Pengusaha Cabe Jamu Sumenep Kewalahan Penuhi Pasar Luar Negeri
Tgl: 29/03/2013 19:38 Reporter: Moh Rasikin

KBRN, Sumenep : Potensi Cabe Jamu di Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur, menarik minat pasar luar negri. Buktinya, permintaan eksport Cabe Jamu ke Kabupaten Sumenep tiap tahun terus meningkat.

Diantara negara yang meminta pasokan Cabe Jamu ke Sumenep adalah Singapura, yang perbulannya permintaan mencapai 51  ton Cabe Jamu kering.

Naufal Ali Hisyam, salah seorang pengusaha Cabe Jamu mengatakan, jika permintaan 51 ton perbulan Cabe Jamu di Sumenep sangat sulit untuk dipenuhi.

Hal itu, lanjutnya, dikarenakan budidaya Cabe Jamu di Kabupaten paling timur Pulau Madura ini tidak dilakukan secara menyeluruh dan terbina, melainkan hanya ditanam di pingir-pinggir lahan.

"Perbulanya saya cuma mampu mengirimkan 1,7 ton, karena selama semusim saya cuma mampu mengeksport 21 ton saja, jadi sangat jauh dari permintaan eksport," ungkapnya, Jumat (29/3/2013).

Naufal mengungkapkan, permintaan juga datang dari sejumlah negara-negara lain, seperti Malaysia, Cina, Timur Tengah, Eropa dan Amerika.  Cabe Jamu ini merupakan bahan dasar obat yang mengandung paracetamol.

Ditambahkan Naufal, tidak terpenuhinya permintaan pasar luar negeri itu  disebabkan ratusan pohon Cabe Jamu milik warga sudah ditebang, disebabkan sepuluh  tahun terakhir harganya anjlok hingga Rp10.000/kg.

"Baru sejak tahun 2010 lalu harganya tembus mencapai Rp70.000/kg, dan saat ini tahun 2013 ini  sudah mencapai Rp80.000/kg sehingga warga kembali baru membudidaya, karena pada saat tutup tahun biasanya akan semakin mahal," ungkapnya.

Dia juga menegaskan, jika tidak semua lahan bisa ditanami Cabe Jamu, sebab tanaman tersebut  akan tumbuh subur dan bagus hanya didataran tinggi, tidak lembab dan tanahnya penuh dengan kerikil.

"Untuk di  Jawa Timur, tanaman Cabe Jamu banyak juga tumbuh  di daerah Tuban, dan Lamongan, cuma untuk kwalitas dan kwantitas Sumenep lebih unggul, karena suhunya lebih panas," pungkasnya.

Pada tahun 2012 lalu hasil produksi Cabe Jamu dari data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sumenep 8500 ton, yang terbesar adalah Kecamatan Bluto, sekitar 2000 ton, kemudian Ganding, sekitar 1000 ton, serta Kecamatan Batang-batang sebanyak 500 ton. (Rasikin/DS/WDA)


Komentar Anda:

copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional