• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Pariwisata & Lingkungan Hidup

Sabers Pungli Kota Batu, Gerakan Penyelamatan Lingkungan

16 October
12:05 2019
0 Votes (0)

KBRN, Batu: Menumpuknya sampah di sungai menjadi permasalahan lingkungan di kawasan yang dialiri Sungai Brantas, salah satunya di Kota Batu. Sekelompok masyarakat peduli lingkungan pun mulai melakukan gerakan untuk mengatasi masalah lingkungan ini. Salah satu kegiatan sapu bersih sampah nyemplung kali atau disingkat ‘Sabers Pungli’.

Koordiantor Sabers Pungli, Herman Aga mengungkapkan, kegiatan ini merupakan gerakan moral untuk bersama-sama turun ke sungai melakukan pembersihan sampah. “Persoalan sampah di aliran Sungai Brantas ini cukup kompleks. Jika tidak diatasi, tidak hanya di Kota Batu, tetapi juga akan berimbas di 14 kota/kabupaten di Jatim,” ujar Herman, Rabu (16/10/2019).

Gerakan moral ini, sambungnya, dilakukan setiap hari minggu menyasar titik-titik sungai atau aliran air yang ditemui banyak tumpukan sampah, khususnya sampah plastik. “Sungai Brantas ini  penyumbang terbesar sampah di laut khususnya plastik. Ini adalah persoalan bersama, harus segera disikapi. Masyarakat yang bergabung dalam gerakan Sabers Pungli ini dipersatukan oleh semangat yang sama menjaga sungai sebagai sumber peradaban,” tuturnya.

Dengan gerakan turun ke sungai membersihkan sampah, diharapkan bisa memberikan penyadaran pada masyarakat untuk menghilangkan kebiasaan buang sampah di sungai. Membuang sampah di sungai dinilai sebagai solusi untuk masing-masing individu menyingkirkan sampah di lingkungannya. “Buang sampah di sungai itu solusi untuk pribadi, tetapi kejahatan sosial bagi lingkungan. Efek sampah yang dibuang tidak hanya merusak kualitas air sungai, tetapi juga mengganggu ekosistem makhluk hidup di dalamnya,” katanya.

Untuk semakin menggaungkan gerakan ini, komunitas Sabers Pungli berupaya mengoptimalkan strategi gerakan dengan memperkuat jaringan melalui online atau offline, bekerjasama dengan akademisi, serta gencar melakukan kampanye pilah sampah mulai dari rumah masing-masing. “Kita juga sudah sounding ke Gubernur Jatim agar gerakan ini bisa meluas, karena permasalahan sampah di aliran Sungai Brantas ini tidak hanya berimbas di Kota Batu saja, melainkan hingga 14 kota/kabupaten di Jawa Timur,” ungkap Herman. 

Gerakan ini didukung oleh sejumlah relawan cinta lingkungan. Eko Ngowos misalnya, selain ikut turun ke sungai membersihkan sampah, ia pun tak segan menegur langsung jika menemui warga yang terbukti membuang sampah di sungai. “Menyadarkan orang itu susah, caranya ya dengan memberikan contoh. Ajakan bersih sampah harus dibuktikan dengan turun ke sungai bersihkan sampah. Beberapa kali kami sering menegur langsung pada masyarakat,” tegas Eko. 

Ia menyoroti sampah diapers atau popok bayi sekali pakai yang banyak ditemui di aliran sungai. Menurutnya, 80 persen sampah di Kota Batu merupakan sampah plastik yang mayoritas diapers. Padahal, sampah diapers yang dibuang ke sungai memiliki efek negatif bagi air maupun ekosistem di dalamnya. “Persoalan sampah diapers ini juga harus disikapi serius. Aangkah baiknya jika ibu-ibu di Posyandu juga diberi pemahaman untuk tidak buang diapers di sungai, terlebih lagi jika mereka mau daur ulang. Karena limbahnya ini bisa dijadikan pupuk daripada dibuang ke sungai,” tandasnya. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00