• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Malang News

Antisipasi Kekeringan, PJT I Tambah Debit Air Bendungan

21 June
14:12 2019
1 Votes (5)

KBRN, Malang: Hampir seluruh wilayah di Indonesia kini telah memasuki musim kemarau. Selama lima bulan ke depan, rata-rata curah hujan akan lebih rendah dibandingkan bulan lain dalam setahun. Untuk menghadapi musim kemarau, Perum Jasa Tirta I (PJT I) melakukan upaya distribusi tampungan air yang telah disimpan sepanjang musim hujan secara merata hingga hilir aliran di sepanjang kemarau. 

Direktur Utama PJT I, Raymond Valiant Ruritan menilai, sebenarnya ketersediaan air di awal musim kemarau seperti saat ini masih di dalam pola yang dikendalikan. "Namun di beberapa titik di sepanjang sungai, khususnya yang dibagikan hilir dari sungai Brantas sudah muncul persoalan penyediaan air, jadi yang dapat dilaporkan salah satunya di Mojokerto," kata Raymond, Jumat (21/6/2019).

Menurutnya, pengambilan air oleh PDAM mulai tersendat akibat pasokan debit dari hulu mengecil. Ini disebabkan penguapan yang tinggi dan tidak ada hujan yang turun ditengah wilayah sungai brantas. "Sehingga kita akan melepas air dari Bendungan Sutami dan Wonorejo, agar sejumlah debit air bisa masuk ke sungai Brantas sampai ke Mojokerto dan Kali Surabaya. Ini untuk mengamankan pasokan air minum yang bahan bakunya diambil dari sungai Brantas dan sungai Surabaya," tuturnya.

Ditanya soal debit air, Raymond mengungkapkan bahwa saat ini debit yang mengalir ke sungai Surabaya sekitar 20 meter kubik per detik. Sedangkan di sungai Brantas di kisaran 22 sampai 22 meter kubik per detik. "Kalau sesuai pola masih berada di ambang pola, tetapi kita akan menambah sekitar 5 sampai 6 meter kubik dari hulu supaya intake PDAM kota Mojokerto dan Surabaya di Jagir maupun dari sungai pelayaran di kab Sidoarjo mampu beroperasi," paparnya.

Ia menambahkan, pemakaian air relatif tetap oleh PDAM, tetapi karena musim kemarau yang penguapannya lebih tinggi, sehingga air yang dikirim oleh hulu habis di perjalanan. "Karena itulah kita mennambah debit dengan harapan tidak ada gangguan operasi pada PDAM," imbuh Raymond.

Terkait elevasi, dari hasil pemantauan yang dilakukan oleh PJT I, diketahui bahwa kondisi elevasi beberapa waduk Perum Jasa Tirta I di akhir musim hujan berada di bawah elevasi muka air tinggi atau high water level (HWL). Elevasi Sutami per 1 Juni tercapai 272,34 m (SHVP) atau 0,16 m dibawah HWL, sedangkan Wonogiri di awal Mei hanya tercapai 135,51 m (SHVP) atau 0,49 m di bawah HWL.

"Elevasi pada prinsipnya semua aman, di atas pola. Tetapi ini baru awal musim kemarau, kita tidak tahu ke depan cuaca semakin sulit, dampak pemanasan global. Kami harapakan pemakaian air tidak terganggu, terutama untuk kepentingan air minum yang bahan bakunya diambil dari sungai," pungkasnya. 

Untuk diketahui, saat ini ada delapan bendungan besar yang dikelola oleh PJT I. Yakni tujuh bendungan di wilayah Sungai Brantas dan satu bendungan di wilayah Sungai Bengawan Solo. Kedelapan bendungan tersebut adalah Bendungan Sengguruh, Bendungan Sutami, Bendungan Lahor, Bendungan Wlingi, Bendungan Selorejo, Bendungan Wonorejo, Bendungan Bening, dan Bendungan Wonogiri. 

Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan air selama 5 bulan kedepan hingga Oktober, tersedia 354 juta m3 tampungan air di WS Brantas dan 348 juta m3 di WS Bengawan Solo.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00