• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Ini Respon Kemenkes terhadap Tingginya Tunggakan BPJS Kesehatan

22 October
14:37 2019
0 Votes (0)

KBRN, Madiun : Tingginya tunggakan klaim obat yang belum terbayarkan oleh BPJS Kesehatan khususnya di Kota Madiun mendapat respon dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Untuk mengurangi beban BPJS, pemerintah daerah diminta melakukan penguatan sistem pelayanan kesehatan primer atau fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama dalam hal ini puskesmas.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kesehatan Kemenkes, dr. Siswanto, MHP, DTM usai menghadiri Rapat Koordinasi pejabat pemerintah daerah di Wisma Haji, Madiun, Selasa (22/10/2019). Menurutnya, puskesmas harus dikuatkan sebagai sistem.

Sebab, didalamnya terdapat upaya promotif dan preventif untuk penyakit tidak menular (PTM) melalui pos binaan terpadu (Posbindu). Kemudian, untuk kesehatan ibu dan anak melalui Posyandu, Polindes, UKS serta upaya kesehatan kerja lainnya. Jika sistem itu kuat, harapannya PTM dapat dicegah.

“Ada tiga hal untuk penguatan itu. Pertama program inisiasi pendekatan keluarga secara aktif sambil mendeteksi dan memberikan edukasi. Kedua, pemberdayaan masyarakat diantaranya melalui Posbindu serta menanam toga untuk pengobatan secara sederhana. Ketiga adalah harus ada aksi lintas sektor, termasuk klinik-klinik swasta harus proaktif melakukan pencegahan,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes dan KB) Kota Madiun, dr. Agung Sulistya Wardani menyatakan, penyakit yang paling banyak menyerap anggaran di BPJS Kesehatan adalah PTM salah satunya stroke.  Stroke tersebut dipicu penyakit hipertensi dan diabet. Karena itu untuk mengurangi konsumsi obat generik, pemkot berupaya membudidayakan tanaman untuk dijadikan obat herbal atau jamu tradisional.

“Di Kota Madiun kita berupaya agar masyarakat itu tidak beranggapan kok  minum obat terus, nanti ginjalnya bagaimana, padahal nggak minum obat ya kena ginjal apalagi yang tidak terkontrol. Kita berupaya untuk merubah mindset masyarakat bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Mungkin dengan obat herbal atau jamu yang merupakan budaya orang jawa bisa lebih diterima oleh masyarakat untuk mencegah komplikasi penyakit yang lebih berat,” kata Wardani.

Dr. Wardani menjelaskan, untuk membuat obat herbal atau jamu tradisional, pemkot telah bekerjasama dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Karanganyar, Jawa Tengah. Sebab disana terdapat 12 produk herbal yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengatasi PTM, salah satunya hipertensi. Karena itu pemkot akan mencontoh pembuatan jamu tradisional untuk dikembangkan di Kota Madiun.

“Kita mengacu kesana, kira-kira apa yang bisa kita kembangkan disini,” tandasnya.

  • Tentang Penulis

    Eka Wulan

    Reporter RRI Madiun, Kerjaaaa Kerja Kerjaaa !!!!!!! Semuangatttt

  • Tentang Editor

    Eka Wulan

    Reporter RRI Madiun, Kerjaaaa Kerja Kerjaaa !!!!!!! Semuangatttt

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00