• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Jeritan Petani Desa Terancam Gagal Panen Karena Kekeringan

21 February
00:14 2020
0 Votes (0)

KBRN Lhokseumawe: Seharusnya keberadaan bangunan Waduk diharapkan dapat mengatasi kebutuhan petani untuk mengairi areal persawahan, akan tetapi sangat disayangkan jika ke beradaan Waduk di bangun Pemerintah Di lokasi Desa Seunubok Kecamatan Blang mangat masih menuai kekecewaan masyarakat bermata pencarian sebagai petani. Akibat dilanda kekeringan masyarakat Petani di Desai ini hanya bisa pasrah dengan hasil panen yang tidak memcukupi.

Musim kemarau datang  waduk pun ikut mengering, sementara kami petani selalu selalu dihadapkan dengan pendapatan tidak mencukupi, Rintihan dan keluhan karena gagal panen tersebut dilontarkan salah seorang petani bernama Herman warga Desa Setempat yang mengakui pasrah dengan hasil panen tidak mencukupi, atau bisa dikatakan menjerit karena gagal panen,

,” Harapan kami hanya berkebun dan turun kesawah, tapi dalam kondisi begini Rezeki tidak menentu, penyebabnya padi kering dan gagal panen karena kurang air sementara waduk yang ada tidak mampu mengairi areal sawah yang ada , Keluh petani bernama Herman.

 
Dari pantauan tim liputan kamis (20/02/2020), Keberadaan  waduk diDesa  setempat yang tidak memiliki sumber  debit air memang tampak dalam kondisi mengering  sehingga tidak bisa diandalkan untuk memenuhi  hajat petani  yang membutuhkan air  untuk mengairi luas 50 hektar areal persawahan yang ada dikasawan itu.
Dilokasi ini terdapat sekitar 50 Hektar luas areal sawah yang  menunggu waktu turunya hujan.

Pemandangan  Luas areal persawahan dengan kondisi tanah mengering  akibat kekurangan debit air, juga terlihat diareal persawahan yang ada diDesa/ Gampong Blang Weu Panjo Kecamatan setempat.

 
Geuchik Gampong setempat Haji Usman, mengakui , jadwal tanam 3 kali dalam setahun sama sekali tidak bisa terlaksana karena alasan kekeringan debit .Jeritan petani karena keterpurukan ekonomi di katakan Haji Usman  sudah terjadi  setiap tahun Disaat datangnya  musim kemarau, Menurutnya kondisi gagal panen Disebabkan kekeringan juga Hama tikus, ikut berdampak pada keterpurukan ekonomi petani di desa setempat,  

,”bukan Cuma tahun ini, tahun tahun kemarin juga banyak petani gagal panen,Cuma sekarang ini lebih parah disebabkan dua perkara yaitu kekeringan dan hama tikus , sehingga masyarakat sangat kewalahan dan hari ini menjerit, kalo pemerintah tidak memikirkan sekarang kapan lagi pemerintah memikirkan rakyat,” Pinta geuchik Haj Usman.  

Dalam  hal ini Geuchik Haji Usan mengharapkan adanya perhatian Pemerintah Kota melalui Dinas (DKPPP) terkait keberadaan waduk yang perlu dilengkapi system pompanisasi ataupun pembangunan sumur Bor sesuai dibutuhkan untuk mengairi areal persawahan yang mencapai luas areal sekitar 140 hektar,

" Kalau didaerah jawa bisa kenapa kita di Aceh tidak bisa, tapi ya itulah semoga mereka (red, Pemerintah Kecamatan Hingga Pemko) mau peduli, disaat petani menjerit,,"imbuh Geuchik Haji Usman.

 
Kondisi tanaman padi yang kian terancam gagal panen, juga terlihat tidak jauh berbeda disejumlah desa  yang juga mengalami kekurangam debit air, seperti kondisi kekeringan areal sawah tadah hujan di Desa Alue lim, Desa Blang Buloh,  dan Desa Jeulekat, serta desa Blang Weubaroeh,  juga Desa seubok kecamatan setempat. Hampir 80 persen penduduk Kecamatan Blang Mangat tersebut dikatakan wakil ketua KTNA menggantungkan hidup disektor Pertanian dan bercocok tanam Perkebunan juga sektor  Peternakan. (FIK/MS)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00