• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Harga Sawit Jatuh, Pengusaha Khawatir Perusahaan Tutup

9 July
17:08 2019
1 Votes (1)

KBRN Meulaboh: Para pengusaha industri Pabrik Minyak Sawit (PMS) di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh terus merasa khawatir dampak negatif turunnya harga minyak mentah Crude Palm Oil (CPO) dapat mengancam keberlangsungan perusahaan.

"Dampak negatif dari penurunan  harga sawit, selain sangat dirasakan langsung oleh petani, juga sekligus menjadi ancaman bagi kelangsungan operasional pabrik minyak sawit," kata Jamaluddin, SH, pengusaha PMS di Nagan Raya, dalam pers rilis kepada RRI Selasa (9/7/2019).

Ia menjelaskan, harga  minyak kelapa sawit yang terus dirundung sentimen negatif tak hanya berdampak buruk kepada petani/perkebunan kelapa sawit, tetapi juga sudah mulai mengancam kelangsungan operasional pabrik pengolahan kelapa sawit.

Harga beli CPO saat ini hanya Rp 6.300/kg, sementara harga beli Tandan Buah Segar (TBS) sawit ditampung pabrik Rp880 - Rp900/kg, menyesuaikan dengan harga di tingkat petani yang dibeli oleh para agen sekitar Rp680/kg.

Kata Jamaluddin, harga  tandan buah segar yang terus anjlok sangat mempengaruhi Harga Pokok Produksi (HPP)  yang potensial merugikan industri pengolah minyak mentah tersebut.
"Tidak tertutup kemungkinan pabrik menghentikan operasinya demi menghindari kerugian yang lebih besar,"  ujar Jamaluddin.

Meski dibawah bayang-bayang potensi kerugian, Jamaluddin mengatakan pihaknya  dan para pemilik pabrik  yang ada di wilayah Aceh, khususnya Nagan Raya masih komitmen dan terus berupaya mengoperasikan pabrik.

Hal itu dilakukan sebagai wujud keberpihakan perusahaan dalam membantu masyarakat petani sawit menyalurkan hasil penannya.

"Demi keberpihakan kepada petani, kami belum pernah memikirkan untuk menghentikan produksi. Meski dalam situasi sulit, kami akan berupaya maksimal menjalankan produksi guna menampung sawit petani," jelasnya.

Terkait hasil rapat Kelompok Kerja Teknis Tim Rumus Harga TBS  kelapa sawit produksi petani di Provinsi Aceh yang ditetapkan setiap bulan sebagai acuan, menurut Jamaluddin sangat sulit untuk dipenuhi oleh perusahaan pengolah minyak mentah.

"Sebab standard harga yang ditetapkan setiap bulan tidak sejalan dengan fluktuasi harga sawit internasional yang sangat dinamis dan berubah setiap waktu," tegasnya.

Penetapan harga standard pemerintah provinsi menempatkan industri dalam posisi dilematis, jika industri pabrik minyak kelapa sawit dipaksakan menampung sawit sesuai harga penetapan pemerintah, dapat dipastikan pabrik pengolahan akan berhenti berproduksi dan tutup.

"Oleh karenanya, menjadi sangat bijaksana jika pabrik kelapa sawit menampung TBS sesuai dengan harga pasar," demikian Jamaluddin.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00