• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Malang News

Dampak Tol Malang-Pandaan dibuka, Pendapatan Tukang Parkir di Lawang Turun Drastis

2 June
08:07 2019
2 Votes (4)

KBRN,Malang: Pasca Jalan Tol Malang-Pandaan (Mapan) dioperasikan, jalur menuju Surabaya dari Malang dan sebaliknya melalui depan pasar Lawang menjadi lengang. Bahkan, pengguna jalur dari kedua arah tersebut mampu memacu laju kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Lega, mungkin itu yang dirasakan pengendara roda empat maupun roda dua tujuan Surabaya dan tujuan Malang via depan pasar Lawang, karena arus lalu lintas tak  lagi macet seperti tahun sebelumnya. Terlebih menjelang musim arus mudik Lebaran. Seolah pengendara meluapkan kebahagiaannya dalam menikmati jalur depan pasar Lawang tersebut. Tak jarang pengguna roda dua sesekali menarik tuas dengan kencang sehingga laju  kendaraan bertambah cepat.

Namun, dibalik kebahagiaan pengguna jalan di jalur Malang-Surabaya dan sebaliknya, ada kesedihan bagi juru parkir di sepanjang jalan Thamrin Lawang pasca jalan tol dioperasikan. Wajah sedih dan cemas itu terlihat pada raut muka juru parkir di jalan Thamrin, Lawang, Kabupaten Malang Suparto (67), sebab mengalami pendapatan yang surut sejak tol Mapan dibuka. 

"Setelah tol dibuka sekarang ini saya parkir hanya dapat Rp 30 ribu," kata Suparto kepada RRI, Minggu (2/6/2019) pagi.

Dengan lirih, Pria kelahiran tahun 1952 itu menjelaskan sejak jalan tol Malang-Pandaan dibuka, jalanan dari dua arah di jalan Thamrin menjadi sepi meski telah memasuki musim arus mudik Lebaran. Bahkan, kini jarang ada kendaraan parkir untuk membeli makanan di tenda tenda makanan depan pasar Lawang. Padahal sebelum tol Mapan dibuka, sejak pagi hingga siang kendaraan roda empat dan roda dua berjajar parkir di areal penjual makanan tenda di lokasi itu.

"Kalau dulu macet di sini, setengah hari saja hasil parkir bisa mencapai Rp 60 hingga 80 ribu. Orang orang parkir cari makan. Sekarang sepi jarang kendaraan berhenti," urainya.

Kendati pendapatan turun drastis hingga 50 persen, tetapi setoran parkir tetap sebesar Rp 20 ribu. Akibatnya kini dsri pendapatan kotor Rp 30 ribu hanya tersisa Rp 10 ribi sehari. Kondisi itu berbeda dengan belum ada tol Malang-Pandaan. Pria bercucu tujuh itu masih mampu mengumpulkan uang sisa setoran hingga Rp 60 ribu.

" Dulu begini ini (musim mudik;red) masih bisa menabung sisa untuk makan, beda dengan sekarang," tukasnya.

Kini Suparto tak lagi berfikir untuk menabung karena untuk memenuhi kebutuhan makan sehari hari saja susah dengan hanya berpenghasilan parkir Rp 30 ribu. Apalagi usai disetorkan yang masuk kantong pribadi hanya Rp 10 ribu.

" Buat makan pokok ada uang, ya kalau sore sekarang saya ngerosok (cari rongsokan;red) agar bisa bertahan," tambahnya.

Ia tidak memiliki harapan apa-apa kepada Pemerintah. Suparto hanya berusaha sekuat tenaga mengais rejeki di usia yang renta saat ini, asal bisa memenuhi kebutuhan makan dalam kesehariannya. (Sp)

  • Tentang Penulis

    Syamsuddin Putra

    Reporter LPP RRI Malang-Sekali di Udara Tetap di Udara

  • Tentang Editor

    Syamsuddin Putra

    Reporter LPP RRI Malang-Sekali di Udara Tetap di Udara

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00