• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ulasan

Bincang - Bincang Kebangsaan Dalam Perspektif Kebahasaan Dan Kesastraan Tahun 2019

22 October
23:10 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud RI melaksanakan kegiatan Bincang-Bincang Kebangsaan dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan.

Kegiatan itu digelar sekaligus dalam rangka memperingati "satu dekade Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan'.

Bincang - bincang itu langsungkan di Aula Gedung M. Tabrani, Rawamangun, Jakarta Timur, hari ini, Senin (21/10/2019)

Acara ini juga salah satu rangkaian kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2019. Tema dari kegiatan ini adalah “Satu Dekade UU Kebahasaan dan Lanskap Kebahasaan Indonesia Terkini

Sekitar 300 peserta mengikuti kegiatan ini, berasal dari unsur dosen, guru, mahasiswa, serta peminat bahasa dan sastra.

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud RI, Dadang Sunendar mengatakan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru bagi masyarakat dari berbagai sudut pandang tentang adanya UU Nomor 24 Tahun 2009 perihal kebahasaan di Indonesia.

"Kegiatan ini diharapkan juga dapat meninjau kembali penerapan undang-undang kebahasaan dalam lanskap kebahasaan sebagai identitas bangsa yang melibatkan partisipasi masyarakat", harapnya.

Bahkan, Dadan Sunendar mengatakan ulasan Undang-Undang kebahasaan ini dapat pula dijadikan landasan pemangku kepentingan untuk mengedukasi masyarakat mengenai peraturan kebahasaan khususnya bahasa Indonesia.

"Dengan demikian, masyarakat dapat mengutamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam berbagai ranah kehidupan," tandasnya.

Dalam kegiatan ini, bincang-bincang dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi bincang kebangsaan dan sesi bincang kebahasaan dan kesastraan.

Adapun pembicara sesi bincang kebangsaan dalam kegiatan ini di antaranya (1) Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, M.S., selaku Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, (2) Prof. Amzulian Rifai, S.H., LL.M., Ph.D. selaku Ketua Ombudsman Republik Indonesia, (3) Prof. Dr. Dendy Sugono selaku Kepala Pusat Bahasa Periode 2001—2009, dan (3) Dr. Dra. Popong Otje Djunjunan selaku Anggota DPR RI Periode 2014—2019.

Kegiatan ini pun semakin istimewa karena dipandu oleh moderator yang juga jurnalis dari Metro TV, yaitu Gadis Bianca Anindhita.

Untuk sesi bincang kebahasaan dan kesastraan, pembicara yang hadir adalah Dadang Sunendar, Joey Lovestrand dari Suluh Insan Lestari dan Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara.

Setiap pembicara mengangkat berbagai topik yang menarik untuk diperbincangkan. Mulai dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 sebagai puncak politik kebahasaan di Indonesia, lanskap kebahasaan Indonesia terkini dan pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik, integrasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 dengan Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, penerapan UU Kebahasaan dalam media massa, hingga peran pendidikan kebahasaan dan kesastraan dalam membangun karakter sikap berbahasa.

Membincangkan keberadaan UU No. 24 tahun 2009, tentang bendera, bahasa, lambang negara. 

Hampir semua pembicara masih merasa belum puas dengan pelaksanaan UU tersebut. Bahkan Ce Popong dengan semangat mengatakan bahwa UU dibuat hanya untuk dilanggar. 

Ce Popong protes saat seorang Menteri Pendidikan menggunakan kata " Next " Pada saat rapat resmi dengan DPR. Bahkan penggunaan well come sebagai pelanggaran yang kentara di bandara bandara. 

Dan lahirnya Perpres penggunaan bahasa semoga menjadikan bahasa Indonesia semakin membuat semua warga negeri ini semakin cinta menggunakan bahasa Indonesia. 

Ayo kita berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. (IRV)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00