• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kabar Malang Raya

Protes Kekerasan saat Demo, Jurnalis Malang Gelar Aksi Bungkam

27 September
14:57 2019
0 Votes (0)

KBRN, Malang: Dengan mulut yang tertutup isolasi hitam, sejumlah jurnalis di Malang Raya menggelar aksi bungkam di depan Gedung DPRD Kota Malang, Jumat (27/9/2019) siang. Tak ada orasi apapun yang dilontarkan jurnalis ini. Mereka hanya membentangkan sejumlah poster untuk mengkritisinya aksi kekerasan yang diterima jurnalis sepanjang pekan ini. 

Aksi itu sebagai representasi dibungkamnya kebebasan rakyat untuk berbicara. Gerakan solidaritas untuk keselamatan jurnalis terdiri atas Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Malang Raya, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang, maupun jurnalis yang tidak tergabung dalam organisasi profesi.

“Aksi diam ini sebagai simbol bahwa rakyat Indonesia tidak bisa dibungkam mulutnya, meski dibungkam kita bisa melawan dengan tulisan atau video yang kita sebarkan melalui media massa,” kata koordinator aksi, Mohammad Zainuddin.

Menurutnya, jurnalis Malang Raya menolak segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh aparat, baik kepada mahasiswa maupun jurnalis selama demonstrasi berlangsung. 

“Aksi demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah disambut aksi represi aparat kepolisian, beragam kekerasan dilakukan. Tak hanya kepada mahasiswa, tetapi juga dilakukan pada jurnalis yang sedang bekerja. Aparat tak hanya menghalang-halangi kerja jurnalistik, tetapi juga merampas bahkan melakukan kekerasan,” papar pria yang juga merupakan Ketua AJI Malang ini.

Padahal, sambungnya, setiap jurnalis memiliki hak untuk mencari, menerima, mengelola, dan menyampaikan informasi sebagaimana tertuang dalam Pasal 4 ayat 3 UU RI Nomor 40 tahun 1999 tentang pers. “Kekerasan yang dilakukan terhadap jurnalis juga merupakan tindakan pidana dan melanggar UU,” tuturnya. 

Menyikapi hal tersebut, gerakan solidaritas ini mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap jurnalis, serta menghentikan sebagal-bagal bentuk represi yang mengancam kerja jurnalis, dan mendukung kebebasan berpendapat dan berekspresi yang dilakukan masyarakat. “Kami juga menuntut kepolisian menghukum anggotanya yang terlibat kekerasan pada jurnalis. Penanganan kasusnya pun harus dibuka untuk publik,” tegasnya.

Jurnalis Malang juga menuntut kepolisian menghentikan penangkapan aktivis yang melakukan kritik dan menyuarakan kepentingan publik. Hal itu menyusul penangkapan Dandhy Dwi Laksono dan Ananda Badudu. “Kami berharap masyarakat tidak melakukan kekerasan terhadap jurnalis saat sedang meliput. Dewan Pers juga harus membentuk Satgas Anti Kekerasan guna menuntaskan kasus kekerasan yang terjadi sepanjang aksi penolakan RUU KUHP dan Revisi UU KPK di berbagai daerah,” pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00