• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Bayi Cacat Diduga Akibat Dampak Penambangan, Dinkes Sumut Lakukan Pemeriksaan

19 November
19:05 2019
0 Votes (0)

KBRN, Medan : Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara akan melakukan pemeriksaan terhadap beberapa kasus bayi baru lahir dalam kondisi cacat di Kabupaten Mandailing Natal yang diduga akibat aktivitas pertambangan illegal di daerah tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Alwi Mujahit Hasibuan mengatakan, Dinkes menjadi bagian dari tim yang dibentuk Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, untuk meneliti apakah ada kaitan limbah tambang ilegal dengan cacat pada bayi baru lahir. Menurut Alwi, Dinkes akan bekerja sesuai bidang kerjanya dalam hal ini mencari hubungan penyakit pada bayi lahir dengan limbah kimia tersebut.

“Kalau kita soal penyakitnya, apa ada hubungannya dengan itu (limbah),” ujar Alwi Hasibuan di Medan, Selasa (19/11/2019).

Alwi menyebutkan, pasca adanya kasus kematian bayi baru lahir dengan kondisi usus di luar perut, awal November lalu, Dinkes Sumut bersama Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) telah melakukan pemeriksaan kadar mercury terhadap air baku di Madina, namun hingga kini belum ada hasilnya. Dikatakan Alwi, Dinkes akan berkoordinasi dengan BBTKL di Medan untuk kembali melihat kaitan antara cemaran limbah mengandung mercury dengan kasus bayi lahir cacat.

Namun Alwi mengakui bahwa mercury dapat mengganggu kesehatan tidak saja terhadap ibu hamil tapi juga dapat menjadi pemicu kanker. 

“Makanya alat-alat kesehatan sekarang tidak pakai mercury lagi,” pungkasnya. 

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi membentuk tim untuk menutup aktivitas pertambangan ilegal di Madina yang diduga menjadi penyebab cacatnya beberapa bayi baru lahir di daerah tersebut dalam dua tahun terakhir ini. Sebab pertambangan liar itu menggunakan zat kimia yaitu merkury.

Pembentukan tim itu menindaklanjuti surat dari Bupati Madina, Dahlan Nasution, tertanggal 15 November 2019. Dahlan melaporkan 5 orang bayi di daerahnya lahir dalam kondisi cacat dalam dua tahun terakhir ini.

Menurut Dahlan, para dokter menduga bayi cacat itu merupakan dampak dari maraknya pertambangan liar di kabupaten tersebut yang menggunakan mercury dalam aktivitas pertambangannya. Untuk itu, Dahlan meminta semua pihak bertindak untuk menutup aktivitas pertambangan liar itu. 

Bahkan berdasarkan pengakuan beberapa ibu dari bayi cacat itu, saat hamil mereka aktif bekerja di mesin pengolahan menggunakan zat kimia sebagai tukang pencet (memisahkan batu halus) tanpa menggunakan sarung tangan.

Dikatakan Dahlan, pemakaian zat kimia dalam pertambangan ilegal berdampak buruk bagi kesehatan karena mencemari lingkungan air permukaan, air bawah tanah, maupun pertanian/perkebunan rakyat.

Kemudian mesin pengolahan sebanyak 700 unit hingga 1.000 uni kerap dioperasikan bersebelahan dengan rumah-rumah ibadah, sekolah-sekolah, rumah-rumah warga maupun di seputaran lahan pertanian/perkebunan.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00