• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sorotan Kampus

Perajin Batik Sragen Belum Optimalkan Alat Bantuan UNS

7 December
20:44 2016
0 Votes (0)

KBRN,  Surakarta : Persaingan  harga yang tidak sehat antar UKM, belum optimalnya paguyuban Batik , keterbatasan tenaga ahli, cuaca yang tidak menentu dan sejumlah faktor lainnya menjadikan upaya peningkatan kesejahteraan Pengrajin Batik di Kecamatan Masaran Sragen belum berjalan optimal.

Hal itu disampaikan Peneliti dari Universitas Sebelas Maret UNS Solo Margana kepada wartawan pada Roadshow Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat  di Desa Pilang Masaran Sragen, Rabu (7/12/2016).

Hasil penelitiannya dalam 2 tahun terakhir,   menyebutkan UKM Batik di Kabupaten Sragen masih menerapkan manajemen konvensional baik dalam produksi,  seperti diversifikasi produk, mekanisme produksi, pemeriksaan mutu,  maupun majemen pemasaran,   seperti penentuan target pasar, daerah pemasaran , media promosi juga dalam  manajemen SDM.

Untuk itu, pihaknya bersama Tim dengan Ketua Prof. Dr. Asri Laksmi Riani  yang melakukan penelitian,  menyusun sebuah model untuk melakukan percepatan industri batik tulis kreasi dan kombinasi melalui manajemen hulu hilir untuk mendukung akselerasi pembangunan ekonomi wilayah. Model yang diberi nama Integrated Management for Batik Enrichment IMBE, harus dikelola secara terpadu atau dikelola sektor hulu dan hilir secara berimbang.

Sementara,  Ketua Paguyuban Produsen Batik Desa Pilang Masaran Sragen, Suwanto membenarkan dalam 2 tahun terakhir,  pihaknya telah berhasil mengembangkan produksi Batik dengan cara mudah dan murah, yakni teknik malam dingin.

Menurutnya, bantuan peralatan dari UNS , masih belum dapat digunakan secara maksimal untuk membuat desain.

"Kami mendapatkan bantuan berupa peralatan untuk pengembangan desain sendiri , kalo kita desain sendiri pakai komputer itu belum bisa, karena UKM di sini itu adalah UKM produksi batik, sementara desain Desa Pilang ada 4 orang, sehingga untuk mendesain itu kadang ngantri," jelasnya.

Salah seorang Pengrajin Batik , Harno yang memproduksi batik dengan nama HP, menyatakan, batik yang dihasilkannya diambil Pengusaha bermodal besar dan punya nama di sejumlah Kota besar di Indonesia.

Meski hanya sebagai produsen, dirinya dan perajin di desanya merasa telah puas, jika di televisi ditayangkan hasil produksinya digunakan pejabat ataupun masyarakat berbagai lapisan. Harno mengaku, usaha yang digelutinya sejak tahun 1975 dengan modal menjual sepeda motor bebeknya.

Saat ini,  telah berkembang dan mampu memproduksi 700 hingga 1000 lembar kain batik, baik batik tulis, cabut kombinasi,  maupun batik teknik malam dingin. (Dyah S/Evie D).

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00