• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Hukum dan HAM

Terdakwa Pembunuh Gadis Riskia Divonis 15 Tahun Penjara

4 February
14:20 2020
0 Votes (0)

KBRN, Banyuwangi : Ahmad Choirul alias Icang, terdakwa kasus pencurian disertai kekerasan yang menyebabkan terbunuhnya Gadis Rizkia, dihukum selama 15 tahun penjara. Dalam sidang yang diselenggarakan diruang Garuda, Selasa (4/2/2020), majelis hakim yang dipimpin Luluk Winarko, menetapkan Icang terbukti secara sah, melanggar pasal 365 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian.

Dalam vonis yang dibacakan oleh Hakim Luluk Winarko, vonis ditetapkan karena ada hal - hal yang memberatkan salah satunya, Ahmad Choirul pernah menjalani hukuman atas kasus pencurian, sehingga majelis hakim memutuskan menghukum tersangka dengan hukuman sesuai dengan tuntutan jaksa yakni 15 tahun.

"Hal - hal yang memberatkan adalah terdakwa pernah dihukum dan menyebabkan penderitaan yang mendalam bagi keluarga korban, dengan mempehatikan hal tersebut terdakwa dihukum 15 tahun penjara," ungkap Luluk Winarko, Selasa (4/2/2020).       

Putusan dari majelis hakim tersebut langsung disambut tangisan histeris dari keluarga Gadis Riskia, termasuk ibu korban Rita Sahara, yang menilai putusan dari hakim tidak adil kerena terdakwa hanya dihukum 15 tahun penjara.

"Dia sudah membunuh anakku, nyawa harus dibayar nyawa, penjahat itu harus mati, saya yang melahirkan dan merawat Gadis, kasihan kamu nak," ungkap, Rita.     

Sebelumnya dalam sidang tuntutan yang dilaksanakan pada Selasa (21/1/2020) jaksa menuntut tersangka Ahmad Choirul alias Icank dengan hukuman 15 tahun penjara dan vonis tersebut sudah sesuai dengan tuntutan Jaksa.

Sebagai informasi, kasus pencurian dengan kekerasan, yang dilakukan Icang terjadi pada 27 September 2019, dan korban Gadis harus dilarikan kerumah sakit karena mengalami luka serius dibagian kepala, hingga akhirnya meninggal pada 4 Oktober 2019 lalu.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00