Penjelasan Tentang proses Hukum kasus Wilfrida Soik
Tgl: 23/09/2013 12:02 Reporter: Munarsih Sahana

KBRN, Kuala Lumpur : Sejak awal terjadi pembunuhan tanggal 7 Desember 2010 dengan tersangka Wilfrida Soik asal Belu Nusa tenggara Timur, pemerintah Indonesia melalui KBRI Kuala Lumpur menyewa tim pengacara untuk melakukan pembelaan kepada gadis yang diberangkatkan untuk bekerja di Malaysia melalui agen perseorangan tersebut.

Ketua Satgas Pelayanan dan Perlindungan TKI KBRI Kuala Lumpur Dino Nurwahyudin mengatakan, sidang terakhir kasus tersebut berlangsung 26 Agustus 2013 lalu dengan agenda penyampaian argumentasi pihak jaksa untuk kemudian hakim akan menentukan apakah kasus tersebut memiliki dasar hukum yang kuat (prima facie) sebagai suatu tindak kriminal.

"Selanjutnya hakim akan menyampaikan putusan (sela) tanggal 30 september 2013. Jika hakim menentukan ada dasar hukum yang kuat maka sidang akan dilanjutkan pada tanggal 1 Oktober 2013 dengan memberikan kesempatan pihak Wilfrida melakukan pembelaan terhadap tuntutan jaksa," kata Dino Nurwahyudin.

Pada sidang sidang sebelumnya telah diperiksa 24 saksi termasuk dari pihak majikan, forensik dan tim investigasi lainnya untuk memperkuat tuntutan jaksa. Jaksa telah menuntut wilfrida hukuman mati karena menurut jaksa melalui sidang-sidang sebelumnya bahwa is telah melakukan pembunuhan terhadap majikannya Yeap Seok Pen dengan 42 tusukan.

"Tetapi dari 24 saksi yang telah diajukan jaksa, Tim pengacara yang disewa pemerintah Indonesia telah melihat bukti bahwasanya tidak ada rencana Wilfrida melakukan pembunuhan. sebab, ketika peristiwa pembunuhan terjadi Wilfrida baru bekerja selama 2 minggu dan selama waktu tersebut tidak ada persoalan dalam hubungan antara Wilfrida dengan majikan," tambah Dino.

"Dengan kata lain, bisa saja tindakan membunuh tersebut sebagai tindakan spontan untuk  membela diri sehingga hukumannya bukan hukuman mati. sehingga tim pengacara berkeyakinan tidak ada motif Wilfrida melakukan pembunuhan terhadap majikannya," tegas Dino.

Tim pembela Wilfrida juga mendalami lebih jauh pernyataan yang diberikan oleh ilfrida sendiri bahwa saat terjadi peristiwa pembunuhan umur Wilfrida masih dibawah 18 tahun (belum dewasa), berbeda dengan yang tertera di paspor yaitu 21 tahun.

Menurut Dino Nurwahyudin, pihak KBRI Kuala Lumpur selama ini telah bekerjasama dengan pihak pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur termasuk pihak DPRD. Meraka akan membuktikan dengan memberikan kesaksian bahwa umur Wilfrida masih dibawah 18 tahun ketika pembunuhan terjadi. Terdapat catatan ketika dilakukan pembaptisan terhadap Wilfrida ketika lahir.

Setelah putusan sela dari hakim tanggal 30 September 2013, persidangan tingkat pertama di Kota Bharu Kelantan akan dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi untuk meringankan Wilfrida diantaranya mereka yang didatangkan dari NTT. (Munarsih Sahana/HF)


Audio


Komentar Anda:

copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional