Tujuh Hasil Kesepakatan APEC 2013
Penulis: Ida Bagus Alit Wiratmaja

KBRN, Jakarta : Hampir satu minggu, mata dan telinga dunia tertuju ke Indonesia, selama para pemimpin  yang tergabung dalam Forum Ekonomi negara-negara Asia Pasifik (APEC) melangsungkan pertemuan mereka di Nusa Dua, Bali.

Indonesia telah menjadi penyelengggara KTT APEC yang kedua kalinya,  setelah yang pertama berlangsung di Bogor tahun 1994.

Pertemuan puncak Pemimpin APEC 2013 di Bali yang berakhir Selasa, 8 Oktober berhasil menyepakati    sekitar tujuh aksi yang selaras dengan tema KTT APEC 2013, yaitu Ketahanan Asia Pasifik Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Global.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai tuan rumah, menyampaikan  hasil KTT APEC 2013 dan menilai bahwa  penyelengggaraan KTT telah  berjalan sukses dan menghasilkan kesepakatan dan komitment yang  produktif.

Perdana Menteri Malaysia, Datuk Najib memuji keberhasilan Indonesia  dalam penyelenggaraan KTT APEC.

Ada tujuh materi kesepakatan yang dicapai yaitu:

Pertama: berhubungan dengan  upaya  meningkatkan langkah dan komitment  mrnjalankan liberalisasi yang termaktub dalam Deklarasi Bogor.

Kedua: mereka sepakat meningkatkan perdagangan antar negara  ekonomi APEC dan lintas wilayah, termasuk fasilitasi perdagangan, peningkatan kapasitas serta pemberlakuan sistem perdagangan multilateral.

Ketiga: para Pemimpin APEC sepakat  mempercepat konektivitas  fisik, institusi, serta antar masyarakat di Asia Pasifik.

Keempat:  harapan adanya  satu tatanan strategis menghubungkan wilayah Indonesia melalui pembangunan dan investasi dalam berbagai infrastruktur.

Kelima: Para pemimpin ekonomi APEC juga berkomitmen mewujudkan pertumbuhan ekonomi global yang inklusif, kuat, seimbang, dan berkelanjutan.

Dalam  proses tersebut Indonesia  sepakat memfasilitasi keterlibatan usaha kecil menengah atau UKM,  kaum muda, dan kelompok wirausaha wanita.

Sehubungan dengan  kekhawatiran akan keterbatasan sumber daya, para pemimpin APEC juga ingin bekerja sama dalam memperkuat ketahanan pangan, ketahanan energi dan ketahanan pasokan air. Upaya itu juga untuk menjawab tantangan pertumbuhan populasi dan perubahan iklim di kawasan ini.

Ke enam, APEC juga bersepakat menjamin sinergitas dan tindakan saling melengkapi dalam hubungan multilateral dan regional lainnya, seperti halnya KTT Asia Timur dan Kelompok G20.

Kesepakatan ketujuh adalah mengembangkan kerja sama sektor bisnis melalui Dewan Penasihat Bisnis APEC (ABAC) yang merupakan hal penting dalam upaya mencapai sebuah iklim investasi dan perdagangan bebas.

APEC adalah forum kerjasama ekonomi beranggotakan 21 negara  di Asia Pasifik yang bertujuan mempromosikan perdagangan bebas dan kerjasama ekonomi di kawasan. Setelah sukses  KTT APEC di Bali, akan dilanjutkan  tahun 2014  di China.

Semoga kerjasama yang erat diantara negara-negara ekonomi APEC akan dapat mengembangkan iklim mutual benefit atau saling menguntungkan, terutama pada saat ekonomi global masih belum pulih.

Dalam kondisi ekonomi global yang melemah, maka APEC menjadi sangat penting dan menghadapi tantangan serius  dalam menjaga pertumbuhan ekonomi kawasan, karena berdasarkan laporan WTO bahwa nilai pertumbuhan perdagangan dunia sekarang ini hanya 3,3 persen atau berada jauh dibawah rata-rata dalam 20 tahun terakhir yang mencapai 5,3 persen.

Sebagaimana juga dikatakan oleh Presiden China, Xi Jinping bahwa proses pemulihan ekonomi dunia akan berlangsung lama dan berliku. Namun demikian, peranan  APEC menjadi semakin strategis dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sehat serta  memperkuat kerjasama makro-ekonomi. (IBAW/DS/WDA)

Komentar Anda:

EDITORIAL


copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional