BNPB: 500 Kabupaten/Kota di Indonesia Rawan Bencana
Tgl: 03/09/2013 21:31 Reporter: Sugandi

KBRN, Jakarta : Indonesia merupakan negara rawan bencana. Yang paling dominan untuk tahun 2013 adalah banjir, tanah longsor dan angin puting beliung, termasuk di dalamnya adalah kebakaran hutan.

Direktur Pengurangan Resiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lilik Kurniawan, mengatakan, ada 500 kabupaten/kota di Indonesia yang rawan bencana. Oleh karena itu, upaya preventif melalui pengurangan resiko bencana harus menjadi perhatian bencana.

Jika dahulu pasif seolah menunggu bencana, namun setelah kejadian tsunami di Aceh tahun 2002 dan gempa bumi di Yogyakarta, upaya preventif didahulukan, terlebih sudah ada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007.

“Upaya preventif dalam mengurangi resiko bencana dan ini penting bagi kita,” Lilik Kurniawan, dalam perbincangan dengan Pro 3 RRI, Selasa (3/9/2013).

BNPB telah melakukan pemetaan wilayah rawan bencana. Untuk gempa bumi, terdapat 386 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk 157 juta jiwa yang tinggal di daerah rawan tinggi dan sangat tinggi dari bahaya gempa bumi di Indonesia. Sumber gempa yaitu daerah subduksi dan sesar di daratan.

Untuk tsunami, terdapat 233 kabupaten/kota dengan penduduk 5 juta jiwa yang berada pada daerah rawan tsunami di Indonesia. Dalam kurun waktu  1629-2012 terjadi 172 bencana tsunami di Indonesia. Kemudian, sebanyak 75 kabupaten/kota berada di wilayah potensi erupsi gunung api dengan 3,8 juta jiwa penduduk tinggal di sekitarnya.

“Ada 12 ancaman bencana, mulai dari gempa sampai endemik  penyakit. Penyakit bisa menjadi bencana utama dan sekunder. Misal kalau penanganan gempa lama, maka akan timbul penyakit,” jelasnya.

Lilik mengklaim untuk responsif dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah sudah baik dan pelatihan sumber daya manusia akan terus ditingkatkan. BNPB juga mendorong kerjasama dengan pemerintah daerah.

BNPB juga memiliki program “Sekolah Aman dari Bencana”. Sekolah tersebut sudah ada di tiap-tiap provinsi, kendati jumlahnya belum banyak.

“Bagaimana mengajarkan agar siswa dan guru takala ada bencana agar siaga dan tau apa yang dilakukan saat ada bencana,” jelasnya. (Sgd/HF)


Audio


Komentar Anda:

copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional