Bentrok TNI vs Polri Berulang Kembali
Penulis: Widhie Kurniawan

KBRN, Jakarta: Joni Effendi, warga Lampung, dan disebut-sebut oknum anggota TNI tewas dihakimi massa di depan Pasar Koga, Bandar Lampung,  setelah membawa lari tas milik pegawai Bank BTPN, Sabtu lalu.

Sebelum dihakimi massa, Joni terlibat baku tembak dengan Brigadir Wildan F, anggota Reserse Kriminal Polresta Bandar Lampung.

Kasus ini, murni adalah kasus kriminal, sehingga potensi konflik yang akan berkembang mudah dielakkan.  

Akan tetapi, ketika terjadi penembakan terhadap seorang anggota TNI oleh anggota kepolisian hingga mengakiatkan Korban tewas, maka ada kemungkinan muncul konflik baru karena penyebab peristiwa tersebut tidak mengindikasikan peristiwa kriminal.  

Apresiasi mungkin layak ditujukan kepada aparat Tentara Nasional Indonesia di Ogan Komering Ulu dengan mengamankan kawasan sekitar Polres OKU dari kemungkinan aksi lain yang akan timbul.  

Persoalan konflik, bentrok, keributan, atau apapun istilahnya antara oknum anggota Tentara Nasional Indonesia dengan oknum anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia,  sebenarnya bukan kali ini saja terjadi.  

Pada tahun 2012 lalu, sempat pula terjadi bentrok antar anggota Brigade Mobil atau Brimob dengan Prajurit Kostrad di Gorontalo. Dalam peristiwa itu satu anggota TNI tewas.  

Pada tahun 2008, ada bentrok antar anggota TNI dan anggota POLRI di Masohi, Maluku.  Peristiwa ini disebut bentrok karena sejumlah oknum anggota TNI disebut sempat membawa peralatan semi berat peluncur Granat untuk berhadapan  dengan aparat kepolisian setempat. 

Dalam bentrok itu, 2 anggota Polisi dan seorang anggota TNI tewas.  

Menurut catatan KONTRAS yang dirilis 2012, terjadi 26 kali bentrok TNI-Polri yang menewaskan 11 orang, tujuh dari Polri dan empat dari TNI. 47 Aparat dari dua institusi itu juga luka-luka.

Pimpinan Polri maupun TNI selalu menyebut peristiwa itu melibatkan oknum dan bukan institusi.  Memang ketika ditelisik, teryata penyebab konflik atau bentrok atau keributan antara oknum anggota Polri dan TNI bukan disebabkan masalah substansial.  Di Masohi tahun 2008, disebabkan kasus Kamar Kos, di OKU, disebut hanya karena soal ejek-mengejek, hal serupa juga terjadi dalam konflik di Gorontalo. 

Masalah ini memang bukan institusi, tetapi masalahnya oknum TNI dan POLRI adalah warga Negara khusus yang diberi kewenangan berlatih, memegang dan menggunakan senjata api.  Lazimnya, orang yang memiliki kewenangan khusus semacam itu, memiliki ego sangat tinggi.

Karena itu, sepanjang mereka masih memiliki kewenangan memegang dan menggunakan senjata api, maka ego itu masih akan tinggi, dan potensi konflik itu akan terus muncul.  

Untuk meredam konflik, mungkin saja untuk tidak mempersenjatai mereka.  Akan tetapi kalau anggota TNI dan POLRI tidak memegang senjata, munkin justru menjadi peluang dari para pencoleng yang kini juga bersenjata api.  

Juga nanti tidak ada bedanya seperti Satuan Pertahanan Sipil yang hanya bersenjata pentungan.  Persoalan pokoknya adalah soal ego (Widhei K/AKS-KBRN)

Komentar Anda:

EDITORIAL


copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional