• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi & Perbankan

BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kota Malang Membaik

9 October
12:37 2019
0 Votes (0)

KBRN, Malang: Meski harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan dan penurunan, namun Bank Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi di Kota Malang menunjukkan tren pertumbuhan positif di tahun 2019. Apalagi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Malang mengalami deflasi pada September 2019 dengan angka -0,03 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Azka Subhan Aminurridho mengatakan, berkaca pada tahun lalu, memasuki bulan September dan Oktober, kondisi deflasi atau inflasi ringan merupakan hal yang wajar terjadi. “Deflasi atau inflasi ringan di bulan seperti ini memang wajar,” katanya, Rabu (9/10/2019).

Meski demikian, BI mewaspadai potensi inflasi yang terjadi pada November hingga Desember mendatang. Pasalnya, momen menjelang natal dan tahun baru, kenaikan harga sejumlah komoditi memicu terjadinya inflasi. “Inflasi di akhir tahun ini menjadi tantangan bagi tim pengendali inflasi daerah,” tutur Azka.

Untuk itu, menjelang akhir tahun nanti BI akan berkoordinasi dengan tujuh pemerintah daerah yang berada di wilayah kerja BI Malang. Meliputi Malang Raya, Kota dan Kabupaten Pasuruan, serta Kabupaten Probolinggo.  “Kami menyiapkan komoditas apa yang naik setiap nataru. Tapi kalau sekarang rasanya masih landai,” ujarnya.

Azka juga menilai angka inflasi tahunan Kota Malang saat ini juga masih bagus. Sebab rentang inflasi yang terjaga berada di angka 2,5 hingga 4,5. ”Menurut saya masih di range yang bagus. Kita masih di range bawah. Tahun depan targetnya turun 3,  jadi harus antara 2-4 persen. 3,5 Ini angka yang bagus di produsen dan konsumen. Justru kalau inflasi 0 itu menunjukkan kalau pertumbuhan ekonomi tidak jalan,” ungkap Azka.

Ia menambahkan, angka inflasi yang terjaga ini salah satunya disebabkan penanganan Pasokan sejumlah komoditas yang dilakukan dengan cepat. Untuk komoditi cabai misalnya, meski sempat mengalami kelangkaan dan harganya meroket, namun tak butuh waktu lama untuk kembali normal. ”Cabai itu langka dan mahal karena musim dan pasokan kurang, tetapi berkat kerjasama antar daerah pasokan bisa terpenuhi. Ini termasuk cepat penanganannya. Hatga bawang justru turun,” tandasnya. 

Sebelumnya, turunnya harga sejumlah kebutuhan pangan membuat perekonomian di wilayah Jawa Timur membaik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, seluruh daerah di Jatim mengalami deflasi, termasuk Kota Malang. Pada September 2019, kota pendidikan mengalami deflasi sebesar -0.03 persen. Sementara angka deflasi Jawa Timur tercatat sebesar -0,07 persen. Ada sepuluh komoditas utama penyumbang deflasi pada bulan September 2019, yakni penurunan harga daging ayam ras, tarif angkutan udara cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, bawang putih, cabai merah, ketimun, bahan bakar rumah tangga, dan udang basah. (Foto: Antara)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00