• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Perkuat Dialog dan Diskusi Lawan Radikalisme.

1 June
19:15 2017
0 Votes (0)

KBRN, Mataram : Kedamaian bisa terjaga apabila semua komponen masyarakat bersatu untuk bagaimana membangun bukan mencari yang tidak dapat dilakukan.
Asiaten I Setda Kabupaten Lombok Tengah, Ir. H. Lalu M. Amin, berpandangan jika radikalisme harus disikapi bersama, dengan cara memperbanyak berdiskusi dan berdialog.
“Bagi Islam tidak ada ruang bagi radikalisme, tapi untuk mengantisipasinya apa yang dilakukan hari ini kita sangat apresiasi,” tandasnya pada dialog publik dengan tema Ikhtiar Bersama Menangkal Bahaya Masuk dan Berkembangnya Faham Radikal Bagi Kalangan Pemuda di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) Dalam Rangka Merawat dan Menjaga Keutuhan NKRI" yang digelar Samalas Institute, Rabu (31/5/2017) sore.
Ia menegaskan, pemuda adalah aset bangsa bagi bangsa ini karena pemudalah yang akan mengisi bangsa kedepan. Sehingga tidak ada tempat bagi radikalisme.
“Saya meminta para pemuda Loteng untuk bersatu lawan teror. Dari data yang kami dapatkan belum ada benih-benih terorisme di Loteng dan emuda Loteng bebas dari paham radikal dan terorisme,” paparnya.
Sementara itu Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Loteng  Wirakrama menyebutkan, meski loteng diklaim pemerintah aman, tapi bukan berarti harus diam namun harus waspada dengan segala potensi gangguan keamanan.
“Daerah kita sudah aman dan kondusif, daerah kita sudah mengalami kemajuan luar biasa. Perkembangan daerah Loteng sudah ada kemajuan pembangunan kawasan ekonomi khusus mandalika sudah berjalan dan tentunya nanti membawa dampak ekonomi bagi masyarakat,” urainya.
Ditempat yang sama Kepala Kemenag Loteng Haji Nasri Anggara menyatakan, bagaimana menamkan anti radikalisme di dalam kurikulum pendidikan. Sebab sangat sulit jika harus berdiri secara sendiri-sendiri. 
Karena kurikulum pendidikan saat ini sudah terintegrasi dengan materi pelajaran yang lain sehingga muatan anti radikalisme sudah ada.
“Sebelum itu, arti radikal harus clear dulu. Baru selanjutnya kita bicara yang lain. Radikal berarti sungguh, mendalam, mengakar,” imbuhnya.
Sebagai contoh perilaku hidup di pondok pesantren (Ponpes). Keberadaan Ponpes contohnya, para santri mempelajari ilmu secara mendalam serta yang dipelajari  harus sungguh-sungguh dan harus serius sampai ke akar-akarnya.
Selain itu ajaran jihad bukan bermakna perang, tapi berjuang. Berjuang untuk belajar misalnya sehingga radikal itu merupakan makna umum.
“Tindakan radikal dapat menggangu stabilitas keamanan, tetapi maksud saya, kalau radikal itu dimaknai sebagai bentuk pemberontakan/pengeboman melibatkan bentrok fisik misalnya,”tandasnya.
Khusus untuk para pelajar, yang harus ditanamkan ialah bagaimana semangat mereka menegakkan ajaran Islam sehingga tidak lalu dipahami sebagai perang fisik semata. 
Direktur Samalas Institute, Darsono Yusin Sali mengakui, pola penyebaran paham radikal kepada anak-anak yang kini merambah dunia maya, menuntut para orangtua mengontrol aktivitas anak-anak mereka saat menggunakan internet, khususnya jejaring sosial. 
“Setidaknya orang tua mengetahui apa yang sedang diakses oleh anak,” tambahnya.
Tidak saja orang tua, peran tokoh agama, tokoh masyarakat juga sangat penting dalam menangkal penyebaran paham radikal di tengah masyarakat. Terutama bagi para pelajar di lingkungan sekolah.(HS)

  • Tentang Penulis

    Hayatun Sofian

    <p>Reporter RRI Mataram</p><p>Facebook : </p><h5 class="_5pbw _5vra" data-ft="{"tn":"C"}" id="js_359"><span class="fwn fcg"><span class="fcg"><span class="fwb"><a class="profileLink" data-ft="{"tn":"l"}" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=1788084949" data-hovercard-prefer-more-content-show="1" href="https://www.facebook.com/sofian.j.usman" id="js_4ot">Hayatun Sofian</a></span></span></span></h5><p></p>

  • Tentang Editor

    RRI Mataram

    System Admin RRI Mataram

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00