• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Pertahanan & Keamanan

Asah Kemampuan, Deru Dua Pesawat Tempur Warnai Langit Malang Raya

25 June
20:44 2019
1 Votes (5)

KBRN, Malang: Sepekan terakhir langit Malang Raya dan sekitarnya diwarnai deru dan raungan pesawat tempur TNI Angkatan Udara yang tengah mengudara guna mengasah profesionalisme penerbangnya mengawaki pesawat tempur. 

Jika pada hari-hari biasa hanya pesawat yang berhome base di Lanud Abdulrahman Saleh yang mengudara meliputi dua jenis pesawat angkut yaitu Cassa 212 dan C-130 Hercules serta satu jenis pesawat tempur Super Tucano.  Maka pada pekan terakhir bulan Juni 2019 ini, terdapat dua jenis pesawat tempur yang datang di Lanud Abdulrachman Saleh. Pesawat itu adalah  Hawk 109/209 dari Skadron Udara 1 Lanud Supadio Pontianak, serta Sukhoi SU 27 dan Sukhoi SU 30 dari Lanud Sultan Hasanuddin Makassar.  

Kepala Penerangan Lanud Abd Saleh Malang, Letkol Sus Dodo Agusprio mengatakan, crew dan pesawat Hawk 109/209  telah datang lebih awal pada pertengahan Juni 2019 setelah cuti lebaran usai.  "Pesawat tempur yang dijuluki elang khatulistiwa ini datang ke Lanud Abdulrahman Saleh untuk mengasah para pilot pesawat tempurnya melaksanakan latihan penembakan bom dari pesawat udara ke darat (weapon delivery)," katanya, Selasa (25/6/2019).

Menurutnya, selama latihan, pesawat berhome base di Lanud Abdulrahman Saleh dan sasaran tembaknya di Air Weapon Range (AWR) Pandanwangi, Lumajang. Sedangkan Pesawat tempur tercanggih TNI Angkatan Udara Sukhoi SU 27 dan Sukhoi SU 30 dari Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, datang pada Jumat (21/6/2018) lalu di Lanud Abdulrachman Saleh. 

"Crew dan Pesawat  Sukhoi SU 27 dan Sukhoi SU 30 datang di Lanud Abdulrachman Saleh dalam rangka mendukung pelaksanaan latihan puncak TNI Angkatan Udara Angkasa Yudha pada Bulan Juli mendatang," ungkapnya.

Letkol Sus Dodo Agusprio menambahkan, 

keberadaan pesawat tempur dalam suatu negara seperti halnya personel provoost  yang menjaga markas TNI yang ada di daratan. "Sedangkan pesawat tempur adalah penjaga wilayah udara nasional dari berbagai penerbangan illegal yang melintas wilayah udara nasional yang dapat membahayakan eksistensi negara," tegasnya.

Peristiwa pengusiran pesawat Hornet dari Angkatan Laut Amerika Serikat yang terbang di atas Pulau Bawean tahun 2003 yang lalu oleh pesawat F 16 dari TNI AU menunjukkan adanya keberadaan negara di udara yang penjagaan wilayah udara, kedaulatannya di laksanakan oleh pesawat-pesawat tempur andalan TNI Angkatan Udara.   

"Demikian juga pelanggaran pesawat udara di atas wilayah udara Timor Timur pada saat jajag pendapat beberapa tahun lalu, penjagaan wilayah udaranya juga dijaga ketat oleh unsur pesawat tempur TNI Angkatan Udara," imbuhnya.

Saat ini, penjagaan wilayah udara nasional terus dilakukan oleh TNI Angkatan Udara yang dilaksanakan oleh berbagai pihak terkait yaitu Satuan Radar (Satrad), Kohanudnas, Skadron Udara tempur, Unsur Meriam TNI AD dan Unsur meriam KRI TNI AL. Sebagai ujung terdepan pelaksanaan tugas, penjagaan wilayah udara dilaksanakan oleh Satrad  dengan peralatan radarnya. Radar akan mendeteksi pergerakan pesawat di udara untuk memastikan bahwa yang lewat adalah pesawat yang legal/berizin ataupun pesawat yang tidak berizin.

"Apabila melalui layar tampilan radar diketahui pesawat yang melintas adalah pesawat illegal, maka operator radar akan meneruskan laporan tersebut secara berjenjang ke samping dan ke atas secara cepat hingga akhirnya dikerahkan pesawat tempur untuk melaksanakan deteksi terhadap pesawat illegal yang tengah terbang di wilayah udara nasional," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00