• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Cegah Radikalisme Teroris, Bumi Gora Institute NTB Gelar Dialog Publik

27 April
12:40 2017
1 Votes (5)

KBRN, Dompu : Isu Radikalisme-terorisme di Indonesia, kembali mencuat kepermukaan. Kejadian-kejadian teror diberbagai tempat di Indonesia belakangan ini, sering mengisi raung pikiran kita. Meskipun penyelidikan belum selesai, namun spekulasi yang bermunculan teror ini dilakukan oleh para penggiat paham radikal. 

“Dugaan ini memang didasari oleh pengalaman-pengalaman teror yang sebelumnya, yang kebenyakan dilakukan olah para penggiat paham radikal agama. Meskipun memang sesungguhnya motif teror tidak melulu terkait “isme”, bisa saja ekonomi, politik, dan sebagainya,” Kata Panitia Lokal Dialog Publik Bumi Gora Institute, Syafruddin Kaso, Kamis (27/4/2017).

Radikalisme itu sendiri merupakan paham yang mengajak untuk memahami segala sesuatu secara mendasar (radic) dan skriptual. Radikalisme biasanya mengabaikan aspek substansial-kontekstual dan cenderung menggunakan tindakan kekerasan dan paksaan dalam penyebarannya.

Dialog Publik yang menghadirkan Kasat Intelkam Polres Dompu, Iptu Abdul Haris, Kepala Bakesbang Poldagri, H Burhanuddin dan Ketua MUI Dompu H Abdullah Arsyad ini, sebagai Nara Sumber ini, mengambil tema Penguatan Nasionalisme: Upaya Mencegah Paham Radikalisme-Terorisme Dikalangan Generasi Muda Kabupaten Dompu. Dipilihnya Kabupaten Dompu, lanjut Syahruddin Kaso, karena daerah bermoto Nggahi Rawi Pahu ini, karena sudah distigma sebagai sarang baru teroris, pasca Poso.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri- Bakesbang Poldagri, H Burhanuddin mengatakan, saat ini ada pergeseran perekrutan anggota aliran keras ini. Jika dulu hanya menyisir pinggiran wilayah, kini sudah masuk ke dunia Kampus.

“Generasi muda, apalagi mahasiswa, harus bisa melihat ini sebagai ancaman. Generasi muda harus berani meneguhkan bahwa saat ini tidak ada yang lebih baik daripada ideologi Pancasila,” katanya.

Radikalisme, leih lanjut dikatana Burhanuddin, memang bukan merupakan kasus baru dalam sejarah perjalanan bangsa Ini. Sejak masa kemerdekaan radikalisme sudah mulai menyembangi bumi pertiwi. Pasca kemerdekaan paham radikal mulai menampakan wajahnya dengan munculnya DI/TII di bawah Kartosoewirjo.  Namun pada masa Suharto gerakan Islam radikal nampaknya tidak dapat bergerak secara leluasa di Tanah Air. Hal ini disebabkan ketatnya pengewasan dan tindakan represif pemerintah. Pasca reformasi dengan gencarya tuntutan kebebasan  mulai menjadi momen bagi tumbuhnya berbagai paham radikal di Indonesia. Berbagai ormas yang memilki ideologi radikal dengan leluasa tumbuh pada era reformasi.

Tidak saja berlandasan agama, radikalisme funbdamentalis juga berlatar belakang kesenjangan ekonomi dan ketidak sukaan kepada pimpinan daerah atau negara. Burhanuddin menegaskan, dalam undang-undang nomor 9 tahun 2013 tentang pemberantasan terorisme disebutkan, segala upaya yang dilakukan dengan tujuan untuk membuat orang lain takut dan menimbulkan keresahan, termasuk dalam aksi terorisme.

Burhanuddin berharap, kegiatan untuk membangun kesamaan persepsi ini, terus dibangun untuk menimalisir tumbuhnya gerakan ini, terhadap generasi muda. Penanaman nilai-nilai pilar kebangsaan, harus terus dilakukan, demi menjaga keutuhan NKRI. (din)

  • Tentang Penulis

    Mujtahidin

    Reporter RRI Mataram di Kabupaten Dompu, Bima dan Kota Bima, NTB. // WA :0813-5362-5075 // email : mujtahidin@rri.co.id. / didin74dompu@gmail.com // twitter : @didin_rri. // Telegram : @didin_rri_Mataram.

  • Tentang Editor

    RRI Mataram

    System Admin RRI Mataram

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview

Berita Terpopuler

Berita Terfavorit

00:00:00 / 00:00:00