• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Curahan Hati Mertua Pelaku Bom Bunuh Diri, Anak dan Menantunya Sama-sama Terpapar Paham Radikal

15 November
17:24 2019
0 Votes (0)

KBRN, Medan : Kasus bom bunuh diri yang dilakukan Rabbial Muslim Nasution (24) alias Dedek di Mapolrestabes Medan, menyeret beberapa orang lainnya yang diduga terlibat. Satu diantaranya adalah Dewi, istri Dedek.

Polisi bahkan menyebut Dewi lebih dulu terpapar paham radikalisme dan merencanakan serangan di Bali. Namun, ayah Dewi yang juga mertua Dedek, Andi Syahputra, punya cerita lain. Menurut Andi, Dedek dan Dewi diduga salah menerima pemahaman tentang agama dari kelompok pengajiannya. 

Andi menuliskan awal kisah anak dan menantunya terpapar paham radikalisme oleh orang yang disebut sebagai guru spiritual. Curahan hati itu dituliskan Andi di akun Facebook-nya Andi Syahputra, Jumat (15/11/2019).

" Assalamu'alaikum warohmaatullaahi wabarokaatuh. Sepenggal cerita kisah hidup Dewi Anggreini istri dari Rabbial muslim Nasution pelaku bom bunuh diri,” begitu Andi mengawali ceritanya di FB.

Andi menceritakan, usai menikahkan Dewi dengan Dedek pada 2 Desember 2018, anak dan menantunya itu meminta membuka sebuah usaha warung makanan. Ia kemudian mengontrak sebuah warung di Pasar II Barat Marelan.

Dedek dan Dewi akhirnya berjualan di warung tersebut. Hingga pada suatu hari, mereka kedatangan tamu yaitu anggota keluarga Dedek.

"Dedek dan Dewi tinggal dan hidup di warung tersebut. Kira-kira di bulan Maret saya melihat ada dua orang berambut gondrong sedang mengobrol dengan Dedek di warung tersebut. Hari-hari berikutnya saya melihat mereka semakin akrab dan saya sempat mendengar pecakapan mereka tentang Agama," lanjutnya.

Andi melanjutkan, semakin hari dia melihat jumlah mereka semakin banyak dan mereka membawa istri dan anak mereka yang masih kecil.

"Saya sendiri merasa kurang simpati melihat mereka yang berambut gondrong seleher dan berpakaian agak dekil. Namun saya ada rasa kasihan melihat istri dan anak mereka yang masih kecil-kecil. Dan mereka semakin sering dan semakin akrab seperti bersaudara dengan Dedek dan Dewi," jelasnya.

Hari berikutnya, Dedek dan Dewi juga sering pergi ke tempat orang-orang tersebut di daerah Belawan dan warung pun sering ditutup. Saat ditanya, Andi dan Dedek mengaku mengaji di sana. 

Andi melihat perubahan besar dari putrinya yang ia syukuri, yakni semakin rajin shalat. Namun ada perubahan lain yang membuatnya syok. Pada Pemilihan Presiden 2019 lalu, Dewi dan Dedek tidak mencoblos alias golput dengan mengatakan bahwa demokrasi itu haram.

Andi sempat menegur anak dan menantunya karena usaha yang dibangun jadi tutup karena aktivitas pengajian mereka di Belawan yang semakin sering.

"Mereka mengatakan bahwa dunia ini kurang penting dibandingkan mengejar akhirat. Lagi-lagi saya mengalami kekecewaan dan akhirnya mereka memutuskan untuk tidak berjualan lagi," ujarnya. 

Menjelang bulan Puasa, anak dan menantunya kehabisan uang karena Dedek tidak lagi bekerja. Keduanya datang ketempat Andi dan membantunya berjualan. Tak disangka, Dedek dan Dewi mengundang teman ngaji mereka untuk berbuka puasa di tempat Andi.

"Ada dua kali mereka datang membawa istri dan anak mereka," sebutnya.

Pada moment Idul Fitri 2019, Andi terkejut saat Dedek membisikkan sesuatu ke telinganya.

"Hari Lebaran kami berkumpul di rumah ibu saya untuk bersalaman sungkem. Pada saat Dedek bersalaman dengan saya, Dedek membisikkan pada saya 'tenang aja bapak, saya akan membantu bapak masuk surga nanti," ungkapnya. 

Andi menuturkan, makin hari, Dedek dan Dewi kurang akrab dengan anggota keluarga karena berselisih tentang pemahaman agama.

"Mulailah terjadi keretakan persaudaraan. Sering dinasehati tapi Dedek bersikeras dengan pahamnya,” ujarnya.

Bulan berikutnya, Dedek dan Dewi pindah rumah ke Pasar I Rel Gang Amal dan mengatakan kepada ibunya (istri Andi) bahwa nanti pengajian wanita kelompok mereka akan diadakan di rumah mereka. Dewi sempat mengajak ibunya untuk ikut mengaji.

“Tapi akhirnya tak jadi," kenangnya. 

Berikutnya, Dewi membantu Andi berjualan dan Dedek pun mulai mau narik ojek online (Ojol). Namun hanya berselang tiga minggu, Dedek pun tak mau lagi ngojek online.

Dedek bahkan membawa Dewi yang membantu ayahnya untuk di rumah saja menjadi ibu rumah tangga yang baik.

"Saya prihatin melihat Dewi. Tapi tak bisa melawan Dedek, karena kata Dedek istri tak boleh melawan suami nanti masuk neraka,” katanya.

Andi kemudian menceritakan bahwa istrinya, ibu Dewi, mendengar kabar bahwa Kepling Jalan Jangka Medan disuruh mengecek warganya karena ada jaringan teroris.

“Mamak Dewi memanggil Dewi dan menanyakan pada Dewi. Dewi mengatakan bahwa ia disuruh teman ngajinya untuk mengantar obat kepada salah satu napi berinisial l di Lapas Medan," tuturnya.

Andi mengaku sempat stres mendengarnya dan menyuruh Dewi untuk berhenti mengikuti kelompok pengajiannya di daerah Belawan tersebut. Sebab ia melihat perubahan sikap dari anak dan menantunya yang semakin tidak bisa dinasehati.

“Sepertinya otak mereka telah tercuci oleh guru ngaji mereka,” ujarnya.

Andi melanjutkan, berselang dua bulan, Dedek dan Dewi memutuskan untuk pindah rumah ke Pasar I Rel Gang Melati 8 dan minta izin menjual barang-barang di warung untuk modal pindah rumah. Dewi dan Dedek ingin berjualan di rumahnya yang baru dan sempat minta bantuan modal dari adik Dewi, W. Namun keduanya tak juga berjualan dan terus berteman dengan kelompok pengajiannya.

Menurut Andi, Dedek dan Dewi sering mengambil makanan ke rumahnya dan kadang meminta uang. Kemudian pada 12 November 2019 malam, malam sebelum peristiwa bom bunuh diri Dedek, Dewi menelepon adiknya W dan mengatakan mau berjualan makanan. Andi sangat senang mendengarnya dan berniat ingin membantunya. 

"Namun apa daya, pada tanggal 13 - 11 - 2019  terjadilah peristiwa bom bunuh diri tersebut dan pelakunya adalah Dedek menantu saya,” tulisnya.

Andi dan istrinya kemudian bergegas ke rumah Dewi dan Dedek dan mendapati rumah mereka dalam keadaan tergembok dari luar. Dia juga tidak menemukan Dewi.

“Istri saya hampir pingsan dan saya berusaha tenangkan," paparnya.

Sekitar pukul 15.00 WIB, Andi kemudian dijemput polisi dari rumahnya dan mengantar polisi ke rumah Dedek di Pasar I Rel Gang Melati 8. Andi juga menyampaikan semua keterangan yang diketahuinya kepada pihak polisi.

Sekira pukul 17.00 WIB, Dewi ditemukan polisi di daerah Belawan berjalan kaki dalam keadaan lunglai. Sampai sekarang Dewi berada di Markas Brimob Medan.

“Saya tidak tahu siapa yang merencanakan atau berniat untuk bom bunuh diri tersebut dan saya tak tahu siapa yang merakit bom tersebut," jelasnya.

Saat ini, Andi hanya bisa menangis dalam sujudnya melihat kenyataan ini.

"Hanya tetesan air mata yang membasahi sajadah saya dan saya selalu berdoa dan berharap semoga polisi segera menemukan dan menangkap sang guru  spiritual mereka bersama anggota kelompok mereka yang telah melarikan diri," tegasnya.

Di akhir unggahannya, Andi meminta tulisannya disebarkan agar tidak terjadi simpang siur.

"Kepada yang membaca cerita ini saya mohon maaf yang sebesar-sebesarnya dan saya berharap agar postingan saya ini dibagikan atau di sebarkan agar tidak terjadi berita yang simpang siur, sekali lagi saya mohon maaf, wassalam," tutupnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00