• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi & Perbankan

Meski Ekonomi Kurang Kondusif, Bisnis Wisata Religi Naik Hingga 10 Persen

15 March
14:37 2019
0 Votes (0)

KBRN, Malang : Kalangan pengusaha travel menilai wisata religi ziarah Wali Songo dan perjalanan haji dan umroh memiliki potensi pasar yang besar di Jawa Timur.

Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies - Asita, Jawa Timur, Arifudinsyah mengatakan rata - rata pergerakan wisatawan domestik yang melakukan kunjungan ziarah ke makam Wali Songo mencapai 45 juta wisatawan per tahun, " Jumlah pergerakan wisatawan ke Wali Songo tersebut meningkat rata-rata 5 persen hingga 10 persen per tahun. Bahkan saat kondisi ekonomi kurang baik, destinasi wisata ziarah ini paling stabil di antara yang lainnya," ujarnya.(15/03/2019)

Khusus di Jatim, perjalanan umrah dan haji banyak diminati masyarakat lantaran penduduk muslim di Jatim tergolong sangat besar dan merupakan basis pesantren yang cukup banyak. Dia menambahkan, selain wisata ziarah Wali Songo, destinasi wisata yang masih unggul di mata internasional adalah Gunung Bromo. Meski sempat dinyatakan berstatus waspada, tapi minat wisatawan untuk datang berkunjung tetap tinggi, " Dari destinasi Bromo ini terlihat ada pergerakan wisatawan internasional di Jatim rata-rata sekitar 500.000 wisatawan per tahun, " imbuhnya.

Arif menambahkan, meski terdapat potensi yang besar, tetapi industri pariwisata daerah masih perlu dukungan penerintah. Sebagai contoh, adanya kenaikan harga tiket pesawat domestik akan membuat tingkat kunjungan wisata menurun, " Masyarakat akhirnya lebih senang bepergian ke luar negeri yang menawarkan harga tiket lebih murah. Dampak panjangnya adalah, pariwisata lokal akan sepi dan sektor usaha mikro kecil menengah-UMKM juga akan terkena imbas.

"Kalau sebagai travel agen, kami ambil hikmah dari adanya kenaikan harga tiket domestik. Hanya saja dampak ke depan bagi dunia pariwisata tidak bagus," jelasnya.

Selain masalah transportasi, diperlukan dukungan infrastruktur yang memadai agar sebuah destinasi wisata lokal bisa dijangkau wisatawan, " Belum lagi soal kultur, contohnya, kalau di beberapa kota wisata di Jatim orang pakai pendek sedikit pasti kena larangan. Nah ini memang harus pelan-pelan," tuturnya.(Van)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00