• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Safaruddin : Sulbar Harus Siap jadi Penyangka Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara

8 November
08:04 2019
0 Votes (0)

KBRN, Mamuju : Dewan  pimpinan cabang  gerakan mahasiswa nasional indonesia ( GMNI )  Mamuju  melaksanakan dialog publik dengan tema " Ibukota pindah, Sulbar bisa Apa? "  yang dilaksanakan di Warung Kopi Kanne, Rabu 06 November 2019.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika  Provinsi Sulbar, Safaruddin Sanusi yang mewakili sekertaris daerah ( Sekda ) Sulbar. 

Safaruddin mengatakan Mengenai rencana pemindahan ibukota yang dulunya berada di Jakarta kini akan berpindah di Kalimantan sesuai dengan Undang-undang yang sementara di revisi dan ini sesuai intruksi presiden saat menghadiri pelantikan Anggota DPR RI. 

“ kiranya ini akan dimatangkan sisa menunggu kapan pemindahannya secara resmi saja. Yang jelas tahun ketahun akan dibahas dan dianggarkan secara berturut turut,"ujarnya. 

Lanjut dijelaskan Safar, bahwa apa yang menjadi persiapan pemrov Sukbar sebagai penyangga ibukota Negara yang begitu dekat dengan Sulbar. Tentu ini akan menjadi pembahasan yang sangat menarik untuk diskusikan. Apalagi telah hadir saat ini unsur eksekutif,  legislatif,  TNI, Polri,  LSM dan mahasiswa .

“ Sebagai daerah yang begitu dekat tentu kita akan berperan sebagai daerah penyangga untuk ibukota Negara. Apalagi melihat peluang letak geografis Sulbar yang sangat strategis berada pada ALKI II dan memiliki bonus demografi penduduk pada usia produktif berusia 15-64 tahun lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif yang berusia dibawah 15 tahun dan diatas 64 tahun,” katanya 

Ditambahkan pula Sulawesi Barat memiliki Luas daratan sebesar 16.937,16 km persegi sedangkan luas lautan 22.012,75 Km persegi,jumlah pulau 40 pulau,panjang pantai 617,5 Km dan luas mangrove 3.226 Ha serta luas terumbu karang 16.302 Ha. Dengan potensi yang ada dapat kita jadikan peluang besar kedepan untuk kemajuan Sulbar. Walaupun jumlah penduduk sulbar sebesar 1.536.115 jiwa dan terbilang masih sedikit, tetapi Sulbar memiliki berbagai macam potensi yang layak daripada daerah lainnya. 

"Begitu sangat dekat, kita hanya naik kapal Fery kita sudah sampai di ibukota negara, namun apa yang harus dipersiapkan kedepan, itu menjadi tantangan bagi kita. Untuk itu, kita perlu menangkap peluang isu strategis pemindahan ibu kota  negara yang nantinya  akan berpengaruh kepada Sulawesi Barat, utamanya pada pada pembangunan infrastruktur di Ibu Kota Negara yang akan memicu investasi baru pada daerah sekitar dan akan membuka akses lapangan kerja dan mendorong Sulbar sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru melalui penguatan pusat kegiatan Nasional (PKN). Sedangkan  pusat kegiatan wilayah (PKW) Diperlukan percepatan pengembangan jaringan transportasi laut dan udara di Sulbar dalam mendukung konektivitas wilayah terutama ke Ibu Kota Negara dan daerah lainnya serta perbaikan dan peningkatan akses jalan provinsi maupun jalan kabupaten yang akan membuka akses ke sentra produksi,sentra industri dan distribusi ke terminal dan pelabuhan. Peluang isu ini tentunya akan menjadi tantangan bagi kita untuk meningkatkan sarana dan prasarana yang ada di Sulbar,” katanya 

Dia juga mengatakan pembenahan itu diperlukan dorongan semua stakholder terkait yang bukan hanya pemerintah provinsi saja, akan tetapi Kabupaten serta anggota legislatif perlu mendorong ini kepusat.     

"saya bersama teman teman legislatif serta stakholder terkait pernah mendiskusikan hal ini. Dimana  tentunya banyak hal yang akan kita persiapkan baik segi lapangan kerja,sumber daya manusia,infrastruktur jalan, transportasi darat dan laut, persedian jaringan internet serta, pertanian dan lainnya. Hal tersebut yang harus kita benahi dulu. Agar kedepan apa yang menjadi harapan kita dapat terwujud sebagai daerah yang mengambil peran dalam membantu ibukota Negara nantinya,” katanya 

Menyinggung dari potensi pertanian yang ada Kalimantan, dimana tidak begitu besar, dikarenakan di Kalimantan mereka mengelola tambang batubara. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, mereka memasok bahan bahan pertanian seperti sayur sayuran dari daerah lain salah satunya Sulsel. Sehingga untuk kedepan kita harapkan agar Sulbar bisa menjadi penyangga dalam pemenuhan ekonomi dan pemenuhan lapangan kerja.

Menurut Safar, ada beberapa tantangan yang juga perlu disiapkan, yang pertama, APBD yang masih minim sebesar 2,1 Trilyun dengan PAD sebesar 370 Milyar tahun 2019. Perlu upaya peningkatan Sumber sumber PAD. Kedua Kemiskinan tinggi yang berada diatas nasional sebesar 11,02 ditahun 2019 jauh dari target RPJMD sebesar 9,91 persen. Ketiga IPM yang rendah pada level sedang sebesar 65,10 jauh dibawah nasional yang sudah mencapai 7,39 persen. Ke empat Isu stunting Sulbar yang menempati urutan kedua angka prevalensi stunting tertinggi sebesar 41,80 persen secara nasional. Ke lima Konektivitas infrastruktur yang masih menjadi permasalahan pokok di Sulbar seperti bandara yang masih belum repsentatif untuk badan pesawat bebrbadan besar serta infrastruktur jalan dan jembatan dan ke enam Revlousi Industri 4,0 merupakan otomatisasi sistem produksi dengan memanfaatkan teknologi dan big data. Penggunaan teknologi baru seperti ioT (Internet of things). Ini lah yang akan menjadi pr kita kedepan bersama-sama serta generasi muda juga dapat ikut berperan didalamnya. Untuk itu tuntutan zaman di era teknologi. Apalagi sistem revolusi industri 4,0 menuntut untuk terus menguasai tekologi berbasis internet. Jangan terlena dengan apa yang telah dimiliki, akan tetapi harus menambah ilmu atau pengetahuan kita umtuk menguasai teknologi, jangan gaptek. 

“ kita juga  harus perkuat dengan data. Saya telah memaparkan dihadapan gubernur, wagub dan sekda terkait persiapan satu data Indonesia. Dimana kita di tuntut untuk bisa menggunakan teknologi. Saat ini ada beberapa tuntutan yakni sistem pemerintah berbasis elektronik (SPBE) dan geopasial serta beberapa aplikasi lainnya. Tujuannya adalah kedepan agar pemerintah dapat efesien dan cepat dalam melakukan pelayanan dalam administrasi. Kita tidak akan melakukan secara persuratan secara manual lagi akan tetapi sistem yang akan melakukan percepatan persuratan dengan sistem aplikasi teknologi melalui jaringan internet. "mau tidaK mau, suka tidak suka kita harus menerima dan melaksanakan SPBE ini, karena ini tuntutan dari pusat dan daerah harus siap dengan sarana dan prasarananya,"tutur mantan sekwan ini.  

Masih katanya, kita harus diperkuat dengan sumber daya manusia yang handal serta memiliki keahlian di bidangnya. Ibukota Negera akan membutuhkan tenaga kerja. pasalnya tidak mungkin semua akan pindah, tentunya mereka akan membuka peluang dalam lapangan kerja. “ Sulbar adalah daerah yang paling dekat sehingga di tuntut untuk mampu memiliki SDM dan sebagai generasi muda harus mampu membuka peluang kerja yang mandiri tanpa berpusat pada pemerintah saja,” ujar Mantan Biro umum Setda Sulbar. 

Dipenutup sambutan, Safar menjelaskan bahwa pembentukan Mamuju menjadi Kotamadya juga perlu dipikirkan dan dorong. 

"Kita satu satunya Provinsi yang belum memiliki kotamadya. Permasalahan ini diperlukan peranan di semua stakeholder baik pemerintah pusat, provinsi dan kabupatan serta dpr dan itu adalah tantangan kita kedepan. Namun skali lagi harapan saya sebagai kepala dinas Kominfo, bahwa semua harus bekerja untuk berpikir serta mendorong bersama bukan hanya pemerintah saja akan tetapi generasi muda,” tutupnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00