Penegakan Hukum Lemah, Industri Arak Merajalela di Sintang
Tgl: 16/04/2013 17:36 Reporter: Taufik Hidayat

KBRN, Sintang : Kinerja jajaran Polres Sintang melakukan penggerebekan home industry pembuatan arak di Dusun Kajang Desa Gurung Kempadik Kecamatan Sungai Tebelian beberapa waktu lalu patut mendapatkan apresiasi.

Kendati demikian, bukan berarti langkah tersebut hanya berhenti sampai disitu, dan terkesan hanya pemenuhan target kasus untuk sebuah pencitraan. Disinyalir masih banyak tempat pembuatan maupun penjualan arak di dalam kota, bahkan di dekat kantor polisi sekalipun.

“Tak usah jauh-jauh, di dekat Polres ada tempat penjualan arak. Sampai sekarang luput dari tindakan petugas. Apakah sengaja atau tidak, biarlah masyarakat yang menilainya,” ujar salah seorang sumber yang minta namanya dirahasiakan, Selasa (16/4/2013).

Menurut sumber ini, lokasi penjualan arak hanya berjarak sekitar 500 meter dari Polres Sintang. Arak dijual sudah dalam bentuk kampelan. Jenispun beragam.

“Ada arak putih, ada juga AO. Satu kampel Rp10 ribu,” ucapnya.

Bukan hanya dekat Markas Polres Sintang, lanjut sumber ini, di dekat Polsek Kota Sintang pun terdapat tempat penjualan arak. Informasi dihimpun Rakyat Kalbar, tata cara penjualan arak di tempat ini terselubung rapi. Misalnya melalui lobang pintu teralis besi atau melalui teralis besi jendela jika lewat belakang rumah. Pintu tetap tertutup dan pembeli cukup di luar teralis. Jika penjual sudah tutup, ketukan pintu pun ada kodenya.

Minuman sumber malapetaka ini terkesan diberantas setengah hati. Padahal tidak ada ijin resmi sedikitpun baik untuk minuman maupun tempat pelaku usaha. Tapi apa mau dikata? Sangsi terhadap pelaku pembuat maupun penjual tak memberikan efek jera. Mereka hanya dikenakan Tindak Pidana Ringan (Tipiring).  

“Kita tidak pernah mengeluarkan ijin Miras khususnya arak,” tegas Kepala Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (KPTSP) Sintang, H. Sudirman

Maraknya peredaran arak di Sintang membuat Bupati Sintang Milton Crosby gerah. Milton meminta instansi terkait bisa saling berkoordinasi guna memutus rantai pembuatan serta peredaran minuman keras tersebut.

“Sekarang memang sudah sangat memprihatinkan. Sangat berbahaya bagi generasi muda bahkan ada yang bilang arak ini di sebut air zam zam, sungguh luar biasa prilaku masyarakat yang buruk akibat miras ini,” kata Bupati.

Ditegaskan Milton, arak bukanlah minuman tradisional seperti tuak, sehingga dinilai penting untuk dilakukan penertiban.

“Kalau tuak tidak sembarangan. Minuman itu hanya diminum saat ada gawai, bukan seperti arak yang diminum setiap malam oleh muda mudi kita,” pungkas Milton. (Taufik/WDA)


Komentar Anda:

copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional