Mensos Puji Penutupan Lokalisasi di Surabaya
Tgl: 01/03/2013 16:16 Reporter: Indriatno Heryawan

KBRN, Surabaya : Komitmen Pemerintah Kota Surabaya dalam pengentasan pekerja seks komersial (PSK) dan penutupan lokalisasi menuai pujian dari Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri. Hal itu diungkapkan Mensos saat melakukan kunjungan kerja di Balai Kota, Jumat (1/3/2013).

Kunjungan kerja Mensos diawali dengan rapat koordinasi penanganan masalah kesejahteraan sosial di ruang sidang wali kota. Selain para pejabat pemkot dan muspida/muspika Surabaya, turut hadir pula Wakil Bupati Banyuwangi beserta jajarannya.

Mensos menilai Surabaya merupakan kota yang berhasil menekan angka prostitusi melalui pengentasan PSK dan penutupan lokalisasi. Upaya tersebut ditempuh dengan tetap mengedepankan aspek kemanusiaan. Program-program yang dicanangkan pemkot berupa pendampingan dan penyediaan lapangan pekerjaan bagi wanita harapan - sebutan bagi mantan PSK - mendapat apresiasi dari Mensos.

“Terus terang, saya sudah berkeliling propinsi, kabupaten dan kota tapi belum pernah menjumpai program yang seperti ini. Saya sangat salut. Ini bisa jadi pilot project nasional,” ujarnya.

Menurut Salim Segaf Al Jufri, umumnya kendala yang dihadapi saat hendak menutup lokalisasi adalah peralihan ke profesi baru. Itu lantaran pendapatan yang bakal diterima PSK setelah mentas bisa jadi lebih sedikit. Oleh karenanya, penyediaan lapangan kerja menjadi solusi yang paling pas, agar wanita harapan ke depan bisa mandiri.

“Yang terpenting adalah ketika beralih profesi mereka bisa mendapat penghasilan yang tak jauh beda dari sebelumnya, dan yang pasti harus halal,” kata menteri dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Intinya, Kemensos siap mendukung sepenuhnya upaya pemkot dalam revitalisasi kawasan lokalisasi.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memaparkan, tahun ini pemkot berencana menutup tiga lokalisasi. Ketiga lokalisasi yang dimaksud yakni Tambak Asri (April 2013), Klakah Rejo (Agustus 2013), dan Sememi (Desember 2013). Sedangkan Lokalisasi Dolly dan Jarak diagendakan tutup pada 2014.

Rincian kondisi lokalisasi yang bakal tutup tahun 2013 yakni Tambak Asri: 96 wisma, 96 mucikari, 354 PSK; Klakahrejo: 70 wisma, 65 mucikari, 219 PSK; dan Sememi: 32 wisma, 22 orang, 208 PSK.

Dikatakan Risma - panggilan akrab Wali Kota - jumlah PSK dan mucikari di Surabaya tiap tahun mengalami penurunan. Hal itu dikarenakan adanya kesepakatan tentang larangan penambahan PSK baru.

“Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan terus melakukan pemantauan. Jika ketahuan ada PSK baru, wisma yang bersangkutan disanksi tutup,” tuturnya.

Data terbaru, pada 2012 jumlah PSK yang teridentifikasi sebanyak 2.117 orang dan mucikari 584 orang. Sebagai pembanding, pada 2008 lalu, masih dijumpai 3.518 PSK dan 915 mucikari di Surabaya.

Wali Kota perempuan pertama di Surabaya itu juga menyatakan, pasca penutupan pihaknya tak serta merta lepas tangan. Pemkot terus memonitor dan mendampingi eks PSK dan mucikari. Berdasarkan pantauan, mereka banyak yang menekuni usaha kecil atau pulang ke kampung halamannya.

Diakui Risma, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu senjata andalan agar wanita harapan mandiri dalam berwirausaha.

“Saat ini wanita harapan sudah banyak yang menerima order-an membuat sovenir dan oleh-oleh khas Surabaya. Dalam waktu dekat, kami juga akan membangun pasar serta sentra PKL di Tambak Asri agar mereka bisa berjualan di situ,” ungkapnya.

Sementara menanggapi potensi metamorfosis ke bentuk prostitusi lainnya jika lokalisasi ditutup, Wali Kota menyatakan pihaknya sudah mengantisipasi dengan menggencarkan sweeping di tempat-tempat hiburan malam. Langkah pencegahan juga dilakukan dengan rajin sosialisasi ke sekolah-sekolah dan razia di mal-mal. (Indriatno/HF)


Komentar Anda:


copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional