• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Layanan Publik

BUTTMKP Sosialisasikan Alat Sensor yang Bisa Mendeteksi Daging Celeng

17 December
17:15 2019
0 Votes (0)

KBRN, Bekasi : Balai Uji Terap Teknik Dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP) mensosialisasikan alat sensor berbasis artificial intelegent (mesin pintar)  untuk mendeteksi daging celeng (babi hutan) atau daging sapi.  

Alat yang menganalisa spektrum gelombang cahaya tersebut, mampu memudahkan petugas Karantina Pertanian, dalam memberikan pelayanan prima terkait hasil produk daging yang beredar di masyarakat.

Sosialisasi alat yang diberi nama eCorpora Vision tersebut, dilakukan di kantor BUTTMKP di Jalan Raya Setu Desa Mekarwangi Kecamatan Cikarang Barat Kabupaten Bekasi, Selasa (17/12/2019). Sosialisasi dihadiri akademisi dari Perguruan Tinggi, Perwakilan Kementrian Pertanian dan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi.

"Alat ini kami kembangkan bekerjasama dengan Politeknik Negeri Bandung. Butuh sekitar tiga bulan hingga alat ini tercipta," ujar drh. Wawan Sutian, MSi, Kepala Balai Uji Terap Teknik Dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP).

Wawan menjelaskan,  eCorpora Vision awalnya diciptakan setelah adanya masukan dari para eksportir daging. Mereka mengeluhkan, lamanya waktu untuk melakukan pengecekan sample daging di Laboratorium.

"Kalau uji lab dibutuhkan waktu dua hari hinga 14 hari untuk mengetahui hasilnya. Sedangkan dengan alat ini, hasil pengecekan bisa diketahui saat itu juga atau real time. Alat ini portable, efektif dan cepat. Sample tidak perlu lagi dibawa ke lab untuk dicek," katanya. 

Saat ini alat eCorpora Vision tengah dalam proses pendaftaran hak paten di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Alat ini kedepan bisa dimanfaatkan untuk keperluan petugas di lapangan. 

"Petugas dari Dinas Pertanian atau Pemerintah Daerah bisa memanfaatkan alat ini. Untuk hak paten akan kami daftarkan tahun depan (2020)," ujar Wawan.

Alat eCorpora Vision terdiri dari dua bagian. Yang pertama alat untuk sensor dan sebuah monitor penyimpan data dengan layar 7 inch. Alat ini memiliki cover berwarna abu-abu yang ramah lingkungan, terbuat dari jagung dan tebu. 

"Saat ini alat baru bisa mendeteksi beberapa daging, tapi kedepan akan kami kembangkan lagi untuk daging lain, serta produk olahan seperti bakso dan lain sebagainya," terang Prof. Rida Hudaya dari Politeknik Negeri Bandung dalam acara Sosialisasi di BUTTMKP.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian, Samsul Ma'arif berharap alat eCorpora Vision bisa meningkatkan jumlah ekspor daging ke luar negeri.

"Selama ini eksportir daging ke Australia, Spanyol dan Brazil mengeluhkan lamanya waktu kalau uji dilakukan di lab. Makanya, mereka kesulitan kalau harus mengejar target peningkatan ekspor 300 persen. Dengan alat canggih ini, waktu uji bisa dipangkas, karena alat ini hasilnya real time," katanya.

Samsul meminta alat ini terus dikembangkan. Sebab semakin ada alat canggih yang diciptakan, maka akan semakin canggih juga cara yang dilakukan oleh oknum pengusaha nakal. 

"Kalau alat ini sudah beredar luas, bukan berarti laboratorium tidak lagi dibutuhkan. Lab tetap ada, karena tidak semua bisa di cek pakai alat ini," katanya.

Selain memperkenalkan alat eCorpora Vision, BUTTMKP juga mensosialisasikan Teknik Pemanasan Sarang Burung Walet, dan Uji Terap berkenaan dengan Teknik Pemanasan untuk mencegah lalat buah yang diperuntukkan bagi produk holtikultura. Seperti mangga, nanas, salak dan kayumanis.

"Kebijakan yang diusung oleh kami adalah dalam rangka meningkatkan produksi dan akselerasi ekspor komoditas. Kemudian, menjaga integritas untuk penyediaan kualitas petugas karantina yang profesional, tangguh terpercaya, handal dan mampu menjawab berbagai tantangan dengan mengedepankan scientific base," ujar Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil, Ph.D.

  • Tentang Penulis

    Erik Hamzah, SH

    Reporter RRI Jakarta. email : erik.hamzah@gmail.com

  • Tentang Editor

    Erik Hamzah, SH

    Reporter RRI Jakarta. email : erik.hamzah@gmail.com

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00