Kasus Mutilasi, Psikolog Jangan Hanya Urus Orang Kaya
Tgl: 10/03/2013 16:52 Reporter: Sugandi

KBRN, Jakarta: Pembunuhan yang disertai dengan memotong tubuh korbannya, mengindikasikan ada yang tidak beres dengan kejiwaan sebagian masyarakat Indonesia.

Kasus mutilasi kecenderungannya terjadi kepada masyarakat ekonomi menengah bawah. Himpitan ekonomi, ketidak mampuan dalam mengontrol ekonomi, menjadi pemicu pelaku tega memotong-motong tubuh korban.

Ahli Kriminolog dari Universitas Indonesia Kasturius Sinaga mengatakan psikologi sudah seharusnya terjun ke masyarakat untuk membantu keluar dari depresi dan tekanan hidup. Diakui, jasa konseling selama ini terkesan hanya untuk masyarakat menengah atas.

“Alangkah baiknya psikolog kebawah bantu masyarakat  keluar dari depresi atau tekanan. Psikolog memang ramai untuk kalangan menengah  atas,” kata Kasturius Sinaga, dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Minggu (10/3/2013).

Pada umumnya kasus mutilasi terjadi antara korban dengan pelaku memiliki hubungan dekat seperti suami isteri atau orang tua dengan anak. Namun yang paling penting, pemerintah harus bertanggung jawab untuk kondisi sosial rakyatnya.

“Pemerintah harus membantu menyediakan tenaga konseling,” ujar Kasturius.


Dalam kasus mutilasi yang dilakukan oleh Benget Situmorang  35 tahun, dengan korban Darna Sri Astuti (32), yang merupakan isteri Benget, Polisi telah menetapkan tersangkat yaitu  Benget yang  dijerat Pasal 340 KUHP juncto Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara 20 tahun.

Adapun tersangka lain yaitu Tini, pembantu Benget.  Tini dikenai Pasal 55 KUHP juncto Pasal 56 KUHP juncto Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (Sgd/BCS)


Audio


Komentar Anda:

copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional