• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Hukum & Kriminal

Minimnya Edukasi Seks Jadi Penyebab Kasus Aborsi

15 October
09:09 2019
0 Votes (0)

KBRN, Malang: Kasus aborsi yang terjadi di Kota Malang beberapa waktu yang lalu mencoreng image Malang sebagai kota layak anak. Ironisnya, dua dari lima jaringan pelaku aborsi ini merupakan mahasiswi perguruan tinggi di Kota Malang. Minimnya edukasi mengenai seks khususnya kepada anak-anak dan remaja disinyalir menjadi salah satu penyebab adanya kasus aborsi ini.

Konsultan Woman Crisis Center (WCC) Dian Mutiara, Umu Hilmy mengungkapkan, maraknya perilaku seks bebas di kalangan remaja membuat potensi kehamilan di luar nikah menjadi besar. Hal itulah yang membuka peluang terjadinya kasus aborsi. "Seks bebas jadi penyebab maraknya aborsi di Malang. Aborsi dilarang, tetapi edukasi tentang seks masih minim," katanya kepada RRI, Selasa (15/10/2019).

Menurutnya, edukasi tentang seks saat ini sebenarnya sudah diberikan mulai dari jenjang pendidikan formal atau sekolah. Namun, bahasa yang digunakan masih lebih banyak pada istilah biologis yang cenderung susah dipahami oleh anak-anak. "Edukasi seks sudah dilakukan, namun masih menggunakan istilah biologi yang kurang mudah dipahami oleh anak-anak. Harusnya pendidikan seks ini juga melibatkan psikolog pendidikan,"  tutur Umu. 
   

"Ahli pendidikan dan psikolog ini harus duduk bersama untuk membuat modul tentang pendidikan seks yang kemudian diberikan pada tenaga pendidik ke sekolah," imbuhnya.

Selama dua tahun terakhir, berdasarkan data Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang Kota, ada dua kejadian pembunuhan bayi. Di tahun 2018 lalu, kepolisian menangani kasus pembuangan bayi yang baru lahir ke sungai. Sementara menjelang penghujung tahun 2019, polisi menangkap lima jaringan pelaku aborsi dan penjual obat aborsi. "Bisa jadi banyak kejadian tetapi tidak terungkap dan tidak berani laporan ke polisi," ujar Kanit PPA Polres Malang Kota, Iptu Tri Nawangsari. 
 

Pihaknya pun berharap masyarakat tidak segan melapor ke kepolisian jika ada dugaan temuan kasus aborsi di lingkungan tempat tinggalnya. Untuk menangani kasus ini, kepolisian menggunakan undang-undang perlindungan anak nomor 35 tahun 2014. "Kalau ada dugaan silahkan melapor, nanti kepolisian yang akan melakukan penyelidikan," imbaunya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Malang Kota mengamankan lima tersangka kasus aborsi atau pembunuhan bayi. Dari lima tersangka itu dua diantaranya merupakan mahasiswi perguruan tinggi di Kota Malang. Kelima tersangka itu adalah AS (20), BHN (20), TD (22), IN (32), dan TR (48). Saat ini, mereka harus mendekam di jeruji besi tahanan Polres Makota. Bersama lima tersnagka itu, kepolisian juga mengamankan barang  bukti berupa obat-obatan untuk abrosi, gunting dan pakaian, serta sejumlah tulang  belulang janin yang sempat dikuburkan pelaku ketika usia kandungannya tujuh bulan. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00