• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Olahraga

Jatim Juara Umum Peparpenas 2019, Terjadi 19 Pemecahan Rekor Nasional

13 November
01:05 2019
0 Votes (0)

KBRN, Medan: Perhelatan multi event olahraga terakbar bagi atlet difabel Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) ke –IX tahun 2019 di Jakarta, telah resmi berakhir. Peparpenas ditutup oleh Sekretaris Kemenpora RI Gatot S Dewa Broto, di GOR Pulogadung, Jakarta Timur, pada Selasa (12/11) malam. Penutupan ditandai dengan penekanan tombol sirine dan pembagian cendera mata berupa plakat.

Hadir Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora Raden Isnanta, Asdep pengembangan olahraga tradisional dan layanan khusus Kemenpora Aris Subiyono, Kadispora DKI Jakarta Achmad Firdaus, serta Wakil rektor Universitas Negeri Jakarta.

Sekretaris Kemenpora Gatot Dewa Broto mengapresiasi kepada panitia khususnya dari Dispora DKI Jakarta yang telah bersedia menjadi fasilitator yang baik meski hanya dengan persiapan kuang lebih dua bulan saja. Bahkan selain sukses penyelenggara, Peparpenas tahun ini juga terjadi pemecahan rekor nasional di 19 nomor lomba di cabang olahraga renang. Gatot menilai hal itu merupakan sejarah bagi ajang Peparpenas karena untuk pertama kalinya pelaksanaan Peparpenas dilakukan dalam waktu dua bulan saja, setelah tuan rumah semula yakni Papua.

“Ada 19 rekor nasional di Peparpenas tahun ini yang sudah dipecahkan. Sesungguhnya ada satu rekor lagi yang dipecahkan. Persiapan Peparpenas ini hanya dilakukan dalam waktu dua bulan. Sya tahu persis, karena beliau saksinya. Tanggal 20 agustus kami terima surat dari gubernur Papua bahwa Popnas dan Peparpenas dipindahkan ke Jakarta. Tanggal 23 kami kirim surat Pak Menpora Imam Nahrawi kepada gubernur DKI. Tanggal 25 Agustus diputuskan DKI bukan panitia, melainkan penyediaan sarana dan prasarana, Belum pernah dalam sejarah ini, Peparpenas dilangsungkan dalam waktu dua bulan,” ucap Gatot.

Gatot berharap sukses event Peparpenas tahun ini juga diharapkan bisa terjadi di ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2019 yang juga berlangsung di Jakarta mulai 15 hingga 25 November mendatang. Meski sempat batal terlaksana pada 2019, akhirnya dengan soliditas Kemenpora dan Dispora DKI Jakarta akhirnya baik Popnas maupun Peparpenas bisa terlaksana dengan lancar dan suskes. Termasuk kejutan di Peparpenas tahun ini Gatot berharap pemecahan rekornas juga bisa menular di Popnas.

“Tangagl 17 akan ada Popnas di Jakarta. Polanya sama, itu berarti ada rekor kedua lagi yang dilakukan dalam waktu dua bulan bisa diselenggarakan Popnas. Itu sebagai bentuk solidaritas kami terhadap saudara – saudara kita yang ada di Papua. Karena perintah Menpora waktu itu Popnas dan Peparpenas harus tetap dilakukan. Jangan coba di bawa mundur ke tahun 2020,” pinta Gatot.

Gatot menambahkan dengan semakin maraknya event Peparpenas ini makan menjadi pemacu para atlet Sumut di daerah untuk bisa mendapatkan hak dan kewajiban sama dengan atlet normal. “Pertama kali dalam sejarah, biasanya itu Popnas duluan tetapi ini Peparpenas duluan. Jadi, ini sebagai bentuk apresiasi kami kepada penyandang disabilitas seluruh Indonesia. Haknya sama dan kewajiban juga sama dan juga perolehan yang mereka dapatkan juga sama,” sambungnya.

PEPARNAS TETAP DI PAPUA

Di sela – sela kata sambutan Gatot, kabar terbaru kembali diterima pihak Kemenpora. Jika semula Gubernur Papua Lucas Enembe memastikan bahwa ‘Bumi Cendrawasih yang semula hanya akan menjadi tuan rumah pelaksana Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020, namun dalam beberapa hari ini diputuskan jika Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) juga tetap dipertandingkan di Papua.

“Ada berita bagus dari pak Gubernur Papua Pak Lucas Enembe yang semula Peparnas itu tidak akan diadakan di Papua. Papua hanya sanggup untuk PON. Tapi, seminggu yang lalu pak gubernur sudah menyatakan bahwa Peparnas tetap dilakukan di Papua,” tegas Gatot.

Dengan dipastikannya ajang Peparnas 2020 bakal tetap menunjuk Papua sebagai tuan rumah, juga menjadi catatan penting bahwa Peparpenas gengsinya hampir sama dengan Popnas.

“Memang tidak mudah untuk membujuk kemarin. Tugas kami membujuk dan membujuk sehingga akhirnya bisa. Itu sebagai bentuk apresiasi bahwa Peparnas itu tidak kalah pentingnya dibanding PON. Sama halnya Peparpenas tidak kalah pentingnya dari Popnas,” ujra Gatot.

Sementara itu ketua panitia Peparpenas sekaligus Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora Raden Isnanta berharap melalui event nasional ini terjaring atlet- atlet andalan Sumut sebelum berlaga di Asian Paragames 2020.

“Semoga prestasi dari adek – adek atlet berprestasi ini dapat ditingkatkan terus. Harapannya mereka ini akan menjadi perwakilan Indoensia di ajang – ajang internasional. Mulai dari ASEAN Paragames 2020 di Filipina, Paralimpiade 2020 di Tokyo, dan Asian Paragames 2022 di Hangzhou,” ucapnya.

Pada Peparpenas yang berakhir Selasa (12/11) malam, kontingen Jawa Timur tampil sebagai juara umum, Jatim mengumpulkan 20 emas, 2 perak, 1 perunggu. Sementara juara Peparpenas 2017 Jawa tengah harus puas tahun ini sebagai runner up usai menorehkan total 13 emas, 10 perak, 3 perunggu. Kemudian Papua posisi tiga dengan 11 emas, 8 perak, dan 7 perunggu. Kemudian Kalimantan Selatan di posisi keempat dengan 9 emas, 16 perak, dan 6 perunggu.  Serta Jawa Barat melengkapi posisi lima besar dengan 9 emas, 4 perak, 3 perunggu. Sumut berada di peringkat 11 dengan 3 emas, 10 perak, dan 4 perunggu. Juara umum 1 mendapat uang pembinaan senilai Rp 100 juta, Juara umum II Rp 75 juta, dan juara umum III Papua meraih Rp 50 juta. (Joko Saputra)

  • Tentang Penulis

    Dadan SF

    System Admin RRI Medan<br />

  • Tentang Editor

    Dadan SF

    System Admin RRI Medan<br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00