• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Seputar Kota

Diduga Monopoli, Dua Tender PDAM Depok Disoal

26 February
18:51 2020
0 Votes (0)

KBRN, Depok: Proses lelang dua pembangunan gedung kantor wilayah Timur dan gedung kantor wilayah Barat PDAM Tirta Asasta Kota Depok, mendapat menjadi sorotan sejumlah LSM dan pelaku usaha jasa konstruksi di Kota Depok. Pasalnya, kuat dugaan penyelenggaraan lelang hingga penetapan pemenang tender 2 paket proyek dengan nilai miliaran rupiah itu setingan.

Betapa tidak, kedua paket yang diloloskan oleh tim Pokja Pemilihan PPDAM Asasta Kota Depok itu hanya diikuti oleh peserta tender tunggal di masing-masing paketnya. Yaitu PT Jolundra Putra, selaku peserta dan pemenang tender lelang pembangunan kantor wilayah Barat PDAM dengan nilai penawaran sebesar Rp3,95 miliar dan PT Bersinar Jesstive Mandiri, selaku peserta dan pemenang tender lelang pembangunan kantor wilayah Timur PDAM dengan nilai penwaran sebesar Rp4,30 miliar.

"Kuat dugaan udah plotingan itu siapa yang bakal menang tender proyek di wilayah timur dan siapa yang bakal menang di wilayah barat itu," tutur Penggiat Anti Korupsi Kota Depok, RN kepada RRI, Rabu (26/02/2020).

"Udah ngga aneh lagi, itulah permainan seni tingkat tinggi PDAM Kota Depok," tambahnya.

RN pun tak menapik, jika setiap plotingan proyek seperti diatas sarat dengan pungli yang dikenal dengan istilah komitmen fee. Biasanya, ujar RN, PPK dan Pokja PDAM sudah "ngamen" sebelum tender itu digelar.

"Makanya susah di OTT. Sudah kongkalikong semua mereka. Corp Adhyaksa jangan tutup mata," ujarnya.

Pantauan RRI, di https://lpse.depok.go.id/eproc4/lelang/7979034/peserta, hanya PT Jolundra Putra, perusahaaan (tunggal) yang ikut lelang pembangunan kantor wilayah Barat. Dan di https://lpse.depok.go.id/eproc4/lelang/7980034/peserta, hanya PT Bersinar Jesstive Mandiri, perusahaan (tunggal) yang ikut lelang pembangunan kantor wilayah Timur.

Melihat tidak adanya fairness dalam tender PDAM ini, membuat gerah sejumlah kontraktor yang menggeluti jasa konstruksi di Kota Depok. Salah satunya datang dari Asosiasi Gapeksi Kota Depok berinisial AN.

AN mengatakan apa yang dilakukan PDAM dengan perusahaan yang memenangkan tender pembangunan kantor PDAM wilayah Barat dan Timur, tersebut telah menciderai semangat persaingan bisnis yang sehat di Kota Depok.

Oleh sebab itu, AN pun akan melaporkan hal ini ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Karena diduga adanya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dalam dua paket tender PDAM yang kedua pemenangnya di umumkan di waktu yang bersamaan yakni 21 Januari 2020 itu.

"KPPU harus turun menyelidiki kasus ini. Apalagi infonya orang yang sama, yang memenangkan dua tender berbeda itu," katanya.

Kedua, AN juga menyoroti, alasan PDAM lebih memilih perusahaan Jakarta daripada perusahaan lokal?. Padahal lanjut AN, ada banyak perusahaan jasa konstruksi yang memenuhi syarat klasifikasi M di Kota Depok.

AN merujuk kepada Peraturan Wali Kota (Perwal) Depok Nomor 39 Tahun 2019 yang berfungsi untuk membatasi nilai maksimal tender berdasarkan klasifikasi perusahaan yaitu untuk perusahaan kecil (K) nilai tender maksimal Rp2,5 miliar, perusahaan menengah (M) nilai tender maksimal Rp10 miliar dan perusahaan besar (B) nilai tender diatas Rp10 miliar.

"Perwal ini kan setingan untuk memuaskan kerakusan Pemerintah Kota Depok dan kroni-kroninya untuk mengendalikan siapa yang menang tender di semua lelang, termasuk lelang PDAM. Ini dasarnya," tandasnya.

Terpisah, baik Direktur Utama PDAM Tirta Asasta Kota Depok Olik Abdul Holik mupun Manager Pengadaan PDAM Tirta Asasta Kota Depok Cepi, belum bisa di konfirmasi terkait kasus ini. (RL)

  • Tentang Penulis

    Rido Lingga, S.Kom

    Jurnalis Radio Republik Indonesia | RRI Jakarta | email: lin99a@gmail.com

  • Tentang Editor

    Rido Lingga, S.Kom

    Jurnalis Radio Republik Indonesia | RRI Jakarta | email: lin99a@gmail.com

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00