Krisis di Eropa dan Amerika, Pengaruhi Nilai Jual Kopi Gayo
Tgl: 04/05/2013 19:33 Reporter: Iwan Bahagia S Paoki

KBRN, Takengon : Harga kopi di Gayo istilah lain daerah Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah mengalami penurunan drastis sejak enam bulan terakhir.

Win Ruhdi Bathin misalnya, salah seorang petani kopi yang tinggal di Kampung Paya Serngi Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah mengatakan faktor penurunan tersebut menurut sejumlah eksportir yang ia temui adalah karena krisis ekonomi di negara-negara Eropa dan Amerika, sehingga daya beli mereka juga berkurang.

“Kita semua tau, dua Kabupaten inikan penghasil kopi arabika terbesar di asia tenggara, jadi kata pengusaha disini krisis yang dialami negara-negara eropa dan amerika berpengaruh terhadap pembelian mereka”, kata Win Ruhdi.

Sementara mereka mengalami krisis, produksi kopi di dua Kabupaten ini mengalami peningkatan drastis, sehingga ketidakseimbangan antara pembelian yang minim dan produksi yang banyak, mengakibatkan terganggunya ekonomi kopi para petani diwilayah dataran tinggi tersebut.

“Ya petani mengalami kerugian, karena para agen menunda memberikan uang cash kepada para petani, karena alasan kopi yang mereka beli belum laku terjual”, keluhnya.

Win berharap para petani kopi seperti dirinya dapat menikmati harga yang normal sebagai mana mestinya, agar kehidupan ekonomi mereka juga berjalan normal tanpa terhambat apapun, karena sudah enam bulan kenaikan ini berlangsung.

“Semoga harga kopi cepat normal, karena kami para petani ingin menikmati harga yang normal juga”, harap Win Ruhdi.

Informasi yang diperoleh RRI Takengon, harga kopi di Gayo, sebutan lain suku kedua terbesar di Aceh tersebut mengalami penurunan signifikan, harga kopi gelondongan misalnya dari kisaran harga Rp55.000 perkaleng (14 Kg) turun menjadi Rp40.000 hingga Rp45.000.

Harga gabah (kopi masih berkulit tanduk-red) turun dari harga semula Rp18.000 per 1,2 Kg turun pada kisaran Rp12.000 hingga Rp16.000. Demikian juga dengan Green Been (Kopi Beras), dari harga semula Rp42.000 hingga Rp48.000 perkilogram menjadi Rp25.000 hingga Rp35.000 perkilogram. (Iwan/WDA)


Audio


Komentar Anda:

copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional