• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Kisah Pilu Penderita Gizi Buruk Keluarga Miskin di Aceh Utara

28 February
13:34 2020
0 Votes (0)

KBRN, Aceh Utara : Saini Mubarak (7) dan Mirza (5), bocah Gampong Kuala Keureutoe, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, tampak lemas. Jangankan untuk berdiri, duduk pun harus ditopang. Kondisi fisik seperti itu sudah dialami keduanya sejak lahir, hingga akhirnya divonis dokter bahwa penyebab keadaan fisik seperti itu adalah gizi buruk.

Kedua anak kecil tersebut adalah putra Yusnaini (30). Ayahnya bernama Muzakir sudah meninggal dunia sejak 2017 lalu akibat penyakit liver walau sempat masuk perawatan RSUDZA Banda Aceh selama satu bulan. 

Yusnaini yang hanya ibu rumah tangga, kini merawat dua putranya bersama suaminya yang baru (namanya tidak ingin disebutkan), petani tambak di Kuala Keureutoe. 

Saat dikunjungi di rumahnya, Sabtu, 8 Februari 2020, kedua bocah itu sedang bersama ibu kandungnya dan ayah tirinya di rumah panggung mereka.

Saini Mubarak terlentang sambil memegang handphone dengan casing hijau milik orangtuanya, ditemani ibunya disamping pintu kamar rumahnya itu.

Saini mengenakan baju hitam bergambar bulan dan bintang warna kuning, asyik memencet tombol telepon genggam. Sesekali dia tersenyum. Namun, Saini diam saja saat diajak bicara.

Sedangkan Mirza, kondisi fisiknya tak jauh beda dengan Saini. Mirza tidur di ayunan bayi mengenakan kaos hitam polos. Ayah tirinya mengayun Mirza sambil menemani Saini bermain telepon di sampingnya.

Mirza belum tertidur. Bola matanya menatap langit-langit rumah, sesekali melirik ke kanan dan kiri.

Yusnaini menceritakan tentang kedua anaknya itu hingga mengetahui menderita gizi buruk. Ia mengatakan, keduanya itu memang sejak lahir kondisi fisiknya sudah tampak lemas seperti itu. Sehingga ia membawa anaknya ke rumah sakit guna mendapatkan perawatan.

"Pertama sekali saya mengetahui mereka menderita gizi buruk itu saat dibawa ke posyandu atau puskesmas berdasarkan hasil pemeriksaan dari dokter. Pertama diketahui mengalami gizi buruk terhadap Saini Mubarak sejak usianya masih 1,5 tahun. Tapi kondisi fisiknya yang lemas seperti itu ketika pertama lahir sudah terlihat, jadi saat dibawa ke posyandu, di situlah saya ketahui dia menderita gizi buruk, bahkan ketika saya membawa dia (Saini) ke Puskesmas Lapang juga dinyatakan hal yang sama. Itu terjadi tahun 2014, akan tetapi kondisinya belum terlalu parah saat itu dan ditangani petugas puskesmas dengan memberikan asupan bergizi, seperti susu maupun kacang hijau,” ujar Yusnaini.

Sedangkan untuk Mirza, lanjut Yusnaini, diketahui menderita gizi buruk saat umurnya masih tiga bulan saat dibawa ke posyandu. Kalau kondisi fisiknya sejak pertama lahir juga sama seperti yang dialami Saini, yaitu lemas. Keduanya mendapat penanganan dari pihak puskesmas setempat.

Saya pernah merawat keduanya di Rumah Sakit Umut Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara pada tahun 2017. Saini pernah dirawat di RSUDZA Banda Aceh kalau tidak salah saya itu tahun 2015, karena sudah agak sedikit parah hingga mengalami bocor di bagian kepala mengeluarkan cairan seperti itu, sehingga perlu mendapat perawatan intensif berdasarkan rujukan dari RSUCM. Sedangkan Mirza tidak pernah dirawat ke sana (RSUDZA). Akan tetapi, tidak ada perubahan kondisi fisiknya dan akhirnya ketika itu memilih berobat jalan terhadap Saini dan Mirza di puskesmas maupun RSUCM, tapi sekarang tidak pernah membawa mereka lagi ke rumah sakit dan terakhir keduanya dirawat ke RSUCM pada tahun 2018. Namun, bagian kepala Saini yang sempat bocor itu saat ini sudah normal kembali sebagaimana biasanya, saya tidak ingat lagi apa penyebab bocor kepalanya itu,” ungkapnya. 

Menurut Yusnaini, bila dibandingkan kondisi kesehatan keduanya itu antara dulu dan sekarang, tampak lebih sehat sekarang. Pada dasarnya kondisi fisik Saini akibat gizi buruk yang tergolong parah itu disaat usianya 3 tahun, dan umur Mirza 2 tahun.

Karena tidak bisa bergerak sama sekali, makanan pun tidak terlalu selera untuk dimakan saat diberikan. Pada akhirnya, mereka pernah menjalani therapy di Rumah Sakit Cut Meutia pada tahun 2019, sehingga Saini dan Mirza saat ini ada sedikit perubahan. Misalnya, mereka sudah bisa menggerakkan tangan dan senyum, makanan ringan ataupun berupa buah-buahan sudah bisa makan sendiri dan tanpa harus disuapi lagi. Kalau sebelumnya, bergerak pun terlihat sulit sekali.

"Berat badan Saini Mubarak sekarang sekitar 10 Kg, dan Mirza 7 Kg. Sebelumnya Saini hanya 8 Kg saat umur tiga tahun (2015), sementara Mirza sekitar 6 Kg di usia dua tahun pada masa yang sama. Keduanya itu kini hanya bisa berbaring di lantai rumah tanpa bisa berbuat apapun, terlebih lagi melihat kondisi tubuh mereka sudah terlalu kurus. Dulu mereka selalu saya bawa ke posyandu di gampong. Saran petugas posyandu maupun puskesmas agar sering memberikan asupan gizi yang baik seperti kacang hijau, susu, sayur maupun buah-buahan atau makanan yang higienis dan bergizi. Saya memberikan itu kepada keduanya sesuai saran pihak puskesmas. Diberikan seperti sayur bayam, buah pir, apel bahkan hingga sekarang juga masih dikonsumsi. Dulu di posyandu juga sering diberikan susu maupun berupa kacang hijau dan buah-buahan,” ujar Yusnaini.

Namun, Yusnaini mengaku tidak patah semangat untuk merawat kedua anaknya itu walaupun dengan keterbatasan ekonomi.

"Bagaimanapun saya bersama suami tetap bersabar dalam merawat mereka, hanya bisa berdoa kepada Allah SWT semoga (berlaku) yang terbaik saja. Karena berbagai upaya sudah saya lakukan untuk pengobatan keduanya, tapi Alhamdulillah sekarang sudah agak sedikit membaik dibandingkan sebelum-sebelumnya," ujarnya.

"Saya kurang tahu mengapa sampai mereka mengalami gizi buruk seperti itu, karena anak saya yang pertama, Nurul Akla (15) tampak normal-normal saja. Bahkan dia sekarang sudah menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mungkin ini sudah takdir bagi keluarga saya. Tapi saya selalu bersyukur semoga keduanya (Saini dan Mirza) nanti bisa menjadi normal kondisi fisiknya," ucap Yusnaini.

Menurut Yusnaini, bahkan dulu disaat dirinya sedang hamil untuk anak-anaknya itu juga mendapatkan asupan makanan yang sehat layaknya untuk kesehatan ibu hamil dari pihak puskesmas.

Kata dia, makanan itu berupa susu, buah, sayur, telur, maupun kacang hijau, tapi tidak dibolehkan untuk makan secara berlebihan. Hal itu juga disampaikan oleh kader posyandu serta menyarankan untuk berkonsultasi kepada dokter kandungan mengenai pola makan yang bagus ketika itu.

Tinggal di Rumah Panggung

Yusnaini bersama suaminya (ayah tiri ketiga anak itu) dan tiga anaknya menempati rumah panggung dikelilingi rumah warga lainnya, yang sebagian konstruksi permanen dan semi permanen. Rumah Yusnaini memiliki tiga anak tangga kayu, beratap seng, dinding papan tua dan tripleks. 

Lahan rumah itu panjangnya diperkirakan sekitar 7,5 meter dan lebar 6 meter. Yusnaini mengaku sudah lima tahun menempati rumah tersebut. Sebelumnya ia tinggal di rumah orangtuanya di Gampong Kuala Keureutoe.

Rumah panggung ini hanya memiliki satu kamar tidur di antara ruang tamu dan dapur. Rumah tersebut memiliki pintu masuk bagian samping dan pintu belakang di dapur. Bagian dapur beratap daun rumbia, dengan dinding anyaman bambu.

"Rumah ini dulu saya bangun sendiri, bukan bantuan dari pemerintah. Akan tetapi semenjak kondisi anak saya diketahui orang mengalami gizi buruk, pernah beberapa dermawan berkunjung ke rumah untuk melihat dan menyantuni anak-anak. Pada tahun 2019 lalu juga pernah didokumentasikan rumah saya oleh pihak Baitul Mal Aceh Utara untuk bantuan rumah. Kalau tidak salah kabarnya pada Maret 2020 akan dibangun rumah bantuan tersebut," ujar Yusnaini.

Saat sedang berbincang dengan Yusnaini di rumahnya itu, tiba-tiba datang dua orang dari Baitul Mal Aceh Utara menggunakan mobil dinas guna mengecek dan mendata kembali lokasi rumah Yusnaini tersebut.

Kasus Gizi Buruk Lainnya

Kasus gizi buruk dengan kondisi fisik anak memprihatinkan juga ditemukan di Kecamatan Tanah Pasir, tetangga Lapang. Lapang juga hasil pemekaran dari Kecamatan Tanah Pasir. 

Tu Afdal alias Muhammad (6) di Gampong Blang, Kecamatan Tanah Pasir, anak keempat dari pasangan Abdul Manaf (50) dan Siti Armansyah (45), hanya bisa berbaring lemas di rumahnya. Siti mengatakan, dia lumpuh layu setelah step (kejang demam) saat usianya masih dua bulan. Berdasarkan hasil diagnosa dokter, Tu Afdal menderita gizi buruk.

Badannya kurus, tulang-tulang rusuknya menonjol. Terlihat bocah tersebut tak berdaya. Ibunya, Siti Armansyah, mengaku Tu Afdal sudah mendapat penanganan serius dari tim medis. Namun, kondisinya masih belum tampak perubahan sama sekali.

"Saya dan keluarga sudah berupaya mengobatinya semaksimal mungkin, tapi sampai sekarang belum menunjukkan perubahan yang lebih baik. Bahkan sudah berulang kali saya bawa dia ke Puskesmas Tanah Pasir, Rumah Sakit Umum Cut Meutia. Dengan keterbatasan ekonomi, saya tidak mampu mengobatinya secara terus menerus ke rumah sakit umum. Akan tetapi pada tahun 2018 lalu, Tu Afdal juga difasilitasi oleh Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman alias Haji Uma untuk dibawa ke RSUDZA Banda AcehJadi, selama ini saya hanya membawanya berobat secara tradisional di kawasan Kecamatan Paya Bakong, itupun sesekali saya bawa dan tidak rutinTapi Alhamdulillah sekarang lumayan ada perubahan sedikit seperti kondisi fisiknya sudah tidak terlalu kaku dan lidahnya tidak menjulur lagi, kemudian sudah selera makan,” kata Siti Armansyah, Minggu, 9 Februari 2019. 

Mulanya ketika usia Tu Afdal masih dua bulan, lanjut Siti, setelah diperiksa dokter di RSUCM rujukan dari Puskesmas Tanah Pasir dan dinyatakan gizi buruk, dirinya merasa sedih karena sangat menyayanginya. Tapi sekarang hanya bisa berdoa serta tetap berusaha supaya dia cepat sembuh.

Terlebih Siti merupakan warga kurang mampu dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Suaminya, Manaf, buruh serabutan dengan pendapatan tak menentu. Itulah sebabnya, saat ini keduanya hanya merawat dan menjaga Afdal di rumahnya.

"Kalau untuk membawanya lagi ke rumah sakit, sekarang ini saya kurangi dulu. Terakhir saya bawa dia (Afdal) ke RSUCM itu pada Mei 2019, karena mengingat keterbatasan biaya dan walaupun untuk biaya berobat gratis di rumah sakit, tapi kan perlu juga keperluan lainnya. Sesekali saya membawa dia (Tu Afdal) ke tempat pengobatan tradisional, pengobatan itu dengan cara dipijat untuk peningkatan berat badan dan tangan maupun kakinya agar tidak terlalu kaku," ungkap Siti.

Siti menambahkan, berat badannya saat ini sekitar 8 Kg dan dibandingkan sebelumnya (tahun 2018) hanya 6 Kg. Sementara kondisi badannya terlihat sangat kaku, kurus nyaris tinggal tulang dan kulit. Kata dia, anaknya itu bisa mengunyah makanan, bahkan makanan seperti nasi banyak dia makan, namun kondisi badannya itu tidak ada tanda-tanda perubahan dan tetap saja kurus kering seperti itu.

"Tu Afdal itu anak bungsu dari empat bersaudara. Anak saya yang lainnya tidak ada yang mengalami gizi buruk, normal seperti anak-anak biasanya. Saya pun tidak tahu apa faktornya bisa terjadi demikian dengan Afdal, karena baru kali ini saya punya anak yang kurang sehat begitu. Bahkan sejak masih kecil Afdal juga sering dibawa ke posyandu, tapi dulu tampak lebih parah seperti orang step atau kejang dan hingga lidahnya menjulur keluar. Sekarang sudah ada sedikit perubahan," ujar Siti.

Siti juga menceritakan kini sudah terbantu dari segi tempat tinggalnya. Siti menyebutkan, sebelumnya ia bersama suami dan anak-anaknya itu menempati rumah tidak layak huni. Alhamdulillah sekarang sudah ada rumah bantuan yang dibangun dari dana desa tahun anggaran 2019, sehingga menjadi lebih nyaman dalam merawat anaknya yang masih bocah menderita gizi buruk tersebut.

"Dengan keterbatasan ekonomi untuk saat ini saya mengurung niat membawa dia (Tu Afdal) lagi ke rumah sakit. Karena sebelum-sebelumnya juga pernah diterapi di Rumah Sakit Cut Mutia, kalau sekarang biar saya berobat secara tradisional dulu, siapa tahu ada perubahan lagi nanti. Semoga saja," ungkap Siti.

Kasus Gizi Buruk Ditangani Tapi Tetap Muncul

Sementara Kepala Puskesmas Kecamatan Lapang, Aceh Utara, dr. Jafaruddin, mengungkapkan, jumlah anak penderita gizi buruk di daerah itu per-Desember 2019 ada 6 (enam) orang. Penanganan dilakukan puskesmas maupun posyandu itu dengan bantuan Pemberian Makanan Tambahan untuk Pemulihan (PMTP) kepada anak gizi buruk.

Apabila ada balita atau anak menderita gizi buruk yang hingga saat ini tidak ada perubahan, itu dikarenakan ditambah penyakit penyerta tidak berubah.

Ia menambahkan, untuk jumlah kasus gizi buruk pada tahun 2017 khususnya di Kecamatan Lapang itu hanya 3 orang anak, dan tahun 2018 tidak ada yang mengalami gizi buruk di daerah tersebut.

Sedangkan data tahun 2019 berjumlah 6 orang itu merupakan ada beberapa anak yang mengalami gizi buruk sebelumnya, itu hingga saat ini tidak ada perubahan kondisi fisiknya.

"Terkadang setelah ditangani ada yang berubah dari gizi buruk menjadi gizi baik dan gizi kurang. Bahkan kita mengunjungi langsung ke rumah penderita itu untuk memberikan makanan Tambahan untuk pemulihan tersebut. Pada dasarnya anak yang menderita bukan gizi buruk murni, itu disertai adanya penyakit penyerta seperti mengalami kelainan saraf, batuk secara lama dan lainnya," kata Jafaruddin, Senin, 10 Februari 2020.

Sedangkan gizi buruk yang murni dialami anak-anak, kata Jafaruddin, itu tidak ada khususnya di Kecamatan Lapang, karena makanannya pun mencukupi. Penyakit penyerta itu yang sangat berbahaya dan jika sudah bercampur penyakit seperti itu maka menjadi lama sembuhnya.

Kata dia, apabila ada anak-anak yang usianya sudah mencapai 7 tahun yang juga mengalami gizi buruk dari semenjak umur masih balita hingga sekarang belum ada perubahan atau sembuh, itu sudah termasuk penyakit bawaan dan berat badannya pun tidak akan naik.

"Biasanya anak-anak masuk dalam program bantuan atau pemberian makanan tambahan untuk pemulihan, itu diprioritaskan kepada anak yang masih usia 5 tahun ke bawah dari program Dinas Kesehatan. Karena ada juga di Lapang beberapa anak yang mengalami lumpuh atau tidak bisa jalan yang umurnya sudah di atas lima tahun, itu memang dikarenakan penyakit penyerta dan kelainan saraf, bahkan berbicara pun tidak bisa. Akan tetapi anak yang dimaksudkan itu juga pernah kita (pihak puskesmas) tangani dalam program gizi buruk dari sebelumnya, pernah juga dirawat keluarga di RSUCM Aceh Utara maupun RSUZA Banda Aceh, tapi tetap saja tidak ada perubahan," ungkap Jafaruddin.

Jafaruddin menjelaskan, penyebab gizi buruk itu juga dipengaruhi dari kandungan si ibu hamil. Artinya, jika tidak bagus makanan untuk ibu hamil bisa memengaruhi kepada bayi yang dilahirkan tersebut.

Kemudian, ada juga ketika balita, tidak membawa anaknya itu ke posyandu secara rutin, asupan gizi yang bagus sangat kurang dan sebagainya.

"Saya kira masyarakat harus bisa memahami pentingnya nilai gizi terhadap perkembangan anak, agar kesehatan anak dapat terjaga dengan baik, itu yang harus diutamakan," kata Jafaruddin.

Di samping itu, kata Jafar, pihaknya juga memberikan asupan nutrisi susu bagi ibu hamil. Itu merupakan program dari Dinas Kesehatan dan pihak puskesmas hanya menerima barangnya saja, setelah itu diberikan kepada ibu hamil bagi siapa saja yang sedang mengandung.

Bagi ibu hamil itu juga dicek kondisinya oleh bidan desa bersangkutan, biasanya bulan pertama kehamilan pasti diperiksa. Pokoknya perkembangan kehamilan itu pihaknya mengecek sebanyak empat kali dalam jangkan waktu sembilan bulan ibu hamil, tentunya asupan bergizi juga rutin diberikan.

“Kadang bagi ibu hamil yang tidak sanggup lagi ke posyandu, itu ada kader atau bidan desa yang menyambangi ke rumahnya untuk mengecek serta memberikan penyuluhan mengenai asupan makanan yang sehat,” ujar Jafaruddin.

Namun, kata Jafaruddin, mengenai dua anak (Saini Mubarak dan Mirza) yang dialami di Gampong Kuala Keureutoe, itu sudah tidak termasuk lagi dikategorikan gizi buruk karena usinya sudah 7 dan 6 tahun.

Artinya, yang masuk program penanganan gizi buruk itu ketika umurnya masih 5 tahun kebawah, kalau sudah mencapai 5 tahun keatas apabila kondisi fisiknya tidak ada perubahan atau menjadi gizi kurang dan gizi baik, itu disebabkan ada penyakit penyerta atau bawaan sejak lahir.

“Kedua anak itu memang termasuk gizi buruk juga, akan tetapi untuk saat ini tidak masuk lagi dalam program penanganan karena sudah melewati usia dari ketentuan. Itu tidak mendapat bantuan makanan pemulihan lagi, sebelumnya memang pernah kita tangani tapi hingga kini tampaknya masih belum ada perubahan yang signifikan. Itu dikarenakan ada penyakit penyerta atau mengalami kelainan saraf, tapi setelah keduanya dilakukan terapi di RSUCM tampaknya sekarang sudah agak sehat dari sebelumnya,” ungkap Jafaruddin.

Sedangkan untuk dokter ahli gizi khususnya di Kecamatan Lapang, kata Jafar, sejauh ini belum ada. Hanya perawat biasa yang membantu untuk penanganan gizi bagi anak-anak baik di posyandu maupun puskesmas. Kegiatan posyandu dilakukan rutin dalam satu bulan sekali. 

“Kalau misalnya dalam penanganan penderita tersebut bahwa ada anak-anak yang mengalami gizi kurang, itu artinya sudah berkurang dari gizi buruk dari jumlah kasus yang. Kita berharap dalam tahun 2020 bisa berkurang dari 6 orang anak (data 2019) yang sedang ditangani bagi mengalami gizi buruk tersebut,” ungkap Jafar.  

Menganai Bocah Tu Afdal

Kepala UPTD Puskesmas Tanah Pasir, Rosdiana, SKM, mengungkapkan, kasus gizi buruk khususnya di kecamatan itu ada empat orang (anak) berdasarkan data tahun 2019, dan pengukuran atau penilaian status gizi anak itu dilakukan pada September-Oktober 2019. Pengukuran itu dilakukan berupa berat badan dan tinggi badan sesuai usia masing-masing anak. 

"Akan tetapi kalau Tu Afdal itu ada sakit bawaan sejak lahir dan ada kelainan saraf, karena kondisi fisiknya itu memang tampak lemas dan kaku seperti itu. Dia tidak termasuk dalam gizi buruk murni tapi tetap dalam pantauan kami, sebelumnya kita juga pernah berkunjung ke rumahnya (Gampong Blang) untuk memberikan asupan gizi dan sebagainya. Kita menanganinya tetap dalam program gizi buruk, hanya saja anak itu tidak masuk dalam daftar anak gizi buruk karena dia tidak bisa dilakukan pengukuran sebab kondisi badannya kaku dan sulit untuk diluruskan. Bahkan orangtuanya pernah membawa dia (Afdal) ke RSUDZA Banda Aceh untuk konsultasi,” ujar Rosdiana, Selasa, 18 Februari 2020.

Rosdiana menambahkan, untuk jumlah kasus gizi buruk di Tanah Pasir terhitung sejak 2017, 2018 dan 2019 itu tetap sama.

Kata dia, karena keempat anak-anak yang mengalami gizi buruk itu kelahirannya pada tahun 2017 dengan masing-masing bulan berbeda, maka berdasarkan jumlah tersebut hingga saat ini masih tetap data yang sama dan tidak ada yang bertambah.

“PMT pemulihan terhadap anak gizi buruk tersebut sampai sekarang masih berjalan dan tetap kita pantau perkembangannya. Selain itu, kita juga melakukan penanganan bagi ibu hamil setiap ada posyandu maupun pengecekan rutin serta memberikan asupan bergizi seperti susu dan sebagainya. Kita setiap bulan melakukan kunjungan posyandu, apabila ada didapatkan ibu hamil yang kekurangan energi kronik (KEK) yang terlihat kurus dan segala macam, maka penanganannya memberikan makanan tambahan bagi ibu hamil atau pemberian susu dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Utara melalui pihak puskesmas,” kata Rosdiana.

Menurut Rosdiana, untuk anak gizi buruk pihaknya memberikan PMT pemulihan setiap bulan selama enam bulan. Kalau sistem penanganannya memang seperti itu, dan mudah-mudahan ke depan jangan ada penambahan lagi mengenai anak gizi buruk.

Untuk melakukan pendataan anak gizi buruk itu pihaknya menggunakan aplikasi e-PPGBM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat), sehingga secara otomatis muncul sendiri status gizi pada aplikasi tersebut.

“Apabila ada kesalahan input data itu langsung terbaca sendiri status gizi dalam e-PPGBM. Kalau misalkan itu terjadi, maka kita akan memanggil bidan desa untuk menanyakan kembali benar tidak anak dimaksud dari hasil pengukuran berat badan serta tinggi badannya itu masuk status gizi buruk atau tidak. Kita di sini (puskesmas) tidak ada dokter ahli gizi, hanya dokter umum saja yang menjadi petugas gizi dalam memberikan PMT atau asupan bergizi, Pada intinya, anak-anak yang mengalami gizi buruk di Tanah Pasir tetap dibawah pantauan petugas gizi puskesmas maupun bidan desa." ungkap Rosdiana.

Ratusan Kasus Gizi Buruk Aceh Utara

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Utara, dr. Wustha, mengatakan, berdasarkan data yang masuk melalui aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) pada tahun 2019, Aceh Utara tercatat sekitar 543 kasus gizi buruk, tapi itu perlu di-croscek ulang lagi di setiap puskesmas dan posyandu. Sedangkan untuk tahun 2018 itu tercatat hanya 350 kasus. 

"Khususnya tahun 2019, berdasarkan data yang kita dapatkan kasus gizi buruk paling banyak di Kecamatan Matangkuli yaitu ada 93 kasus, Tanah Luas 53 kasus, dan Dewantara, terdapat 59 kasus. Selain itu, di Kecamatan Lapang, Tanah Pasir juga terdapat sejumlah kasus gizi buruk, tapi itu perlu kita cek lagi nanti. Kita pun sudah mengimbau kepa da pihak puskesmas melalui tenaga gizi untuk memantau lagi, apakah benar anak-anak di kecamatan/desa itu mengalami gizi buruk. Kalau memang itu benar, kita akan memberikan PMT pemulihan atau pemberian makanan tambahan untuk anak-anak tersebut," kata Wustha, Kamis, 6 Februari 2020.

Menurut Wustha, pada dasarnya data gizi buruk itu semua kecamatan di Aceh Utara masuk atau diperoleh pihak Dinkes. Hanya saja tergantung wilayah mana yang lebih dominan atau jumlah paling banyak. Kata dia, faktor anak-anak mengalami gizi buruk itu dikarenakan asupan dan nutrisi tidak cukup, dan pengetahuan orang tua (kaum ibu) tentang makanan yang baik atau asupan gizi itu sebagian tampaknya masih kurang.

"Tapi kita melihat yang mengalami gizi buruk itu tidak hanya anak-anak di gampong (desa), bahkan anak yang penduduk di kota pun juga ada yang mengalaminya. Untuk itu, kita selalu memberikan pemahaman kepada masyarakat dengan cara melakukan penyuluhan tentang gizi kepada ibu hamil, bagaimana caranya memilih makanan bergizi bagi ibu yang sedang hamil," ungkap Wustha.

Wustha menambahkan, anak-anak yang mengalami gizi buruk itu ada beberapa penyebab yakni faktor asupan gizinya kurang, ekonomi, kurangnya pengetahuan kaum ibu dan juga faktor lingkungan.

Menurutnya, dalam penanganan gizi buruk tentu ada kendala di lapangan, karena ada juga sebagian orang tua (bapak si anak) tidak dibolehkan anaknya dibawa ke posyandu (melalui ibunya) dengan bermacam alasan berdasarkan kasus didapatkan di lapangan.

"Jadi, caranya kita libatkan tokoh masyarakat supaya dapat lebih leluasa. Untuk program ke depan kita akan merevitalisasi posyandu. Artinya, revitalisasi posyandu  untuk peningkatan posyandu ke strata yang lebih baik, yakni peningkatan status dari posyandu purnama dan mandiri menjadi posyandu keluarga," kata Wustha.

Lanjut Wustha, untuk menekan gizi buruk itu tidak hanya dari pihak puskesmas atau petugas kesehatan, semua pihak harus terlibat. Paling penting terutama kesadaran masyarakat khususnya bagi ibu hamil itu harus benar-benar memahami mengenai asupan gizi yang baik, supaya dapat terhindar hal tidak diinginkan di kemudian hari.

Gizi Buruk Bukan Semata dari Kesehatan, Tapi Bisa Lingkungan dan Penyakit Penyerta Lain

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Utara, Amir Syarifuddin, menjelaskan, untuk tahap awal (tahun 2020) pihaknya melakukan pendataan riil di lapangan mengenai jumlah/angka yang sebenarnya anak gizi buruk di Aceh Utara.

Pendataan itu dilakukan terhadap data diperoleh pada tahun 2019, setelah ada data yang akurat dan jika memang itu ada kasus maka pihaknya akan memberikan makanan tambahan atau program intervensi bagi balita yang menderita kurang gizi, dimana tujuannya adalah untuk meningkatkan status gizi anak serta untuk mencukupi kebutuhan zat gizi anak agar tercapainya status gizi dan kondisinya yang baik sesuai dengan umur anak tersebut.

Apabila gizi anak itu kurang, kata Amir, maka akan dilakukan PMT pemulihan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita sekaligus sebagai pembelajaran bagi ibu anak itu sendiri sampai enam bulan ke depan, tentunya upaya itu terus dilakukan sampai hilang gizi buruk di Aceh Utara. 

Kata dia, untuk data gizi buruk tahun 2019 yang  mencapai 543 kasus, itu merupakan dari jumlah balita atau anak yang masuk dalam grafik gizi kurang berjumlah 1.398 orang.

Tetapi data tersebut masih perlu dilakukan pengecekan ulang nantinya, karena sebagian ada tidak valid datanya. Itu bisa saja kerusakan daripada aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), masuk data tersebut melalui sistem aplikasi itu baik dari posyandu maupun puskesmas.

"Pendataanya (kasus gizi buruk) pada tahun 2019, itu kita melakukan pendataan ulang secara riil dari 27 kecamatan di Aceh Utara. Karena di lapangan atau beberapa tempat saya kunjungi selama ini di daerah itu, belum ada ditemukan gizi buruk yang murni. Artinya, data itu (543) kita perlu melakukan pengecekan ulang, supaya nantinya mendapat data yang akurat," kata Amir Syarifuddin, Kamis, 13 Februari 2020.

Menurut Amir, data tidak akurat yang diperoleh tersebut bisa saja kurangnya aktif tenaganya (tenaga kesehatan bidan desa/kader Dinkes Aceh Utara) selama ini mungkin. Ataupun sistem pengukuran panjang/tinggi badan balita yang dilakukan bidan desa atau kader tidak bisa memakai rumus yang benar, kemudian bisa saja ada bermasalah pada aplikasinya dan banyak hal-hal lainnya. Tapi pihaknya tidak bisa mengintervensi terlalu jauh, karena itu merupakan terjadi kasus yang lalu (2019).

"Tetapi ke depan kita akan mencoba untuk mendata ulang dulu dan memperoleh data riil. Jika memang positif banyak anak gizi buruk itu akan kita gerak cepat dengan cara intervensi gizi sebagai salah satu langkah awal demi mengurangi permasalahan gizi buruk tersebut. Maka ke depan saya akan mengaktifkan kembali semua petugas kesehatan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing, serta meningkatkan penyuluhan atau sosialisasi diberikan kepada masyarakat di tingkat puskesmas masing-masing kecamatan maupun desa," ujar Amir.

Amir Syarifuddin mengungkapkan, saat ini (Februari) pihaknya sedang mengikuti Musrenbang. Tapi untuk sistem sosialisasi atau penyuluhan terkait pemenuhan gizi anak dan lainnya, itu pihaknya tidak lagi mengajukan di Musrenbang, tapi dilakukan melalui program di Dinkes.

Sehingga dengan anggaran yang dimasukkan melalui program tersebut, maka nantinya semua petugas gizi atau tenaga kesehatan di puskesmas untuk turun secara bersama ke desa-desa melakukan sistem posyandu lima meja.

"Anggaran untuk tahun ini (2020) saya belum cek monimalnya berapa, karena Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) kita belum siap sehingga belum dapat dipastikan berapa jumlahnya. Tetapi kita tidak hanya terpaku pada anggaran, yang jelas kasus gizi buruk itu harus kita tuntaskan ke depan untuk menyejahterakan masyarakat di bidang kesehatan," kata Amir.

Menurut Amir, cuma ada satu problem, kalau memang terjadi gizi buruk karena faktor kemiskinan atau ekonomi, pihaknya nanti akan berkoordinasi dan bekerja sama dengan pihak Dinas Sosial maupun Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong di Aceh Utara. Kata dia, karena gizi buruk itu belum tentu kasus dari kesehatan, dan bisa saja faktor ekonomi, lingkungan ataupun penyakit penyerta yang dialami anak-anak.

"Pada intinya untuk sekarang dan seterusnya kita perlu melakukan pendataan kembali secara riil mengenai angka anak gizi buruk tersebut. Kemudian tenaga atau staf saya di masing-masing kecamatan harus bekerja semaksimal mungkin, yang kasus gizi buruk ini harus kita turunkan untuk ke depan dengan melakukan berbagai upaya," ungkap Amir Syarifuddin.

Sementara itu, Amir menyebutkan, kasus gizi buruk pada tahun 2018 terdapat 350 kasus dari jumlah balita sebanyak 1.478 orang. Pada dasarnya gizi buruk itu semakin lama mengalami penurunan, hanya saja terkadang ketika dilakukan pengukuran berat barat badan dan tinggi badan balita itu ada yang tidak sesuai ketika masuk melalui aplikasi e-PPGBM, sehingga bisa terjadi kesalahan data yang masuk.

Karena itu, untuk data tahun 2019 itu saat ini petugas di tingkat puskesmas pun sedang bekerja guna melakukan pendataan ulang. Sedangkan untuk tahun 2020 itu belum terdaftar anak gizi buruk dan akan diantisipasi dengan melakukan penurunan jumlah anak gizi buruk, tentunya terus berupaya memberikan asupan bergizi terhadap anak-anak melalui posyandu maupun tingkat puskesmas.

Namun, sekarang juga sedang difokuskan dalam memverifikasi kembali data tahun 2019 yang masuk lewat e-PPGBM tersebut.

“Kita targetkan dalam tahun 2020 untuk anak gizi buruk itu harus banyak bisa ditekankan. Upaya ke depan guna menekan jumlah atau angka kasus anak gizi buruk, itu akan kita kembalikan sumber daya manusia (SDM) seperti bidan desa ke setiap gampong. Kemudian, langkah lainnya yang kita lakukan terus memberikan makanan tambahan kepada anak-anak yang mengalami gizi buruk selama enam bulan. Kita juga memberikan penyuluhan konket kepada masyarakat khususnya kaum ibu supaya dapat memahami tentang program-program kesehatan,” ujar Amir Syarifuddin.

Amir menambahkan, tentunya setiap kegiatan yang dilakukan selalu dilakukan evaluasi seperti dari kinerja petugas kesehatan apa yang menjadi kendala dalam menekan angka gizi buruk tersebut. Juga dievaluasi mengenai mengapa bisa terus terjadi kasus anak gizi buruk.

Hasilnya memang para petugas telah bekerja semaksimal mungkin dalam upaya penanganan gizi buruk, itu terjadi dikarenakan sangat berpengaruh dari segi kebutuhan ekonomi orang tua si anak. Kata dia, kendalanya hanya kesadaran masyarakat saja yang belum begitu memahami betul mengenai asupan bergizi sehingga rentan terjadi kasus anak gizi buruk tersebut, karena kebanyakan didapatkan anak yang mengalami itu merupakan sebagian besar dari kalangan keluarga miskin.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara, Drg. Nurhaida, M.P.H., melalui Kepala Bidang Pelayanan Medik, dr. Abdul Mukti, mengatakan, untuk anak gizi buruk yang sempat dirawat di Rumah Sakit Cut Meutia, itu berdasarkan data diperoleh pihaknya bahwa terhitung sejak Januari tahun 2019 berjumlah 23 pasien atau penderita gizi buruk khususnya di Aceh Utara.

"Tapi kalau jumlah secara keseluruhan (data 2019) itu ada 25 pasien, dua lainnya ada anak gizik buruk berasal dari Kota Lhokseumawe. Itu merupakan penderita gizi buruk yang pernah dirawat di rumah sakit ini (RSUCM), kalau memang ada anak-anak lain mengalami hal yang sama itu mungkin ada juga yang dirawat di rumah sakit lainnya. Karena gizi buruk itu ada standarnya juga, misalnya cukup dengan pelayanan gizi di posyandu atau puskesmas daerah masing-masing, itu bisa jadi tidak perlu dirawat sampai ke rumah sakit umum," kata Abdul Mukti, Selasa, 11 Februari 2020.

Menurut Abdul Mukti, sedangkan anak-anak atau penderita gizi buruk yang dirawat di Rumah Sakit Umum Cut Meutia, itu kondisinya memang perlu penanganan intensif. Misalkan, berat badan dengan usia sudah tidak sesuai seperti umurnya 3 tahun dengan berat badan hanya 6 Kg, perkembangannya tidak sesuai dengan usia dan hal serupa lainnya.

"Karena kurang gizi, maka kita memberikan asupan gizi yang baik seperti susu dan lainnya yang ditangani ahli gizi terkait kebutuhan pasien tersebut. Kalau kondisinya sudah ada perubahan maka baru kita kembalikan ke rumah atau keluarganya, ketika pasien hendak keluar dari rumah sakit kita juga berkoordinasi dengan pihak Dinas Kesehatan. Tentunya baru bisa keluar pasien sampai perkembangan atau kondisi anak itu sudah bagus," ujar Mukti.

Penderita gizi buruk yang masuk ke rumah sakit tersebut, lanjut Mukti, itu dari berbagai kecamatan di Aceh Utara, anak-anak akibat kurang gizi itu juga diperanguhi penyakit penyertanya.

Misalnya, mencret, demam ataupun peradangan paru-paru, tentu diobatinya sesuai penyakit penyerta dan untuk gizi itu diberikan asupan secara baik yang diatur ahli gizi tersebut.

"Tapi rata-rata anak atau balita kurang gizi hingga menjadi gizi buruk itu ada faktor ekonomi keluarga, juga faktor kurang pemahaman tentang gizi dari orangtuanya. Pada dasarnya anak-anak itu harus diberikan asupan gizi dengan baik, supaya kesehatannya tetap terjaga secara sehat," ungkap Abdul Mukti.

Program Plus Buat Atasi Gizi Buruk Aceh Utara

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara, Ismed Nur Aj. Hasan, menyebutkan, pihaknya mengharapkan Dinas Kesehatan ke depan harus memiliki program plus yang benar-benar bisa mengurangi angka kasus gizi buruk khususnya di Aceh Utara. Terlebih saat ini (Februari) sedang dilaksanakan Musrenbang daerah tersebut, supaya dianggarkan dana untuk penanganan gizi buruk.

"Juga bagaimana penanggulangan imunisasi secara baik, maka itu harus dianggarkan dana serta diprioritaskan untuk pencegahan gizi buruk tersebut. Supaya kasus itu ke depannya jangan sampai menjadi lebih tinggi atau meningkat lagi, minimal bisa ditekanlah walaupun tidak secara signifikan akan turun. Tapi ada program-program prioritas dalam rangka mencegah gizi buruk itu," ungkap Ismed Nur Aj. Hasan, Kamis, 13 Februari 2020.

Artinya, lanjut Ismed, jangan sampai saban tahun kasusnya terus meningkat dan tidak ada penurunan. Kalau tidak, apa juga tugas pihak Dinas Kesehatan atau puskesmas, bidan PTT (Pegawai Tidak Tetap) atau bidan-bidan desa yang ada. Karena pencegahan yang paling penting daripada pengobatan, bagaimana pencegahannya supaya dapat tertanggulangi dari kasus gizi buruk itu.

"Paling penting kan kita harus memberikan pemahaman dulu kepada masyarakat dan khususnya bagi ibu hamil agar dapat terjaga kesehatannya sejak dini. Artinya, pencegahan dulu dilakukan daripada tindakan pengobatan, karena jika mengalami gizi buruk maka sudah fatal. Untuk itu, kita mengharapkan kepada Kepala Dinkes Aceh Utara yang baru, agar lebih proaktif dalam hal penanggulangan gizi buruk yang terjadi di 27 kecamatan wilayah Aceh Utara," kata Ismed.

Ia menambahkan, dari kecamatan mana saja yang lebih tinggi kasus gizi buruk itu, maka itulah yang harus diprioritaskan. Selain itu, pemahaman gizi harus lebih ditingkatkan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat, terlebih bagi ibu-ibu yang masih usia muda atau baru berumah tangga, itu perlu dilibatkan dalam penyuluhan di tingkat gampong.

"Kegiatan itu bisa dilakukan para bidan desa yang ada, kita melihat selama ini sosialisasi berkenaan itu kepada masyarakat sangat kurang. Misalkan, di gampong itu ada polindes (Pondok Bersalin Desa), tapi tampaknya tidak ditempati oleh bidan-bidan desa sehingga mereka bermangkal di puskesmas, itu juga perlu dibenahi untuk ke depan," ujarnya.

Padahal, kata Ismed, gizi buruk itu bisa diantisipasi sedini mungkin. Oleh karena itu, pihaknya berharap kepada pihak Dinas Kesehatan baik puskesmas maupun polindes yang ada di kecamatan/desa, itu perlu melakukan atau memfungsikan perannya guna mengantisipasi tentang gizi buruk, dan pendampingan kepada ibu hamil harus dilakukan secara baik dan maksimal.(FUL/MS)

Penulis : Muhammad Fazil, Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Lhokseumawe

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00