubung antar Desa Jambak dan Desa Sikundo.

Warga setempat menyebutnya dengan Indang, karena caranya dengan mengoyangkan pasir yang ditempatkan di atas alat tradisional yang mereka gunakan berbentuk wajan/ kuali yang terbuat dari bahan kayu.

Melewati jembatan tersebut, didapati perumahan warga dalam permukiman Desa Sikundo, tapi dipisahkan oleh aliran sungai, 28 unit rumah di Dusun Durian dan beberapa unit rumah di Dusun Sarah Sare di seberang sungai.

Kehidupan warga diseberang sungai ini lah yang sedikit miris, tidak ada listrik, tidak ada signal handphon, warga setempat mendapat penerang tenaga tata surya dan menggunakan mesin ginset sebagai pembangkit tenaga listrik. 

Mereka hanya mendapati informasi lewat pancaran gelombang radio frekwensi FM 97 Mhz, yakni programa 1 Radio Republik Indonesia (RRI) Meulaboh. "Hanya siaran RRI yang kami bisa dengar," kata Sari (44) seorang warga.

Meski pun ada sekolah yang dibangun dan pernah difungsikan pada tahun 2012 di dalam desa, akan tetapi sudah tidak ada tenaga pengajar, sudah tidak ada fasilitas, karena untuk menuju ke SD Sikundo, harus menggunakan seutas tali.

Ini lah yang membuat warga setempat sangat jera hidup di kawasan itu, harus berpisah dengan anak – anak apabila ingin diberi pendidikan, sebagai penerus generasi harapan yang bisa membangun desa mereka 20 - 30 tahun mendatang.

Anak - anak desa setempat terpaksa berpisah dengan orangtua mereka untuk di sekolahkan di Desa Keutambang, Kecamatan Pante Ceureumen, belum tersedia akses jalan memaksa mereka menitip buah hatinya kepada orang lain.

Pekerjaan sehari - hari warga setempat, adalah bertani dan mencari emas di sungai secara tradisional, keluarga yang tinggal di situ sudah letih, semua keterbatasan infrastruktur sangat terasa sulit dalam kehidupan sehari – hari.

Saat konflik bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) selama 20 tahun, warga desa setempat mengungsi, kemudian kembali setelah adanya perdamaian pada 2005.

Tidak tersedia akses jalan/ jembatan penghubung antar dusun, tidak ada jaringan listrik, fasilitas pendidikan terdekat, fasilitas kesehatan (faskes). Pada tahun 2019 baru lah Pemerintah Aceh menoleh semua pembangunan itu.

Jembatan Indiana Jones Jokowi dan KAT

Pemerintah melaui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dikelola Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Aceh, tahun 2019 telah mulai melakukan pembangunan 39 unit rumah Komunitas Adat Terpencil (KAT) di daerah setempat.

Pembangunan ini dilakukan setelah satu unit jembatan "Indiana Jones Jokowi" berukuran lebar 2,5 meter dan panjang 120 meter, menghubungkan jalan lintas dari Desa Jambak ke Desa Sikundo, telah selesai dikerjakan dan sudah difungsikan.

Diakui atau tidak semua progres pembangunan daerah tersebut setelah sempat viral di media, di mana salah satu televisi nasional swasta menayangkan cuplikan kehidupan seutas tali warga Sikundo, saat itu musim politik Pemilu 2019.

"Setelah selesai pembangunan jembatan penghubung Desa Jambak ke Desa Sikundo, warga setempat sudah tidak lagi terisolasi," kata Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) H T Ahmad Dadek saat ditemui di lokasi.

Seluruh warga setempat beragama muslim, tidak ada ajaran/ aliran spritual berbeda dengan warga di Aceh Barat, tetapi kini desa mereka diberi stempel permukiman komunitas adat terpencil karena ada program pembangunan rumah KAT.

Kebutuhan mendesak adalah, jaringan listrik yang sebelumnya, sama sekali belum teraliri, malahan di mushola/ surau tempat mereka beribadah terlihat ada mesin ginset, itu lah sumber pembangkit energi yang tersedia.

Sebenarnya penduduk asli warga Desa Sikundo adalah di Dusun Sarah Sare yang berada di seberang sungai, namun warga semua mengunsi ke Dusun Durian saat konflik bersenjata mendera Aceh.

Di kawasan itu merupakan tempat GAM dan TNI sering bertempur, warga ketakutan hingga berpindah tempat, kemudian warga kembali setelah ada MoU perdamaian, saat ini warga tetap mendiami kampung tanah kelahiran mereka itu.

Kepala Dinas Sosial Aceh, Alhudri, meninjau jembatan tali kabel yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah Kepala Desa Sikundo, ia bersama rombongan coba menaiki tali itu untuk menyeberang ke Dusun Sarah Sare.

Ikatan tali kabel sebagai jembatan terletak persis di belakang kantor desa yang berkontruksi papan. Tali kabel hanya diikat pada pohon kayu yang sudah lapuk, di tengah perjalanan, tali bergoyang - goyang bila lebih satu orang di atasnya.

Alhudri, mengatakan, selain membangun 39 unit rumah komunitas adat pemerintah juga akan "menggempur" desa tersebut dengan berbagai pembangunan fisik dan pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Pemerintah akan membangun rumah dengan tipe 24 yakni ukuran 4 X 6 meter persegi, rumah itu berkontruksi semi permanen, lantainya berbahan cor semen sementara dindingnya menggunakan bahan papan/ kayu.

Kemudian juga akan dibangun sebuah balai pertemuan atau "balee duek pakat", setelah semua proses tender selesai, maka Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Aceh Nova Iriansyah, yang melakukan peletakkan batu pertama.

Kepala Desa Sikundo, Ahmad Jauhari, menyampaikan, warga masih sedikit kecewa dengan pemberian rumah KAT, sebab dengan dana APBN yang cukup besar, tapi hanya rumah ukuran 4 x 6 meter yang mereka dapatkan.

Kekhawatiran warga setempat adalah, pembangunan rumah itu tidak akan maksimal, azas manfaat hanya sebenar karena bangunan rumah berkontruksi kayu dan ukurannya sangat sempit untuk satu keluarga.

Warga masih tinggal dalam gelap saat malam karena tidak teraliri listrik, bangunan rumah masih kontruksi kayu, warga sudah duduk musyawarah membicarakan hal itu sebelum pemerintah mengeksekusi pekerjaan tersebut.

Sikundo Kini

Apabila dulu harus menaiki lima unit jembatan gantung, baru lah tiba ke Desa Sikundo, kini hanya satu jembatan saja kita sudah bisa terhubung dari Desa Jambak ke Desa Sikundo tersebut, karena sudah ada jembatan gantung terbaru.

Pada 15 Juli 2019, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, berkunjung ke Sikundo, sambutan luar biasa diberikan warga, ia dipeusijuk atau ditepung tawar dan rombongan dijamu dengan kuliner ikan kerueling atau ikan jurung.

Kunjungannya itu mengawali pembangunan ditandai dengan peletakkan batu pertama pembangunan 39 unit rumah KAT, kata dia perencanaan untuk pembangunan rumah di Desa Sikundo itu sudah direncanakan jauh - jauh hari.

"Setelah adanya KAT, hadirnya MCK, rumah sehat dan nanti akan disusul dengan aksesibilitas akan kita perbaiki," katanya kepada reporter RRI.

Baca juga: Plt Gubernur Aceh Lakukan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Rumah KAT Sikundo

Warga diharapkan tetap nyaman dan tidak berencana pindah ke daerah lain, karena pemerintah akan terus meningkatkan infrastruktur dan fasilitas sosial dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kepada masyarakat, agar aktif dalam pembangunan, sehingga tidak selalu harus melalui program dan proyek kalau bisa dilakukan dengan cara bergotongroyong, karena kalau bisa bakti TNI, Polri  dan lain - lain.

"Mungkin yang akan saya dulukan terlebih dahulu adalah memperbaiki akses jalan yang layak jadi jangan ada lagi jalan yang naiknya ekstrem turunnya ekstem, tadi ada saya lihat satu titik lagi," katanya.

Untuk memperbaiki itu  tidak perlu dengan program APBN - APBA atau APBK, karena juga bisa dilakukan dengan bantuan perusahaan dengan program tanggung jawab sosial dan lingkungan Coorporate Social Responsibility (CSR).

"Semoga bantuan ini terus berlanjut, orang di sini tidak banyak namun bisa menggoyang nasional. Kami sangat berterimakasih dan berharap bantuan ini terus berlanjut," tambah Bupati Aceh Barat, Ramli, MS.

PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Aceh, juga menyalakan listrik perdana bagi masyarakat di Desa Sikundo, selepas itu, warga Sikundo tidak lagi menggunakan lampu teplok dan mesin ginset untuk kebutuhan sehari - hari.

"Ini patut disyukuri, selama ini warga hanya mengenakan lampu teplok, bahkan lilin sebagai penerang," kata General Manager PLT PLN UIW Aceh, Jefri Rosiadi.

Baca juga: PLN Resmikan Listrik Pedesaan Desa Sikundoe Aceh

PLN Aceh telah menyelesaikan pembangunan program listrik desa sebanyak  6.494 desa atau sebesar 99,94 persen dari total desa yang ada di Provinsi Aceh yakni sebanyak 6.497 desa yang tersebar di 23 kabupaten/ kota.

Hanya tersisa tiga unit desa di Aceh yang belum teraliri aliran listrik karena masih dalam tahap pembangunan, diantaranya di Kabupaten Aceh Timur sebanyak dua desa dan satu desa di wilayah Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil. (Foto Dokumentasi RRI Meulaboh)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00