• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

50 tahun Abraim Berprofesi Sebagai Pengrajin Hio

23 January
19:25 2020
0 Votes (0)

KBRN, Medan: Perayaan Imlek 2571 yang akan jatuh pada 25 Januari 2020, menjadi hari besar bagi keturunan masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, sejumlah masyarakat keturunan Tionghoa akan menyambut perayaan imlek yang memasuki Shio Tikus Tembaga dengan penuh suka cita.

Biasanya menjelang imlek, sejumlah masyrakat Tionghoa melakukan bersih – bersih rumah dan sejumlah vihara sebagai tempat Sembahyang bagi penganut agama Buddha. Berbagai perlengkapan dan hiasan imlek juga terus diburu para warga. Salah satunya adalah Hio yang digunakan sebagai media sembahyang bagi umat Buddha dalam menyembah dewa-dewi. Hio sering disebut juga sebagai dupa.

Menjelang Imlek, sejumlah pabrik pembuatan Hio tentu menjadi momen yang bagus dalam meningkatkan hasil penjualan, sebab permintaan masyarakat yang meningkat dari hari biasa. Berbagai bentuk dan jenis ukuran Hio dihasilkan oleh para pekerja, dengan membentuk ornamen naga yang sama.

Seperti sosok pria berusia 59 tahun asal Diski, Kabupaten Deliserdang Provinsi Sumut bernama Abraim. Mungkin hidupnya selalu dihabiskan untuk menjadi pekerja pembuat Hio. Kepada RRI, Abraim sudah bekerja selama 50 tahun di sebuah pabrik yang berada di Sunggal, gang mangga Kota Medan. Arbain mengatakan, dirinya mulai bekerja sejak masih lajang, atau ketika berusia sekira 20 tahun. Abraim mengaku, keahliannya mengukir ornamen naga hanya diperoleh secara otodidak.

“Sudah 50 tahun kerja di sini aja. Sejak lajang belajar otodidak kira – kira umur 20 tahun,” ucapnya.

Abraim menjelaskan, dirinya bekerja sejak tahun 1972 atau mulai berdirinya pabrik Hio milik kakek Akoang saat masih berada di kawasan Jalan Bilal Pulo Brayan, Medan. Pekerjaan dimulai sejak pukul 6 pagi hingga sore hari. “Dulu lokasi pertama pabrik di Jalan Bilal Pulo Brayan tahun 1972. Kemudian pindah ke proyek air bersih dan pindah ke sini tahun 1976,” ucap pria berusia 69 tahun ini.

Berbagai ukiran Hio banyak ia hasilkan, mulai dari ukuran 4 Inchi hingga yang terbesar berdiameter 12 Inchi. Untuk ukuran 12 Inchi dirinya bisa menghasilkan 10 hingga 12 batang ukiran ornamen naga. “Ukuran 8 Inchi untuk satu hari bisa kita buat 15 batang dengan motif gambar naga. Terus untuk ukuran 12 inchi sampai 10 batang per hari. Kalo 4 Inchi dua pekerja bisa hasilkan 40 batang,” akui pria yang memakai topi itu.

Dijelaskan Abraim, untuk membuat Hio tentu memerlukan waktu panjang minimal 2 bulan mulai tahap pengolahan bahan dasar serbuk hingga siap untuk dijual. Untuk bahan dasar Hio diperoleh dari bahan abu kayu sisa pengrajin mebel atau panglong. Sebelum dicetak dalam bentuk gulungan, sebelumnya serbuk digiling di mesin untuk mendapat tekstur yang lembut. Setelah dicetak dalam bentuk gulungan, kemudian dijemur dalam waktu 6 hari. Setelah kering kemudian dibentuk ornamen naga, selanjutnya di cat dan tahap terakhir adalah pengeringan.

“Terbuat dari abu kayu sisa panglong. Selanjutnya dihaluskan ke mesin penghalus kemudian dicetak ke dalam kayu panjang. Setelah itu yang sudah dicetak ke batang, dijemur paling cepat satu minggu. Sedangkan untuk ukuran besar sampai berbulan – bulan karena harus melalui beberapa proses tahapan. Diwarnai dengan pewarna gincu,” ucap pria asal Kalimantan ini.

Satu bulan menjelang Imlek dikatakan Abraim permintaan meningkat dari hari biasa. Bahkan permintaan tidak hanya berasal dari daerah Sumut, namun juga luar Sumut bahkan hingga ke Jawa. ‘Tidak hanya waktu imlek saja, tapi hari biasa tetap produksi seperti biasa. Hampir seluruh Indonesia di kirim. Termasuk ke Sumatera, Padang, Rantau Parapat, Siantar, Jawa juga,” akuinya. (Joko Saputra)

  • Tentang Penulis

    Joko SA

    System Admin RRI Medan<br />

  • Tentang Editor

    Joko SA

    System Admin RRI Medan<br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00