• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Metropolitan

Tutupi defisit transaksi berjalan, BI: Pariwisata jadi andalan

12 September
11:07 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Sektor pariwisata disebut-sebut sebagai andalan untuk mendongkrak penerimaan devisa. Di tengah himpitan gejolak defisit transaksi berjalan  Indonesia, sektor pariwisata diharapkan bisa mendorong peningkatan suplai devisa yang lebih stabil.

"Pasalnya,  pariwisata lebih cepat mendatangkan devisa dibanding dengan industri lain," kata Hamid Ponco Wibowo pada Kamis  (12/9)

Hamid Ponco, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta yang hadir dalam acara diskusi akselerasi bisnis inbound  tour operator di Indonesia, di Jakarta mengatakan " Sektor pariwisata yang bisa memperbaiki sektor pendapatan devisa kita, dan bisa menutupi defisit transaksi berjalan  Indonesia, karena pariwisata lebih cepat mendatangkan devisa dibanding industri lain,”

Pada triwulan II tahun 2019, defisit transaksi berjalan mencapai Rp -2 triliun sedangkan neraca pembayaran Indonesia pada triwulan II tahun 2019 juga mengalami defisit  – 8,4 triliun.

Dikatakan, pada tahun 2019 ini diperkirakan devisa yang diperoleh dari jumlah wisatawan mancanegara ( wisman) akan mencapai  20 miliar dokar AS dari 20 juta kunjungan wisman. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 15,8 juta wisman.

Hamid menginginkan, agar menarik wisman ke Indonesia  lebih banyak lagi agar ada peningkatan devisa Indonesia.

Sebenarnya, tambah Hamid, efek pariwisata itu sangat menyebar ke berbagai sektor ekonomi seperti, perdagangan, kerajinan, transportasi, restoran, hotel dan jasa.

“Bila pariwisata makin melebar dan meningkat, maka sektor ekonomi terkait pasti meningkat,” ujarnya.

Jadi tambahnya, bila pariwisata dikelola dengan baik dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2019 tercatat sebesar 5,05 persen atau lebih rendah dari  pertumbuhan triwulan I tahun 2019 sebesar 5,07 persen.

Sementara pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta juga mengalami perlambatan, yakni dari 6,25 persen pada triwulan I 2019 menjadi 5,71 persen pada triwulan II 2019. Perlambatan ekonomi ibu kota bersumber dari melambatnya kegiatan investasi dan ekspor.

Dipaparkan, pariwisata Indonesia bersaing dengan Jepang, China, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Khusus pariwisata Jakarta merupakan salah satu destinasi yang paling siap untuk menyumbang devisa didukung atraksi, aksesibilitas dan amenitas yang memadai.

Kepulauan seribu makin bersinar

Kepulauan Seribu dan Kawasan Kota Tua telah menjadi prioritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai destinasi wisata unggulan di kota Jakarta, selain destinasi lainnya yang sudah terkelola baik seperti kawasan Monas, kawasan Ancol, Taman Mini Indonesia Indah dan kawasan Gelora Bung Karno. Destinasi ke Jakarta didukung oleh masuknya hampir semua maskapai penerbangan asing ke Jakarta. Beragam event dari berbagai skala diselenggarakan setiap bulan di Jakarta.

“Potensi ini perlu digarap sehingga kontribusi dari sektor pariwisata di Jakarta terhadap pertumbuhan ekonomi lebih optimal,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPD ASITA DKI Jakarta, Hasiyanna S. Ashadi menjelaskan ASITA berkomitmen untuk mendukung peningkatan sektor pariwisata.

Saat ini anggota ASITA mencapai sekitar 1.400 perusahaan yang terdiri dari biro perjalanan pariwisata (BPW) dan agen perjalanan wisata (APW), namun 800 perusahaan aktif. Bahkan  hanya sekitar 28 perusahaan diantaranya yang aktif dan fokus bergerak di bisnis inbound tour atau mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

“Namun dalam perkembangannya, core business pelaku usaha tidak hanya terpaku pada inbound business atau outbound business. Apa saja dikerjakan. Inbound, outbound, domestik, haji dan umrah, MICE,” kata Hasiyanna S. Ashadi.

Bahkan di Bali, 85 persen adalah pemain bisnis inbound tour. Karena di sana paling banyak masuk wisatawan mancanegara. Tetapi di Jakarta, banyak pemain domestik dan outbound, karena daya beli masyarakatnya tinggi.

Dalam pelaksanaan tugasnya, operator tur menghadapi berbagai tantangan, khususnya terkait sumber daya manusia dan teknologi. Operator tur memiliki peran multifungsi, yakni mencakup tourist information center, advisor, travel planner atau travel designer, operasional yang menangani wisatawan selama berada di destinasi, dan customer service.

Untuk itu operator tur membutuhkan talenta-talenta pemikir dan perancang, eksekutor di lapangan, front liners pemasaran dan penjualan, dan layanan pelanggan. Aktivitas operator tur menghadapi tantangan mulai dari aksesibilitas, amenitas, atraksi, hingga pengemasan dan komunikasi kepada konsumen yang tepat.

Selain itu, di era digitalisasi pelaku industri pariwisata menghadapi tantangan teknologi untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Internet of things (IoT) menciptakan gelombang disrupsi dan telah mengubah cara bepergian danbagaimana bisnis pariwisata dilakukan.

Cara membangun Moments of Truthdengan klien, wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara, sudah berubah. Kemudahan, kecepatan, dan bebas hambatan menjadi bagian dari pelayanan yang tidak terpisahkan selain hospitality dan sentuhan personal (human touch). Namun demikian, hospitality dan sentuhan personal membuat industri pariwisata menjadi unik dan menarik.



  • Tentang Penulis

    Budi Prihantoro

    Jurnalis Radio Republik Indonesia | RRI Jakarta | email: budiprihantoro811@gmail.com

  • Tentang Editor

    Budi Prihantoro

    Jurnalis Radio Republik Indonesia | RRI Jakarta | email: budiprihantoro811@gmail.com

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00