Perdagangan Telur Penyu Marak di Pasar Tradisional
Tgl: 19/06/2013 15:09 Reporter: Antonia Sinaga

KBRN, Bengkulu : Pengambilan dan perdagangan telur penyu menjadi salah satu ancaman serius bagi kelestarian satwa liar yang dilindungi berdasarkan Undang-undang nomor 5 tahun tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Berdasarkan pengamatan RRI, Rabu (19/6/2013) di salah satu Pasar Tradisional di Kota Bengkulu, telur-telur penyu yang biasa disebut masyarakat setempat “Telur Katung” itu hampir dapat ditemui setiap hari (bila musim penyu bertelur-red) yang dijual oleh para pedagang ikan laut, bahkan diletakkan ditempat terbuka di atas lapak berjualan mereka dan bisa terlihat oleh pembeli.

Kendati pedagang mengetahui penjualan telur penyu dilarang dan bisa diganjar sanksi pidana, namun tetap saja tingginya minat konsumsi telur ini, menjadi latar belakang penjual menyediakan telur penyu.

Sebut saja Ujang, salah seorang penjual ikan yang menyediakan telur penyu, dirinya mendapatkan pasokan dari nelayan yang mengambil telur di sekitaran wilayah Kabupaten Bengkulu Utara. Bahkan 3 hari yang lalu, Ujang menjual lebih dari 1.000 butir telur penyu dan kemarin dirinya kembali menjual 200 butir yang juga habis terjual dalam waktu singkat.

"Kemarin kami jual lebih dari 1.000 butir, hari ini cuma sekitar 200. Kadang kalo musim bisa tiap hari, tapi kadang jugo 3 hari sekali baru ado. Mau berapo?"ungkapnya menawarkan.

Telur penyu tersebut dijual dengan harga berkisar 15 ribu rupiah untuk satu butir telur penyu ukuran besar dan ukuran kecil sekitar 8 ribu sampai 6 ribu rupiah per butir.

"Macam-macam dek hargonyo, ado yang sebesak bola kasti bisa 15.000 ado yang 8.000, tapi kalau yang sebesak bola pimpong ini sekitar 6.000 lah." tambahnya.

Ujang juga melayani sistem pemesanan terhadap pelanggannya, sehingga bila pasokan telur tiba, dirinya akan menghubungi calon pembeli melalui telepon.

"Nanti kalau ado telur kami sisihkan, tinggalkan ajo nomor hp nyo." katanya kemudian.

Kendati praktek perdagangan telur penyu tersebut dengan mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional di Kota Bengkulu, namun belum ada langkah tegas yang dilakukan pihak BKSDA Bengkulu selaku stakeholder yang berwewenang melakukan penindakan.

Kepala BKSDA Bengkulu, Anggoro Dwi Sujianto, berkilah pihaknya baru akan melakukan pemantauan di pasar dan memberikan sosialisasi pada pedagang dengan alasan kemungkinan para pedagang tidak mengetahui bila perdagangan telur penyu dilarang dan melanggar  undang-undang. (Antonia/WDA)


Audio


Komentar Anda:


copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional