Pengangkatan Jabatan Struktural di Kemenag Sultra, Menuai Sorotan
Tgl: 11/03/2013 15:57 Reporter: Atto Raidi

KBRN,Kendari : Sekelompok Massa mengatasnamakan Forum masyarakat cinta damai ( Formacid) Sulawesi tenggara (Sultra) mendatangi Kantor wilayah (Kanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Sultra, Senin (11/03/2013) guna mempertanyakan pengangkatan dan mutasi jabatan di instansi tersebut yang diduga terjadi Kolusi dan Nepotisme.

Koordinator lapangan (Korlap) Formacid Sultra, Abdul Kadir Samai Dali dalam orasinya  dihadapan para pejabat kemenag sultra mengungkap fakta-fakta keteledoran Kakanwil Kemenag Sultra, Muchlis A.Mahmud dalam mengangkat dan memutasi pejabat struktural yang berprestasi di lingkup wilayah kerjanya.

Sorotan yang dilontarkan pimpinan Formacid itu seperti pengangkatan jabatan yang tidak berdasarkan kajian sesuai perundang-undangan dalam birokrasi, ditambah pengkerdilan putra daerah yang sudah berprestasi di lingkup kemenag sultra.

“ Disini terjadi KKN di Kanwil Agama ini, karena disini terjadi perebutan jabatan, ada apa dengan Kakanwil sultra ini.” Tanya Abdul kadir, sambil mengkritisi kinerja kakanwil Kemenag Sultra.

Atas dasar itu, Elemen masyarakat tersebut mendesak Kakanwil kemenag sultra untuk mengembalikan susunan kepegawaian yang telah di mutasi, serta meminta Muchlis A.Mahmud untuk hengkang dari Bumi Anoa sulawesi tenggara karena dianggap telah gagal dalam menjalankan tugas dan wewenangnya.

Kepala bidang penyelenggara haji,Kanwil Kemenag sultra, Thamrin yang menerima aspirasi itu mengungkapkan, dirinya akan meneruskan aspirasi itu kepada kakanwil kemenag sultra untuk disikapi.

“ Setahu saya pa muchlis belum ada yang dia ganti selama ini, justru yang terjadi promosi jabatan untuk mengukuhkan kembali jabatan yang ada.” Jawab Thamrin saat menyikapi aspirasi itu.

Tak puas dari pernyataan tersebut, salah seorang dari orator Formacid, Ichsan Sugionato menekankan jika tidak ada umpan balik dari respon pejabat Kemenag Sultra, maka hal itu akan diteruskan ke tingkat pusat, untuk ditindak lanjuti, sehingga tidak ada kesan pembiaran. (Atto R/BCS)


Audio


Komentar Anda:

copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional