Aksi Terorisme Akibat Ketidakadilan
Tgl: 10/05/2013 07:32 Reporter: Sugandi

KBRN, Jakarta:  Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri telah berhasil melumpuhkan 20 terduga teroris di sejumlah lokasi sejak Selasa (7/5/2013). Lokasi tersebut antara lain Jakarta, Bandung, Batang, dan Kendal, serta  Kebumen.

Namun ancaman teroris patut diwaspadai karena sejumlah ‘pentolan’ teroris di tanah air masih buron seperti Santoso alias Santo alias Abu Wardah dan Taufik Taufik Bulaga alias Upik Lawanga. Keduanya terlibat sejumlah kasus teror di tanah air seperti Poso dan mahir merakit bom.

Anggota Komisi I, Muhammad Najib mengatakan maraknya teror akibat ketidakadilan global. Invansi Irak dan Afganistan oleh  Amerika dan Eropa menjadi motivasi untuk mereka melakukan aksi teror. Kelompok kecil Umat Islam yang kecewa dengan tindakan  Amerika dan sekutunya yang dinilai dzolim dan menerapkan standar ganda, kemudian memiliki cara sendiri untuk balas dendam salah satunya dengan melakukan teror di tanah air.

“Ini kan imbas dari situasi global dimana terjadi ketidakadilan yang bermuara seperti perang Afganistan, Irak atau pendekatan secara politis tidak bisa diterima oleh kelompok masyarakat,” kata Muhammad Najib, dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Jumat (10/5/2013).

Aksi teror oleh kelompok teroris, ujar politikus Partai Amanat Nasional, tidak ada hubungannya dengan Indonesia. Indonesia hanya terkena imbas dari isu global khususnya yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Ditambahkan sudah seharusnya pemberantasan terorisme tidak melulu dengan angkat senjata, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Pemberantasan terorisme bukan hanya tugas dari Kepolisian Republik Indonesia semata, namun tugas lintas kementerian, ulama dan masyarakat.

“Penyelesian tidak hanya dengan senjata  tetapi ada hal yang lebih subtansial yang sering kurang mendapatkan perhatian. Pendakatan seperti itu hanya menyentuh kulit luar saja tetapi tidak didalam,” jelasnya. (Sgd/AKS)


Audio


Komentar Anda:

copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional