Fenomena Kenaikan Harga Bawang
Penulis: Widhie Kurniawan

KBRN, Jakarta : Harga Bawang pada sejumlah daerah di tanah air hingga kini masih tinggi, baik itu bawang merah maupun  bawang putih. Akan tetapi  uniknya,  kendati harga bawang di pasaran pada setiap daerah naik di atas harga normal, namun kenaikannya sangat bervariasi.

Pihak pemerintah, pakar maupun pengamat sudah memberikan analisisnya mengenai kenaikan harga bawang merah dan putih di atas rata-rata normal sebelum ini. Pada umumya pandangan mereka hampir seragam, yakni penyebab kenaikan itu berbeda namun dampaknya tetap sama, yakni harganya naik.

Untuk bawang putih, yang memang kebanyakan merupakan barang import dari China dan India, kenaikan terjadi karena stok langka di pasaran disebabkan terlambatnya rekomendasi import dari kementerian teknis.

Sedangkan untuk bawang merah, stok langka karena hasil hasil panen pada sentra produksi bawang merah di Jawa terganggu akibat banjir beberapa waktu lalu.

Uniknya, kenaikan harga pada masing-masing daerah sangat beragam dan tidak selalu terkait dengan stok barang. Sebutlah misalnya di Sulawesi Tengah. Wilayah tersebut sangat terkenal akan produksi bawang merah dan bawang goreng. Tidak ada bencana alam, tidak ada gagal panen dan stok cukup tersedia, tetapi harganya naik hingga 2 atau tiga kali lipat per kilogram.

Pasti ini tidak dapat dijelaskan oleh hukum pasar. Untuk di Jawa, khususnya wilayah Brebes sebagai sentra penting produksi bawang merah, kondisinya memang nyata, yakni ada bencana banjir yang mengganggu tanaman bawang merah.

Dalam pantauan RRI, tingkat harga pada masing-masing daerah juga sangat beragam. Untuk bawang merah ada yang naik menjadi Rp 30 ribu, Rp 40 ribu hingga Rp 75 ribu per kilogram. Sedangkan harga bawang putih naik dan lebih mahal dibandingkan bawang merah, mulai dari Rp 40 ribu, Rp 60 ribu, Rp 80 ribu, bahkan ada yang hingga Rp 100 ribu perkilogramnya.

Kenaikan harga  yang sangat bervariasi tersebut memunculkan pertanyaan… apakah ini murni karena berkurangnya stok, karena perilaku pedagang dan spekulan atau karena kondisi panik. Artinya, ada sebuah fakta bahwa kenaikan harga bawang merah dan bawang putih tidak melulu disebabkan berkurangnya stok.

Perilaku atau ulah spekulan dan pedagang sangat memungkinkan. Belum lagi kondisi panik akibat pemberitaan media massa.

Pada satu sisi, pemberitaan media massa telah mengungkapkan fakta dan mendorong pengambil kebijakan untuk melakukan langkah penanganan masalah harga bawang. Akan tetapi di sisi lain, pemberitaan media massa telah memunculkan kondisi panik dan spekulasi di kalangan pembeli maupun penjual. Ini kondisi yang mengkhawatirkan.

Parahnya, pemerintah ternyata tidak dapat berbuat banyak untuk menangani masalah ini. Memang lagi-lagi pemerintah yang salah, karena mereka pemegang otoritas mengatur negeri ini.

Bukan mustahil, besok, lusa atau buan depan atau tahun depan akan muncul lagi masalah serupa, dengan produk yang berbeda, dapat itu kenaikan harga cabai merah, daging, susu, semen, atau beragam barang lainnya yang sangat pokok di tengah masyarakat. Inilah ironi Negara kita. Negara yang dikuasi para pedagang dan spekulan.  Sekian Komentar. (Widhie/DS/AKS)

Komentar Anda:

EDITORIAL


copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional