Tersangka Kasus Pembunuhan Berantai di Bukittinggi Tewas Gantung Diri
Tgl: 30/07/2013 21:24 Reporter: Yudi Prama Agustino

KBRN, Bukittinggi : Tersangka pembunuhan berencana melalui jejaring sosial Facebook, Wisnu Sadewa (31) atau yang akrab disapa Brekele, ditemukan tewas gantung diri di dalam ruang tahanan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Biaro, Selasa (30/7/2013). Diduga kuat Brekele mengakhiri hidupnya karena tertekan dan mengalami stress tingkat tinggi.

Dari keterangan Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan dan Keperawatan (Bimaswat) LP Biaro, Hendrizal F, awal tewasnya Brekele ditemukan oleh Deri Sandra, seorang petugas kebersihan yang lagi dinas di Blok C, sekitar pukul 07.30 WIB.

“Brekele ditemukan tewas dalam kondisi masih tergantung menghadap ke belakang di pintu kamar mandi, dengan mengenakan baju koko dan bercelana pendek tanpa menggunakan alas kaki. Pada lehernya terjerat dua utas tali sepatu yang digabung menjadi satu, sementara pada ujung jari kaki sedikit menyentuh lantai. Lidah Brekele tampak terjulur ke depan dan sedikit tergigit oleh giginya yang rapat,” terangnya.

Menurut Hendrizal F, Brekele baru beberapa hari berada di LP Biaro. Ia masuk LP Biaro sekitar pukul 11.00 WIB pada Jumat 26 Juli 2013 lalu. Di dalam LP, Brekele ditempatkan di Blok C ruangan Masa Pengenalan Lingkungan atau Mapenaling. Di ruangan itu ada tiga kamar, Brekele ada di kamar tengah sendirian, dengan ukuran kamar sekitar dua kali empat meter.

“Terakhir petugas melihat Brekele pada Selasa (30/7) dinihari sekitar pukul 01.00 WIB dalam keadaan sehat walafiat dan tidak ada menampakan gelagat aneh. Waktu itu petugas mengantarkan makanan dan minuman untuk kebutuhan sahur para tahanan. Diduga Brekele gantung diri antara pukul 01.10 WIB sampai pukul 07.00 WIB,“ katanya.

Hendrizal juga menjelaskan, Selama empat hari di LP Biaro, Brekele tidak menampakan tingkah aneh dan cenderung agak pendiam. Juga tidak ada aksi Brekele yang berusaha melakukan percobaan bunuh diri. Jadi wajar saja jika petugas LP terkejut menemukan Brekele dalam keadaan tak bernyawa.

Terkait tewasnya Brekele, Kejaksaan Negeri Bukitinggi akhirnya menghentikan kasus pembunuhan itu. Menurut pengakuan Eva Susanti, salah seorang jaksa yang rencananya menjadi Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus ini, berkas perkara pembunuhan berencana dengan tersangka Wisnu Sadewa atau Brekele dinyatakan telah lengkap (P21) dan kasusnya telah dilimpahkan dari kepolisian kepada kejaksaan.

“Meski dakwaan yang tebalnya lebih dari 500 halaman telah dipersiapkan, namun belum ada ketetapan yang dilakukan kejaksaan terkait penetapan jadwal sidang. Rencananya, kasus Brekele akan mulai di mejahijaukan setelah lebaran 2013 ini. Namun sebelum itu terjadi, Brekele telah duluan dipanggil Yang Maha Kuasa,“ ungkapnya.

Menyikapi masalah ini, Kapolres Kota Bukittinggi Eko Nugrohadi belum bisa menyimpulkan apakah Brekele murni bunuh diri atau tidak. Menurutnya, pihaknya sekarang sedang menunggu hasil otopsi yang dilakukan di RSAM Achmad Mochtar Bukittinggi. Kapolres juga belum berani menyimpulkan motif apa dibalik kejadian ini.

“Kami telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara. Beberapa barang bukti juga telah diamankan. Kami masih akan memeriksa beberapa orang saksi lagi terkait tewasnya tersangka Brekele ini,” jelas Kapolres

Brekele yang membunuh dua korban itu ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana dan ditangkap petugas sekitar pukul 16.00 WIB pada Senin 29 April 2013. Brekele telah membunuh Rusyda Nabila (16) panggilan Bila, warga Sungai Puar Agam, pada 20 Maret 2013 lalu. Jenazah korban ditemukan Senin 29 April 2013 sekitar pukul 22.00 WIB di kawasan Pakan Sinayan Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam.

Tidak hanya itu, petugas kepolisian juga menemukan jenazah korban lainnya sekitar pukul 11.30 WIB pada hari Rabu 1 Mei 2013 di kawasan Lungguak Batu Jorong Koto Gadang Kabupaten Agam. Jenazah itu adalah jasad Nefrida Yanti (23), warga Kampung Caniago Tangah Jorong Balai Badak Nagari Batu Kambing Kecamatan Ampek Nagari Kabupaten Agam.

Dalam melakukan aksinya, tersangka menggunakan jejaring sosial Facebook. Untuk membujuk agar bisa bertemu korban yang berjenis kelamin perempuan, tersangka menggunakan nama palsu di Facebook dengan nama perempuan, yang didukung dengan foto perempuan. Tersangka juga selalu minta nomor hp korbannya lalu diajak ketemuan untuk dibunuh, lalu dirampas harta bendanya.

Kepada penyidik kepolisian, tersangka pembunuhan itu mengaku aksi tunggalnya itu dilakukan untuk merampas seluruh harta yang dipakai korbannya dengan cara apapun, termasuk dengan membunuhnya. Tersangka juga mengaku sangat membutuhkan uang banyak untuk biaya istrinya yang sedang hamil.

Dalam kasus ini, tersangka dijerat pasal 340 jo 338 KUHP jo pasal 80 ayat 3 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Tersangka juga bisa terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup, karena telah melakukan pembunuhan berencana.

Dari hasil penyelidikan petugas kepolisian bersama sejumlah operator seluler, diketahui ada empat orang lainnya yang telah berjanji untuk bertemu dengan tersangka. Diduga kuat empat orang itu menjadi target pembunuhan tersangka. Namun sebelum terjadi, rencana jahat itu telah digagalkan Polres Kota Bukittinggi. (Yudi/WDA)


Komentar Anda:

copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional